Sabang, Aceh : Surga Pariwisata Bahari Nanggroe

SABANG 2121

 

Pulo Rondo, kapal yang saya tumpangi perlahan meninggalkan Balohan. Kapal melaju semakin cepat menuju arah pulau Sumatera. Deru mesin kapal ditingkahi dengan riak-riak buih gelombang yang memutih. Saya duduk di belakang kapal. Wajah saya ditimpa angin yang bertiup sepoi. Saya lihat lagi bukit-bukit hijau yang mengelilingi pelabuhan. Semuanya hanya terdiam. Seakan ingin mengucapkan salam perpisahan. Saya hanya sehari menghabiskan waktu di Sabang. Namun, saya telanjur jatuh hati dengan Sabang. Karuan saja, saya tidak bisa untuk tidak larut dalam sedih dan rindu meninggalkan pulau cantik ini…

***

Dari Sabang sampai Merauke
Berjajar pulau-pulau
Sambung menyambung menjadi satu
Itulah Indonesia

Sebait lagu nasional karya R Suharjo sering bergema di telinga ketika saya SD. Seperti apakah wujud kota Sabang dan Merauke itu? Ayah lantas membelikan saya buku atlas. Sabang, sebuah kota di pulau di ujung Sumatra, begitu yang saya lihat di peta. Wujud Sabang yang sebenarnya masih mengambang dan berputar-putar dalam sanubari.  

Legenda Pulau Weh dan Sabang

Menurut saya, kota Sabang itu unik. Kota ini terdiri dari beberapa pulau yaitu pulau Weh, Rondo, Klah, Rubiah dan Seulako. Pulau terbesar sekaligus terpadat adalah pulau Weh. Uniknya, “kota Sabang” sebenarnya berada di pulau Weh. Sehingga, jika ada yang mengatakan “Kota Sabang ada di pulau Weh” atau “Pulau Weh ada di kota Sabang” adalah dua pernyataan yang sama-sama benar.

Dikutip dari Wikipedia, pulau Weh merupakan pulau vulkanik. Awalnya pulau ini tersambung dengan Pulau Sumatra. Pada zaman Pleistosen, letusan sebuah gunung berapi menghancurkan sebagian daratan pulau Weh sehingga antara pulau Weh dan pulau Sumatera terpisah oleh laut. Weh dalam bahasa Aceh bermakna “pindah”.

Asal usul pulau Weh terkait erat dengan kota Sabang. Secara etimologi, kata Sabang diambil dari bahasa Arab “shabag” yang artinya “gunung meletus”. Dinamai demikian mungkin karena di pulau Weh banyak ditemukan gunung berapi. Dua gunung yang bisa dijumpai saat ini adalah gunung berapi di bawah laut Pria Laot dan gunung berapi Jaboi.

kongsiSeorang pekerja kapal uap tampaknya hendak membawa anak gajah Sumatera untuk dibawa ke Eropa.
Foto : http://hijrahheiji.blogspot.co.id/

Pada masa kesultanan Aceh, Sabang hanyalah sebuah kampung nelayan yang sepi. Sejak Aceh jatuh ke tangan Belanda, pemerintah kolonial menguasai kota Sabang. Pada tahun 1895, perusahaan Sabang Maatschappij resmi dibentuk untuk mengelola pelabuhan Sabang. Setiap hari ratusan kapal uap dari berbagai negara datang silih berganti untuk mengambil batu bara dan air bersih.

Setelah perang dunia kedua, kapal bertenaga diesel marak digunakan. Akibatnya pamor Sabang sebagai pelabuhan kapal uap mulai meredup, kalah bersaing dengan Singapura. Pelabuhan Sabang ditutup. 

