Kebun Belakang Rumah

Di Bangko, kami tinggal di kawasan Pematang Kandis. Sekitar lima menit dari pusat kota dan kantor. Belakang rumah kontrakan kami adalah jurang dan di bawahnya ada kebun sawit dan kebun karet. Sebagai daerah tujuan transmigrasi, banyak warga Bangko menanam kelapa sawit dan karet sebagai penopang hidup. Salah satunya warga di lingkungan sekitar kami.

Hampir tiap pagi gerombolan monyet liar ekor panjang -disini disebut dengan simpai- datang ke halaman belakang rumah untuk mencuri pisang. Beruntungnya, mereka tidak sampai masuk ke dalam rumah.

Suatu pagi, saya ingin mengajak Nia untuk melihat suasana kebun karet di belakang rumah kami. Syukur-syukur bertemu dengan monyet. “Onet onet!” begitu kata anak saya tiap melihat monyet di Bukit Tiung, kebun binatang mini di Bangko.

Akses menuju kebun karet dari rumah tidak susah. Dari rumah menuju Lorong Sejahtera, jalan menuju ke kebun karet hanya lima menit berjalan kaki. Akses masuk ke kebun karet belum diaspal, masih berupa jalan berbatu yang licin di kala hujan. Tak hanya kebun kosong, lorong ini juga dihuni oleh penduduk lho. Namun, kalau disuruh tinggal disini kok rasanya serem kalo malam.

Begitu sampai di kebun karet. Wow… keren lah. Instagrammable. Kebetulan sedang ada petani karet yang sedang menoreh getah. Si Nia sekalian belajar tentang pohon karet dan profesi petani karet. Sayang, di dalam kebun rupanya banyak nyamuk haha.. Lain kali, kalau DSC06614 DSC06592 DSC06605 DSC06606 DSC06607 DSC06608 DSC06613mau “jalan-jalan” ke kebun karet jangan lupa bawa lotion anti nyamuk. 

 

Iklan

29 comments

  1. sering lihat kebun karet kalau pulang ke Medan – Pematang Siantar tapi nga pernah singgah dan lihat langsung petani karet ngumpulin karet dari pohonnya. kangen bangat suasana seperti ini.

  2. Aku belum pernah jalan-jalan di kebun karet, seringnya lewat aja. Tapi kok rasanya serem ya? Sepi gitu. Kalau malam gelap banget pastinya di situ ya mas. Dikasih satu dua penerangan gak?

  3. Aku tiga bulan saja di bangko, kantorku dulu di pasar bawah merangin. Apa kabar restoran padang anugrah? Waktu hamil ngidam itu ga kesampean euy 😀

  4. dulu belakang rumah kami ada bekas kebun kare
    masih ada pohon karet yg masih bisa digores kulitnya dan keluar getah
    getah dioles di tangan bagian dalam, setelah kering bisa digulung jadi bola
    aah jadi kangen aroma getah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s