A Drama Called Famtrip (End)

“kalau ikut famtrip jangan terlalu banyak berharap banyak
kalau pengen ini itu jangan ikut famtrip”

Lanjutan dari cerita yang ini dan ini.

Semalaman saya berusaha memejamkan mata. Mencoba mencari posisi paling nyaman di dalam tenda. Nyatanya, badan tak mau diajak beristirahat. Tidur berlantai tanah ditambah faktor U membuat saya sibuk membolak-balik badab. Saya lihat di sebelah, Rendra telah lama tenggelam dalam mimpi. Jelang subuh, terdengar rekaman suara orang mengaji dari masjid. Kelelahan, saya baru bisa tidur.

no (2)

Pagi hari saya keluar dari tenda. Tidak berapa lama, kawan-kawan menyusul dan membongkar tenda.

Setiap hari Minggu pagi, warga Rantau Panjang akan pergi ke pasar. Tidak jauh dari rumah tuo. Hari Minggu adalah puncak keramaian di pasar. Penduduk dari segala penjuru termasuk warga transmigran, suku Rimba akan berduyun-duyun menuju pasar untuk membeli dan menjual segala keperluan. 

Perempuan-perempuan suku Batin di sekitar Rantau Panjang mempunyai atribut khas jika pergi ke pasar. Kebaya atau baju kurung, kain, dan ambung atau keranjang rotan yang dikaitkan di kepala.

no (3)

Habis mandi, saya berkumpul dengan teman-teman yang lain. Para peserta telah mandi dan menunggu sarapan di rumah tuo. Kawan-kawan saya terlibat dalam obrolan yang cukup serius. Katanya, beberapa orang yang tidur di rumah di dekat rumah tuo telah kehilangan barang! Total kerugian tidak main-main, tiga orang mengaku kehilangan ponsel sebanyak tiga buah sejumlah kurang lebih 20 juta rupiah!

Laporan ke polisi telah dibuat. Sekarang kami para panitia seolah menjadi tersangka di antara para peserta. Tak mau dianggap sebagai “tersangka”, perwakilan peserta diijinkan untuk menggeledah semua barang bawaan kami. Isi tas kami keluarkan semua. Semua barang diperiksa dengan teliti.

Belum sempat mencicipi sarapan, saya diajak oleh Rudi, bang Aan dan bang Hendri untuk beranjak dari rumah tuo. Kami harus menyiapkan segala sesuatu untuk acara selanjutnya, yaitu makan durian dan arung jeram di desa Air Batu.

Kami sarapan di kedai makan Mak Wo, di belakang minimarket Rina di Bangko. Di Pasar Bawah, Rudi menjemput kawannya yang juga akan meninjau lokasi arung jeram di Air Batu.

Di Air Batu, kami disambut dengan pesta durian di sebuah rumah sederhana yang berfungsi sebagai kantor dan sekretariat kegiatan olahraga arung jeram “Hampa”. Kantor ini juga berfungsi sebagai museum mini yang menampilkan sampel bebatuan fosil di sepanjang sungai Batang Merangin.

Beberapa pemuda sedang menyiapkan perahu karet yang nanti akan dipakai arung jeram.

DSC05283 pesta durian

DSC05280 fosil dedaunan

DSC05279

Sambil menunggu peserta datang, saya menghabiskan waktu dengan tiduran di kantor Hampa. Saya dibangunkan oleh Rudi saat peserta telah tiba di Air Batu. 

Begitu peserta tiba, saya bantu-bantu panitia menyiapkan durian untuk dimakan para peserta. Puas makan durian, para peserta bersiap-siap rafting dengan memakai topi pengaman dan pelampung. Rombongan dibagi dua kelompok. Satu kelompok akan melakukan penelusuran sungai Batang Merangin dengan berjalan kaki di tepian sungai, sisanya melakukan arung jeram.

Satu demi satu peserta memakai topi dan pelampung. Hingga akhirnya … tersisa hanya dua pelampung! Alhasil, dari tujuh orang panitia (termasuk saya), masih ada lima orang yang tidak akan menikmari arung jeram.

DSC05287

Para peserta berbaris di tepi sungai bersiap-siap membuktikan nyali mereka. Nantinya, satu perahu karet akan diisi empat atau lima peserta didampingi oleh tiga pemandu. Peserta cukup duduk diam sedangkan pemandu bertugas sebagai pendayung.

Drama kembali terjadi. Kali ini terjadi antar peserta yang telah mengenakan pakaian arung jeram.

Perahu karet berjumlah sembilan buah. Namun, satu perahu mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dipakai. Setelah dihitung, rupanya ada sejumlah peserta yang tidak kebagian perahu. Setelah berdebat berembug, akhirnya beberapa peserta yang kurang beruntung ini terpaksa mengalah. Ketika perahu karet para peserta meninggalkan kami, seketika itu juga harapan untuk berarung jeram pergi meninggalkan kami.

