[Review] Pempek Palembang : Sebuah Ensiklopedi

“Dak mungkin Wong Palembang kalo ‘dak seneng makan pempek. Makanan pokok Wong Palembang itu iyolah pempek. -Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin-

DSC01431

Pempek di 7 Ulu

Demikian sabda dari penguasa kesultanan Palembang Darussalam saat ini. Sebagaimana ditulis pada sebuah buku berjudul Pempek Palembang : Mendeskripsikan Identitas Wong Kito Melalui Kuliner Lokal Kebanggaan Mereka. Ungkapan ini melukiskan ikatan kuat antara kota Palembang, wong Palembang dan pempek sebagai pemersatu dan ikon kuliner kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan, khususnya Palembang. 

Siapa yang tak kenal pempek, makanan serupa bakso ikan yang dicocol dengan cuko ini tak hanya dijumpai di Palembang. Makanan ini bisa dijumpai di berbagai kota di Sumatera bagian selatan. Di Bangko dan di Jambi sendiri, pempek adalah makanan lokal yang bisa ditemui di penjuru kota.

“Pempek Palembang”  merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Sumarni Bayu Anita pada tahun 2014. Dia merupakan dosen di sebuah perguruan tinggi di Palembang. Buku ini sejatinya merupakan metamorfosis dari penelitian tesisnya ketika menempuh kuliah pasca sarjana Kajian Budaya dan Media di Yogyakarta.

Saya mendapat buku ini dari Ayuk Fitri, tetangga sekaligus induk semang kami di Bangko. Penulis buku ini merupakan adiknya. Buku ini berusaha mengupas pempek dari aspek sejarah, sosial, budaya dan ekonomi.

Buku ini cukup informatif, seperti sebuah ensiklopedi mini tentang Palembang, orang Palembang dan pempek sebagai makanan khas Palembang. Bahasanya juga mudah dipahami. Apa saja isinya? Cekidot.

01032016132936-0001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sejarah Palembang

Menurut Sumarni, pempek mempunyai sejarah yang panjang. Sebagaimana sejarah Palembang itu sendiri. Saya merasakan sebuah tamasya sejarah ketika Sumarni menceritakan sejarah kotanya secara ringkas tetapi cukup detail.

Suku Kubu merupakan suku pertama yang menghuni Sumatera Selatan. Keturunan mereka bisa ditemui di Musi Banyuasin. Salah satu versi asal usul suku Rimba di Jambi juga menyebut bahwa mereka berasal dari Sumatera Selatan. Pada awal pra-Sriwijaya, berbagai suku terutama dari pegunungan seperti suku Rejang, Pasemah, Ranau menjadi penduduk pribumi di Palembang.

Menurut prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang, kerajaan Sriwijaya didirikan oleh Dapunta Hyang pada tanggal 5 Ashada tahun 605 Caka atau tanggal 16 Juni 682 Masehi. Tanggal ini akhirnya diperingati sebagai tanggal lahir kota Palembang. Pada puncak kejayaan, Sriwijaya menguasai sebagian Indonesia seperti Jawa, Sumatera dan sebagian Kalimantan, serta sebagian negara Asia Tenggara meliputi Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Thailand selatan.

Pada masa Sriwijaya, selain suku pribumi, bangsa lain seperti Cina, Arab dan India turut datang ke Palembang untuk menyebarkan agama dan berdagang.

Selanjutnya, suku Jawa dari kesultanan Demak dibawah pimpinan Ki Gede Sido Ing Lautan mengekspansi Palembang pada tahun 1547. Rombongan ini merupakan cikal bakal kesultanan Palembang Darussalam. Pengaruh dari Jawa yang berakulturasi dengan budaya asli Palembang melahirkan kebudayaan baru yang dikenal dengan budaya Palembang.

Kesultanan Palembang dipimpin oleh raja yang bergelar Sultan. Permaisuri sultan disebut Ratu. Pada masa kesultanan, masyarakat dibagi menjadi empat kelas. Kelas bangsawan bisa ditilik dari penggunaan gelar Pangeran, Raden, Masagus, Raden Ayu dan Masayu. Kelas bangsawan rendah biasanya memakai gelar Kiai Mas / Kemas, Kiai Bagus / Kiagus, Nyimas dan Nyi Ayu / Nyayu. Kelas dibawahnya adalah rakyat biasa dan budak yang tidak memiliki gelar. Gelar kebangsawanan berlaku hingga 14 keturunan ke bawah.