Sabang sebagai pelabuhan bebas mengalami pasang surut seiring perkembangan zaman. Terabaikan selama puluhan tahun, pemerintah Indonesia membuka kembali Sabang sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1970. Sayangnya, aktivitas Sabang kembali ditutup pada tahun 1985. Alasannya karena pembukaan pulau Batam sebagai kawasan pelabuhan bebas dan kawasan perdagangan bebas yang baru, yang dinilai lebih strategis dan bernilai ekonomis dibanding Sabang. Tahun 2000 Sabang untuk kesekian kalinya dibuka kembali. Dan lagi-lagi pada tahun 2004, aktivitas pelabuhan kembali terhenti karena provinsi Aceh ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer. Kabar baiknya, pelabuhan bebas Sabang dihidupkan kembali sejak 2006 sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.

Tahun 2010, Sehari di Sabang…

Bulan Agustus enam tahun yang lalu saya berhasil mewujudkan mimpi masa kecil saya berkunjung ke Sabang! Sabang adalah kota terakhir yang saya kunjungi ketika melakukan solo traveling keliling Sumatera Utara dan Aceh selama seminggu.

Menjelang siang, kapal Pulo Rondo berlayar dari Banda Aceh ke pelabuhan Balohan, Sabang. Perjalanan saya lanjutkan dengan mobil sewa menuju Iboih. Saya satu mobil dengan seorang gadis muda dari Kanada dan beberapa pemuda yang juga berambut pirang. Mereka akan turun di pantai Gapang. Saya dan sang Kanada turun di Iboih.  

Tiba di Iboih, saya mencari tempat persewaan sepeda motor. Saya bertemu seorang pemandu yang juga mempunyai usaha sewa motor. Tidak butuh waktu lama -hanya menyerahkan kartu identitas- saya sudah bisa membawa motor untuk berkeliling Sabang.  

Dengan waktu hanya setengah hari di Sabang, tentu saja tidak banyak tempat yang bisa saya datangi. Saya hanya termangu melihat turis yang sedang asyik snorkeling di perairan antara pantai Iboih dan pulau Rubiah. Airnya sangat jernih, biru kehijauan. Di tepian, anak-anak desa Iboih bermain di pantai. Saya makin galau karena saya tidak bisa berenang. Dengan mencelupkan kaki ke air pantai Iboih saya anggap cukup untuk “berkenalan” dengan perairan Sabang. Ya sudahlah, saya harus ke Sabang lagi. Lantas saya bulatkan tekad mengunjungi tugu km 0 terlebih dulu. Destinasi selanjutnya, saya serahkan saja kepada alam. 

DSCN8101

Anak-anak pantai Iboih. Foto : Dokumentasi pribadi

Pulau Weh sebenarnya bukan pulau paling barat di kepulauan  Nusantara. Tugu km 0 dibangun di pulau Weh semata-mata karena pulau Weh adalah pulau paling barat yang dihuni oleh manusia. 

Sepanjang perjalanan dari Iboih ke tugu 0 km, saya dimanjakan dengan pemandangan hutan tropis yang masih asri dan sejuk. Jalan menuju kesana berkelok-kelok dan menanjak. Disini juga terdapat kafe yang menyediakan makanan dan souvenir. 

Di puncak tugu bertengger gagah garuda lambang negara mencengkeram angka 0. Seolah ingin mengikrarkan diri sebagai penguasa Sabang. Dari atas tugu yang berdiri megah berwarna putih, saya bisa melihat indahnya Samudera Hindia dan di ujung barat tampak pulau Rondo. Ada haru dan bangga bahwa saya berhasil membawa diri saya ke ujung barat Indonesia. Angin Samudera Hindia bertiup sangat kencang.

berita_161234_800x600_Untitled Ilustrasi tugu km 0 yang baru, sumber : RRI

Saat ini tugu km 0 sedang direnovasi dengan konsep baru. Konsep keseluruhan mengadopsi bentuk bunga jeumpa yang merupakan flora khas Aceh. Tugu berbentuk empat pilar menyerupai angka 0 sebagai lambang empat kota terluar Indonesia: Sabang, Merauke, Miangas dan Rote. Ornamen segi delapan melambangkan agama Islam dan rencong sebagai bentuk penghormatan kepada nilai perjuangan masyarakat Aceh.