Oke, lupakan saja bahwa kami gagal berarung jeram hari ini. Saya dan beberapa panitia akhirnya mempunyai kawan senasib : gagal berarung jeram.

Kami kembali ke kantor HAMPA dengan langkah gontai. Saya coba bertanya kepada salah seorang abang-abang yang mengenakan kalung etnik dari biji-bijian hutan. Ketika saya tanya harga kalungnya berapa, dengan bangga ia mengatakan bahwa harganya Rp 100.000,-. Ah, sudahlah, saya sudah malas mendengarnya. Terlalu mahal.

Arung jeram di sungai Batang Merangin dimulai dari desa Air Batu dan finish di dusun Teluk Wang, desa Biuku Tanjung. Saya dan Rudi mendapat tugas untuk membawa logistik berupa makan siang dan makanan kecil untuk para peserta ke Teluk Wang. DSC05298

Tiba di Teluk Wang, beberapa peserta telah selesai berarung jeram. Mereka menikmati suasana di tepi sungai Batang Merangin yang berarus cukup deras. Sebagian lain menikmati gemuruh air terjun Balaputradewa alias air terjun Kolam Jodoh. Minimnya obyek wisata di Bangko tak membuat warga surut niatnya untuk berekreasi, salah satunya ke Teluk Wang. 

Menuju ke seberang sungai terdapat jembatan besi. Dulu saat kesini pertama kali, pengunjung harus naik biduk, perahu kecil yang muat sepuluh orang. 

DSC05295

Ketika semua peserta telah tiba di Teluk Wang, Rudi mencetuskan ide hebat, tetapi sedikit konyol. Dia mengajak saya, Rendra, bang Aan untuk berarung jeram dari depan air terjun ke bawah jembatan. Segera kami memakai pelampung dan helm. Salah seorang pendayung berkenan menjadi pemandu kami.

Dari lokasi start ke jembatan jaraknya tidak jauh, hanya seratus meter dan akan melintasi dua jeram. Satu jeram “biasa” dan satu jeram lumayan ekstrim.

Ketika hendak masuk ke perahu karet, saya terjatuh ke sungai. Saya panik karena tidak bisa berenang! Saya lupa kalau saya memakai pelampung. Begitu badan saya timbul ke permukaan, Rendra tertawa sinis. Huff.

Bang Aan mengulurkan dayung, saya naik ke atas perahu. Bismillah, petualangan singkat dimulai.

“Ayokk, dayung,” teriak bang Aan.
Rupanya cara mendayung saya salah. Seharusnya saya memegang ujung dayung yang berbentuk T. Jeram pertama sukses kami lalui. Air masuk ke perahu, membuat bagian bawah badan saya basah. Melewati jeram kedua, bang Aan memerintahkan kami untuk melakukan gaya mundur. Alhasil perahu melewati jeram dengan posisi buritan lebih dulu. Takut terjatuh lagi, saya berpegangan pada tali pengait perahu.

“Byur!” air bergalon-galon membasahi baju kami semua. Jeram kedua yang cukup esktrim sukses kami lewati. “Puas” berarung jeram, Rendra mengajak saya merayakan kemenangan dengan meloncat dari air terjun Kolam Jodoh. Saya ketagihan. Setidaknya saya melompat dua kali dari air terjun ke Kolam Jodoh.

Percaya atau tidak, mandi di sini membuat kamu enteng jodoh. Mau coba?

DSC05291

 

 

 

 

 

 

 

satu-satunya foto diri saya di Teluk Wang

Puas mandi di air terjun dan bersih-bersih. Kami bergerak menuju pusat oleh-oleh Gelamai Perentak di Pasar Atas Bangko. Gelamai adalah kue dari ketan mirip sejenis dodol, tetapi lebih manis. Saat ini, gelamai telah dimodifikasi sehingga wujudnya menjadi gelamai cokelat dan gelamai brownis. Namun, gelamai original juga masih diburu wisatawan yang datang ke Bangko.

DSC05313

gelamai dibungkus dengan anyaman pandan

Akhirnya, saya merasakan sebuah kegalauan kesedihan saat terpaksa berpisah dengan kawan-kawan baru saya. Bang Hendi, bang Hendri, bang Aan, Rudi, Rendra dan Irsal. Semoga langkah kita akan bertemu lagi, kawan. Terimakasih Fresco Family & Foto Trip buat jalan-jalannya 🙂

Iklan

7 comments

  1. Hehe… drama ya Mas. Tapi untunglah semua selamat dan sukses. Ngomong-ngomong, apa nasib ponsel-ponsel peserta yang hilang? Pasti nggak enak banget ya karena ada kejadian yang tak diharapkan begitu.
    Jadi apa dalam waktu dekat kalian mau mengadakan famtrip lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s