DSC05890

 

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, eks kantor Residen Palembang

Pada masa kolonial, Belanda membagi kota Palembang menjadi 52 kampung. Wilayah Seberang Ilir terdiri dari 36 kampung dengan nama 1 Ilir, 2 Ilir hingga 36 Ilir. Sedangkan Seberang Ulu dibagi menjadi 16 kampung dengan nama 1 Ulu hingga 16 Ulu. Perkembangannya, jumlah kampung bukannya semakin berkembang, melainkan semakin menyusut karena beberapa kampung dihapuskan atau digabungkan. Tahun 1939, jumlah kampung di Ilir berjumlah 29 dan di Ulu berjumlah 14.

Saat ini wilayah kota Palembang telah mengalami perluasan. Seberang Ilir telah menjadi kecamatan Ilir Timur 1, Ilir Timur 2, Ilir Barat 1, Ilir Barat 2 (menggunakan nama angka, bukan arah). Sedangkan kawasan Seberang Ulu menjadi kecamatan Seberang Ulu 1 dan Seberang Ulu 2. Jumlah kecamatan juga telah bertambah menjadi 16 kecamatan.

Kalau kamu jalan-jalan ke Palembang, jangan heran ya karena penamaan kelurahan dengan nomor ini masih dipakai sampai sekarang. 

Wong Kito dan Wong Cino

Masyarakat Sumatera Selatan pada umumnya dan masyarakat Palembang khususnya mempunyai sebutan unik : Wong Kito yang artinya Orang Kita. Sebutan ini merupakan identitas kebanggaan yang menjadi pembeda antara orang Sumsel / Palembang dengan orang dari kota / provinsi lain.

Ada tiga kriteria yang dianggap mewakili istilah wong kito :
1. asli keturunan sultan Palembang,
2. pernah tinggal di Palembang,
3. menikah dengan orang Palembang,
jika salah seorang masuk dalam kriteria itu, ia berhak menyandang sebutan wong kito.

Definisi wong kito tidak terbatas kepada orang pribumi Palembang. Beberapa bangsa lain termasuk Arab, India dan Tionghoa juga dianggap sebagai wong kito. Sampai saat ini peninggalan berupa kampung-kampung etnis di Palembang antara lain :  kampung Al Munawar, Assegaf, Al Habsyi, Kuto Batu, Jamalullail, Alawiyin (Arab) dan kampung Kapitan 7 Ulu (Tionghoa).

Salah satu etnis di Palembang yang berperan penting dalam pembentukan kuliner adalah etnis Tionghoa atau wong Cino. Manuskrip dari Majapahit tahun 1391 menyebutkan tentang hang laksa atau  manusia laksa yang berarti juru pembuat laksa. Laksa sendiri merupakan makanan berbahan dasar mie yang dijumpai di sejumlah negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Menggambarkan betapa tuanya kaitan antara orang Tionghoa dan makanan.

Ada berbagai versi mengenai asal usul orang Tionghoa di Palembang. Versi pertama mengatakan bahwa orang Tionghoa masuk sejak zaman prasejarah. Versi selanjutnya berkaitan dengan ekspedisi Laksamana Cheng Ho (1371-1433) dari Tiongkok ke Palembang. Terakhir, keberadaan orang Tionghoa di Palembang erat kaitannya dengan perompak di Selat Bangka era setelah kehancuran Sriwijaya dan era sebelum kesultanan Palembang. Terlepas dari berbagai versi yang ada, yang jelas muka orang Palembang asli mirip dengan raut muka orang Tionghoa, seperti muka teman saya Omnduut

Kehidupan perantau dari Tiongkok di Palembang zaman dulu amat susah. Sebagai perantau dari negeri asing, mereka dianggap sebagai warga kelas dua. Tidak boleh memiliki rumah, hidup sebagai abdi istana dan tinggal di rumah rakit di atas sungai Musi (bukan di bantaran sungai).