Sebuah tugu lagi dibangun di pusat kota Sabang, tepatnya di dekat kantor walikota. Namaya tugu Sabang-Merauke yang menandakan kota Sabang dan Merauke sebagai kota terluar di peta Indonesia. Keunikan Tugu Sabang-Merauke di Sabang adalah adanya aksara Jawa berbunyi “sa” pada  bagian atas tugu di bawah peta kota Sabang.

Tak puas hanya berfoto di tugu 0 km dan tugu Sabang-Merauke, saya pergi ke kantor Dinas Pariwisata Kota Sabang untuk membeli sertifikat kunjungan ke tugu 0 km. Sebelumnya saya singgah sebentar di pantai Paradiso dan Pelabuhan Sabang. Sayang, angin kencang mengganggu keasyikan saya menikmati keindahan pantai. 

Melihat teluk Sabang yang rupawan, dengan air biru dan bukit menghijau, saya berimajinasi seandainya bisa kembali ke masa lalu. Saya menyaksikan puluhan kapal uap berukuran raksasa dengan bunyi cerobong uap, hilir mudik pekerja kasar pelabuhan, noni-noni dan meneer dari berbagai negara asyik bersenda gurau di pelabuhan sambil menikmati panorama teluk Sabang. Tidak terbayangkan betapa ramainya Sabang di masa lalu yang konon mengalahkan pelabuhan Singapura.

Kembali lagi, dalam perjalanan menuju kantor pariwisata, mata saya menangkap sebuah toko oleh-oleh khas Sabang, Piyoh! Penasaran, saya memutuskan singgah. Pemiliknya masih muda, ramah dan murah senyum. Namanya Hijrah. Puas memilih dan membeli kaos, saya justru diantar bang Hijrah yang baik hati menuju kantor dinas pariwisata.

Cukup dengan membayar Rp 15.000,- saya berhasil membawa pulang  sertifikat kunjungan ke tugu 0 km Sabang. Tak hanya itu, disini saya juga bisa berfoto mengenakan pakaian adat Aceh secara cuma-cuma. Keren sekali bukan. Lagi-lagi, bang Hijrah berkenan menjadi fotografer dadakan untuk saya. Terimakasih bang Hijrah atas kebaikannya!

Untitled Dari kiri ke kanan : berfoto di tugu km 0 lama, mengenakan pakaian adat Aceh (minus tutup kepala) dan sertifikat telah mengunjungi Sabang. Foto : dokumentasi pribadi

Hari hampir sore. Saya menyesal hanya memiliki waktu sehari di Sabang. Saya pacu motor sewaan saya kembali ke arah Iboih. Saya singgah sebentar di sekitar Krueng Raya untuk melihat pemandangan pulau Klah yang menghijau sambil menikmati sepiring rujak aceh. Berbeda dengan rujak di tempat lain, rujak aceh memiliki bumbu spesial yang membuatnya terasa berbeda.

Tiba di Iboih hari sudah gelap. Saya sempat kebingungan mencari penginapan. Beruntung di Iboih banyak sekali cottage / bungalow yang disewakan. Saya mendapatkan sebuah cottage sederhana seharga Rp 50.000,- semalam dengan pemandangan langsung ke arah pantai. Saya sangat menikmati panorama langit yang bertabur bintang yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Masyarakat Sabang atau Aceh pada umumnya terkenal sangat religius. Sebagai wisatawan, saya merasakan kehangatan ketika datang waktu sholat berjamaah. Selepas sholat di sebuah mushola, beberapa warga mengajak saya mengobrol. Keakhraban itu berlanjut ketika saya melewatkan makan malam di sebuah kedai sederhana di tepi pantai. Sang pemilik kedai mengajak saya untuk berbincang-bincang. Kami membicarakan banyak hal. Salah satunya tsunami yang melanda Aceh tahun 2004. Diam-diam, saya mengagumi sang ibu pemilik kedai. Tetap tegar meski bencana merenggut semuanya. 