Sejarah Pempek

Konon, kata Palembang berasal dari kata pa atau pe : tempat dan lembang yang bermakna berair. Jadi Palembang berarti tempat yang digenangi air. Zaman dulu, ada 108 sungai yang mengalir membelah kota ini. Saat ini, sebagian sungai telah diurug seiring kemajuan kota.

Tidak heran jika kuliner Palembang berasal dari hasil sungai. Masyarakat Palembang terbiasa mengolah ikan menjadi pindang (semacam sup), brengkes (pepes ikan), ikan asap, ikan asinkan dan ikan asam.

Tak cukup disitu, budaya “ikan” Wong Palembang tercermin bagaimana mereka mengungkapkan berbagai karakter manusia dengan ikan sebagai perumpamaan seperti :
1. bungkuk belido = manusia dengan hasrat seksual yang tinggi
2. rasan juaro = selalu berbuat jahat
3. kelakar betok = debat kusir
4. pecak sepat, metu denget, tau-tau mingsep = muncul sebentar lalu cepat menghilang
5. pecak seluang /  dah keno baru buang = kurang cekatan
6. gaji toman = berpenghasilan besar

Lain halnya dengan pempek, pempek dipercaya dibuat pertama kali oleh etnis Tionghoa. Kata pempek dipercaya berasal dari kata apek yang merupakan sebutan bapak-bapak tua. Dulu bapak-bapak tua kaum Tionghoa dipercaya merupakan penjual pempek yang pertama. Versi lain menyebutkan pempek dari verba dipempekke yang artinya diuleni. Kata pempek pun sebenarnya telah mengalami evolusi panjang. Dari kata empek-empek, lalu mpek-mpek dan terakhir pempek.

Pempek awalnya dibuat dari ikan belida, putak dan tebakang. Sejak ikan tersebut sulit ditemukan, mulai dipakai ikan gabus (Channa striata), dan ikan tenggiri (Cybium commersoni) yang rasanya dianggap mirip dengan pempek ikan belida. Jika dulu bahan utama pembuatan pempek dari tepung sagu, sekarang tepung tapioka lebih banyak dipakai.

29 Jenis Pempek

pempek-palembang

Sumber : http://www.harnas.co/files/images/760420/2015/02/28/pempek-palembang.jpg

Sampai saat ini ada 6 kelompok pempek yang dikenal oleh masyarakat Palembang. Meliputi pempek besar, pempek kecil, pempek panggang, pempek dos, hasil olahan pempek dan kerupuk / kemplang. Keenam jenis tersebut masih dibagi lagi menjadi 29 jenis pempek  yaitu :
pempek besar
1. lenjer

2. kapal selam
pempek kecil

3. lenjer kecil
4. telur kecil
5. keriting
6. pistel
7. adaan
8. tahu
9. kulit
pempek panggang

10. panggang / tunu
11. lenggang
12. otak-otak
pempek dos / 
tanpa ikan
13. dos lenjer
14. belah
15. dos telur kecil
16. dos pistel
17. dos isi udang
18. dos nasi
19. udang
20. gandum
hasil olahan lanjutan dari pempek
21. rujak mie : pempek lenjer disajikan dengan mie kuning, tahu goreng, ketimun, ebi, disiram cuko
22. tekwan = pempek disiram kuah kalduditambah mie soun, jamur, bunga pepaya muda
23. 
model = mirip tekwan
24. laksan = pempek lenjer disiram kuah laksa
25. celimpungan = mirip laksan, pempek lenjer diganti isi tekwan
kerupuk dan kemplang
26. kemplang goreng
27. kemplang panggang
28. kemplang tunu
29. kerupuk 

Selain pempek ikan, di daerah Sungsang, Banyuasin ditemui pempek udang. Uniknya, di daerah lain ditemui makanan dengan nama pempek pisang atau peler kambing. Penganan dari pisang, tetapi tidak menggunakan ikan atau cuko.

Pempek Asli Palembang

Akhir 2013, di media sosial terjadi kehebohan ketika dua pemerintah daerah; pemprov Jambi dan pemprov Palembang saling meng-klaim sebagai “pemilik” pempek. Beritanya baca di sini. Hal ini jelas menyiratkan bahwa pempek tak hanya dikenal di Palembang, melainkan sudah menyebar ke seluruh Nusantara, terutama di Sumatera bagian selatan dan kota-kota besar. Ditilik dari sejarah, baik Jambi dan Palembang di masa lalu mempunyai ikatan dalam bingkai bernama Sriwijaya. Menurut Wikipedia, bahkan ibukota Sriwijaya terletak di Muaro Jambi atau Palembang.