Malam itu saya tidur nyenyak sekali ditemani bunyi binatang-binatang malam.

Pagi hari, saya membuka jendela. Sebuah panorama fajar di ufuk timur dari sebuah pulau di ujung barat Indonesia menyapa. Jika saya dianugerahi umur panjang, saya harus pergi ke Sabang lagi. Masih banyak tempat indah di Sabang yang belum saya jelajahi. Saya belum memotret keindahan pantai lain di Sabang, belum melihat bangunan bersejarah di Sabang dan belum mencicipi semua kuliner lezatnya. Dengan berat hati, saya melangkahkan kaki menaiki kapal yang akan membawa saya pulang dari Sabang ke Banda Aceh.

Sabang, saya berjanji, suatu saat saya akan kembali.

DSCN8211matahari terbit di Iboih, Sabang. Foto : dokumentasi pribadi

Andai Saya Bisa ke Sabang Lagi

Tahun ini pemerintah Aceh dan berbagai instansi terkait menggelar Sabang Marine Festival Tahun 2016 untuk kesekian kali. Sebuah acara untuk lebih menggairahkan lagi wisata di Sabang dengan mengundang puluhan pemilik kapal layar / yatch untuk menikmati gelaran wisata di Sabang, terutama wisata bahari. Saya pikir acara ini keren sekali untuk meningkatkan devisa dari sektor pariwisata. Terutama menggenjot perekonomian warga Sabang. Sejalan dengan misi pemerintah untuk memperkuat jati diri sebagai negara maritim.

Saya tentu saja berharap turut serta dapat berpartisipasi dalam acara ini. Saya ingin mengulang kenangan indah saat enam tahun yang lalu berkunjung ke Sabang. Saya ingin merasakan indahnya pemandangan alam Sabang, memotret kehidupan masyarakatnya yang ramah, serta mencicipi kulinernya yang belum pernah saya coba sebelumnya. Dan paling penting adalah mengabarkan tentang pesona keindahan pulau dan bawah laut Sabang ke seluruh dunia!

Menikmati Pantai-pantai Indah

Sabang, ini menurut imajinasi saya, Tuhan menciptakan Sabang sebagai : SurgA BAhari NanGgroe. Tak percaya? Sabang memiliki belasan pantai dengan karakter masing-masing. Mau melihat pantai pasir putih? Pantai Iboih dan Gapang jawabannya. Mau melihat pantai berpasir hitam? Ada di pantai Anoi Itam. Ingin snorkeling? Banyak tempat di sekeliling pulau. Hobi memancing? Datang saja ke pulau Rondo. Mau menyelam? Banyak!

Lonely Planet, buku panduan wisata terbesar di dunia pada tahun 2010 menobatkan Pulau Weh sebagai salah satu dari lima tempat wajib kunjung di Sumatera selain Bukit Lawang, Danau Toba, Berastagi dan Bukittinggi. Buku tersebut menceritakan keunikan pulau Weh yang tidak bisa dijumpai di tempat lain. Tentang keindahan bawah laut pulau Weh serta keunikan bahari Pulau Weh yaitu wisatawan dapat melihat hiu paus, lumba-lumba dan beraneka satwa laut endemik lainnya. Yang tidak kalah spektakuler adalah adanya aktivitas vulkanik langka berupa gunung api bawah laut di Pria Laot, sekitar Pantai Gapang.

Ikan hiu paus merupakan satwa endemik Sabang, terutama di perairan pulau Rubiah. Keberadaan mereka sempat “menghilang” dari Sabang sejak tragedi tsunami di Aceh pada tahun 2004. Namun, sejak 2014, keberadaan mereka tercium oleh sepasang turis asing yaitu Peter dan Barbara yang melakukan kegiatan kegiatan penyelaman beserta pemandu dari Rubiah Tirta Divers.

Sedangkan lumba-lumba, hewan yang kerap bersabat dengan manusia bisa dijumpai dalam perjalanan kapal antara pelabuhan Balohan Sabang dan pelabuhan Ulhee Lheue, Banda Aceh. Tidak setiap saat hewan jinak ini menunjukkan diri kepada manusia. Itulah mengapa melihat sekawanan lumba-lumba menjadi pertanda keberuntungan bagi seseorang yang sempat melihatnya.

pulau-rubiahPanorama bawah laut pulau Rubiah.
Foto : http://www.indonesia-tourism.com/

Saya memang tidak bisa berenang apalagi menyelam. Namun, saya adalah pecinta matahari terbit dan matahari terbenam. Pergi ke pantai adalah salah satu aktivitas favorit saya.

Melihat pemandangan matahari terbenam adalah aktivitas jamak yang dilakukan jika menjelang senja di pantai. Namun, menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat di kota paling barat di Indonesia tentu akan menimbulkan kesan dan kenangan tersendiri. Jika berkesempatan ke Sabang, saya akan menghabiskan sore dengan melihat matahari terbenam di km 0 di Iboih, snorkeling di kawasan pulau Rubiah serta menginap di pantai Sumur Tiga untuk melihat pemandangan matahari terbit yang spektakuler. Ohya, karena saya belum bisa berenang, tentu saja saya memerlukan pelampung.

Recoverd_jpg_file(751) - CopyMatahari terbit di pantai Sumur Tiga.
Foto : http://adiedoes.blogspot.co.id/

Mengunjungi Situs-situs Bersejarah

Tak hanya hanya wisata bahari, Sabang menyimpan sejuta pesona lainnya yaitu sejarah yang amat kaya. Dan museum adalah tempat yang sangat menarik untuk saya belajar sejarah dengan cara yang amat menyenangkan. Tak ada guru, papan tulis, buku sejarah ataupun tugas-tugas. Tak perlu susah menghafal tahun, tokoh dan peristiwa. Apalagi takut dimarahi guru di kelas. Dengan belajar sejarah, saya seperti belajar tentang masa lalu untuk pelajaran masa depan. Caranya yaitu dengan dengan mengunjungi Museum Abad Kejayaan Sabang yang terletak di pusat kota Sabang. Kebetulan saat kunjungan ke Sabang beberapa tahun yang lalu, museum ini belum ada.

Museum ini merupakan satu-satunya museum di Sabang. Menceritakan masa lalu kota Sabang yang dulu dikenal dengan nama Kolen Station. Masa lalu Sabang yang penuh dengan tinta emas dan kejayaan sebagai salah satu pelabuhan internasional paling ramai memang patut dikenang oleh generasi muda saat ini. 

antarafoto-Museum-Sabang-111215-mes-02

Museum Abad Kejayaan Sabang. Foto : Antara Foto 

Selain itu, berkeliling pusat kota Sabang yang dipenuhi bangunan-bangunan kolonial akan menjadi aktivitas yang sangat menarik untuk dilakukan. Betapa pada zaman dulu kota kecil ini awalnya adalah berubah dari desa nelayan yang sunyi sebelum menjadi kota pelabuhan internasional yang peranannya amat penting di Selat Melaka, melebihi Singapura pada saat itu.