Srivijaya_Empire_id.svg

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya

Menurut orang Palembang, cara paling afdol untuk memakan pempek adalah dengan tangan (meratah) bukan dengan pisau atau garpu. Setelah selesai makan pempek, kuah cuko harus dihabiskan dengan cara diirup (diminum). Anehnya, menurut Dinas Kesehatan Kota Palembang, belum ada laporan masuk mengenai sakit gigi karena terlalu banyak makan pempek dan cuko.

Sebagai produk pasar, pempek diklasifikasikan menurut bahan bakunya. Semakin tinggi kandungan ikannya, harga jualnya semakin mahal. Meskipun cukup mahal, pempek kelas atas setiap bulan dikirim ke luar kota sebanyak 20-30 ton dalam sebulan melalui JN*. Sayangnya, sampai saat ini, dari tiga hasil kebudayaan Palembang, baru songket Palembang yang sudah dipatenkan. Sedangkan pempek sendiri belum.

Sekarang, pempek telah menjadi makanan yang menasional. Menurut Sumarni, ada tiga kriteria menilai keaslian pempek Palembanvg : penjual atau pembuat pempek harus asli Palembang, bahan baku pempek dari palembang, atau standar pengolahan sama seperti pempek Palembang. Yuk..makan pempek. 🙂

 

Pempek Palembang : Mendeskripsikan Identitas Wong Kito Melalui Kuliner Lokal Kebanggan Mereka (2014)
Penulis : Sumarni Bayu Anita, S.Sos., M.A.

Penerbit : LeutikaPrio
Ketebalan : xii + 190 halaman
Harga : ?
Blog : http://nitastory.blogspot.co.id/2012/04/pempek-sebagai-identitas-kuliner-wong.html

Iklan

35 comments

  1. hmm jadi pengen tau rasanya pempek palembang dan cukanya seperti apa..
    di jogja sendiri mungkin rasa pempeknya sudah disesuaikan lidah masyarakat setempat 😀

  2. Wah, baru sempet baca sekarang… Ternyata tulisannya kritis sekali. Makasih, yaa… Kapan maen ke Palembang? Ntar diajakin ke Pempek Ek Dempo. Haha, ato yg skrg lagi hits di Palembang, Pempek 1707, kayak nomor plat mobil saya. 😀

    • hehe…1707 tanggal lahirkah? mirip mirip tanggal lahir nia anak saya ..
      wah… makasih banyak mbak tawarannya, sungguh nggak bisa ditolak haha
      bukan review malah, resume jatuhnya 🙂
      makasih

  3. Postingan yang sungguh menarik, sarat informasi, dan bikin liur menetes, hahaha! Selalu suka baca kisah sejarah, apalagi sejarah makanan/kuliner. Btw bahkan teman saya bilang ada pula mpek-mpek Lampung yang gak kalah enak dengan mpek-mpek Jambi atau Palembang. Oh well, saya sih yakin semua enak-enak! 🙂

  4. 29 jenis pempek? Saya cuma tau, mungkin 5 jenis pempek, Bang. Cobain semuanya seru kayanya. Hahaha. Masih ada yang jual pempek ikan belida di Palembang, Bang? Beberapa bulan lalu, saya ke Palembang untuk pertama kalinya. Saya dibawa ke Pempek Candy. Baru tau, cara makan pempek di Palembang beda sama cara di Jakarta atau Bandung. Seperti yang Abang tulis, dicocol, lalu cukonya diminum. Enak, Bang! Ketahigan. Hahahaha.

    Senin depan saya berencana ke Palembang lagi. Kali ini bukan untuk kerja. Main-main, Bang. Hehe.

  5. wew, baru sempat blogwalking, nyasarnya ke blogmu Bang, 😀

    Aku jadi makin prnasaran sama pempek Palembang yang orisinal, yang memakai daging ikan belida dan tepung sagu. Apakah lantas jadi santapan eksklusif dan di mana gerangan yg menjual. Dalam bayanganku, itu pempeknya pempek, hahaha ;D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s