Pada zaman penjajahan Jepang, mereka membangun banyak benteng pertahanan untuk mengintai musuh. Sebagai persiapan menghadapi perang dunia kedua. Berkunjung dari satu benteng ke benteng tak akan menimbulkan kesan seram. Dengan panorama laut membentang dan pulau di kejauhan, menyaksikan laut dari benteng menjadi aktivitas yang mengasyikkan di Sabang.

benteng peninggalan belanda

Benteng Jepang Anoi Itam. Foto : AtjehLiterature

Sajian Kuliner yang Lezat 

Pengalaman berwisata tak hanya hadir lewat destinasi wisata yang indah. Wisata kuliner merupakan salah satu pengingat yang manjur tentang sebuah tempat. Ingat pempek ingat Palembang, ingat rendang terbayang ranah Minang. Begitu juga dengan Sabang atau Aceh. Terbayang harum dan gurihnya kopi aceh atau lezat dan nikmatnya mie aceh.

Saat berwisata ke Sabang tahun lalu, saya hanya sempat mencicipi rujak aceh di dekat Teluk Krueng. Makan rujak aceh yang berbumbu unik dengan panorama teluk Sabang dan pulau Klah adalah sensasi tersendiri berkunjung ke Sabang. Di Sabang, saya menjadi turis durhaka karena tak sempat mencicipi mie Aceh dan kopi Aceh. Mie aceh yang lezat itu saya lewatkan, pun dengan kopi aceh yang kondang itu. Duh, saya sangat menyesal. Jika nanti diberi kesempatan ke Sabang, saya ingin mencicipi beberapa masakan antara lain mie dan kopi Aceh serta sate gurita dan mie pingsun.

Sate yang umum kita dengar adalah sate berbahan ayam, kambing atau sapi. Bagaimana dengan sate gurita? Sepertinya kelihatan tidak lazim gurita dibuat sate. Akan tetapi demi melihat wujud dan warnanya saja sanggup membuat liur saya menetes dan saya penasaran untuk mencobanya. Sayangnya sate gurita hanya tersedia di Sabang, tidak ada di tempat lain. Mau tidak mau saya harus ke Sabang!

Mie Pingsun kabarnya berbeda dengan mie Aceh kebanyakan. Berwujud mie kuning dengan toping aneka seafood. Rasanya? Hm.. saya juga belum pernah mencobanya dan sangat tertarik ingin mencicipnya jika datang ke Sabang suatu saat nanti.

Peta Piyoh New BPKS Belakang

Kuliner Sabang : Foto : HijrahHeiji

Selain makanan berat, Sabang juga dikenal dengan oleh-olehnya yaitu salak dan bakpia. Selama ini bakpia dan salak dikenal sebagai oleh-oleh khas kota gudeg. Rupanya Sabang juga mempunyai oleh-oleh yang agak mirip. Namun, saya yakin setiap daerah memiliki kekhasannya sendiri. Salak dan bakpia Sabang tentu berbeda dengan di tempat lain bukan?

Saya ingin segera kembali ke Sabang! Sabang terlalu indah untuk dilupakan.

Peta Piyoh New

Peta Wisata Sabang : Foto : HijrahHeiji 

Referensi :

http://hijrahheiji.blogspot.co.id/2014/03/sejarah-nama-sabang-dan-legenda-pulau_10.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Weh
https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Sabang
http://bpks.go.id/index.php/2015/08/27/sejarah-bpks/
https://coraloasisfoundation.wordpress.com/2014/08/16/ikan-hiu-paus-whale-shark-terlihat-kembali-di-pulau-weh-sabang/

Tulisan dan ini dibuat untuk memeriahkan Sabang Marine Festival 2016 yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh. Doodle “Sabang : SurgA BAhari NanGgroe” dibuat khusus untuk Sabang Marine Festival 2016.

Mari-Rayakan-Sabang-Marine-Festival-2016-Lewat-Tulisan

Iklan

37 comments

  1. aku pun hingga detik ini belum bisa berenang, secara anak gunung banget *baca cah nggunung* hahaha, lama tak berkunjung ke blog ini, eh cara berceritanya sudah makin baik saja, pilihan kalimatnya dan merangkainya dengan sangat cantik. Semoga bisa menang ya tulisan ini… : )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s