Bertandang ke Desa Wisata Rantau Panjang

Hm…rupanya saya salah informasi. Famtrip ini bukan digelar oleh pemprov, melainkan sebuah event organizer dari Jambi. Namanya Fresco Photo Trip & Family Trip, sebuah company yang menawarkan paket perjalanan wisata di seluruh obyek wisata di provinsi Jambi. Paket yang cukup diminati adalah paket wisata ke Merangin, meliputi trip ke desa wisata Rantau Panjang, desa wisata Air Batu dan arung jeram desa Air Batu. Selain itu, Fresco juga menyediakan jasa foto prewedding juga lho. Foto-foto dokumentasi Fresco bisa dilihat di sini dan di sini.

Keren kan foto-fotonya. Kalau berminat menggunakan jasa Fresco bisa menghubungi :
Hendi Saifuddin / Fresco Photo Trip & Family Trip
email : frescotrip@gmail.com
hp / bbm : 0821-8135-0150 / 75E9B5AF
Alamat : Kompleks Sunderland Blok D-1  Jl. Pipa No. 16 Mayang, Kota Jambi

Untuk mencairkan suasana, Dede’ memperkenalkan saya dengan Rudi, salah seorang staf Fresco. Rudi mempertemukan saya dengan Hendi Saifuddin atau bang Hendi, pimpinan Fresco. Puji syukur kehadiran saya diterima oleh bang Hendi. Bahkan saya diperkenalkan dengan staf Fresco yang lain. Bang Hendri, bang Aan, Rendra, dan Irsal.

Spot pertama yang dituju para peserta famtrip -yang terdiri dari ibu-ibu bapak-bapak dan sebagian kecil masih berusia muda dan semua berwajah kota- adalah museum Geopark Merangin. Dengan modal nekat dan sedikit pengalaman pengetahuan mengenai geopark, saya “merubah” diri saya menjadi pemandu wisata di museum. Sekaligus menjadi juru potret dadakan untuk para peserta. Lepas dari museum, para peserta naik ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Rantau Panjang.

DSC05113

bocah-bocah pengunjung museum, anak laki-laki yang berdiri paling kiri mengenakan sarung karena baru saja disunat

Saya nebeng mobil Rudi, kawan baru saya. Paling depan ada Rudi dan bang Hendri. Sedangkan di sebelah saya Rendra. Lelaki yang masih menempuh bangku kuliah di Jambi.

Kami tiba terlebih dulu di Rantau Panjang, seorang lelaki gemulai dan dua orang gadis muda berdiri di depan pintu gerbang desa wisata Rantau Panjang. Gadis itu mengenakan tengkuluk yang merupakan tutup kepala perempuan khas Jambi. Dua gadis ini bertugas sebagai penyambut tamu. Ujung tengkuluk diletakkan di kanan sebagai pertanda bahwa mereka masih perawan gadis dan belum menikah.

DSC05121

Rantau Panjang adalah sebuah desa tua di Jambi. Sekarang desa ini secara administrasi telah dimekarkan menjadi tiga kelurahan. Kampung Baruh merupakan episentrum desa wisata ini. Rumah tuo, salah satu rumah tertua di Kampung Baruh menurut penelitian dibangun pada tahun 1333 Masehi. Menurut tembo atau sejarah lisan, kampung ini merupakan asal usul suku Batin yang saat ini telah menyebar ke berbagi kabupaten di provinsi Jambi. Sejak beberapa tahun terakhir, desa ini ditetapkan sebagai desa wisata oleh pemkab Merangin.

DSC05133

tarian penyambutan di depan rumah tuo

Ketika peserta famtrip tiba, mereka diarahkan untuk menuju ke halaman rumah tuo. Sebuah karpet plastik terbentang. Enam penari berdiri berbaris. Di belakang mereka berdiri tiga penari : sepasang pria memegang nampan diapit dua orang perempuan. Musik berirama dinamis diputar melalui pengeras suara. Setelah tarian selesai, tiga penari yang membawa nampan berjalan melewati enam penari. Selanjutnya pemimpin famtrip dikalungi kain sorban berwarna putih sebagai ucapan selamat datang.

DSC05145

anak-anak Rantau Panjang mengenakan pakaian adat

DSC05131

indok-indok (ibu-ibu) mengenakan tutup kepala

DSC05149

keceriaan anak-anak Rantau Panjang

Nasi dingin (yang telah disiapkan sejak siang), sayur ikan dan labu serta sambal kemangi menjadi menu makan siang kami. Jauh dari kata mewah, namun tidak menghalangi selera makan kami. Bahkan, beberapa kawan minta tambah karena terlalu berselera. Sementara para peserta makan di beranda depan, kami (panitia) makan di dapur bersama keluarga bu Darmis. 

Selesai makan, dua orang gadis yang tadi berdiri di gerbang menawarkan kue kecil. Godok namanya. Kue kecil dari ubi goreng diberi gula merah ditengahnya.

Acara selanjutnya, kami mendengarkan legenda suku Batin dan asal usul rumah tuo yang diceritakan oleh pak Iskandar. Beliau merupakan suami bu Darmis. Bu Darmis merupakan keturunan ke-14 dari Puyang Depati, tokoh yang dipercaya sebagai nenek moyang suku Batin.

Sesuai dengan adat istiadat suku Batin, pemilik pusako tinggi yaitu rumah dan tanah adalah ibu. Sehingga rumah ini sebenarnya adalah milik ibu Darmis. Rumah ini nantinya akan diwariskan kepada anak perempuan ibu Darmis dan pak Iskandar.

Sore hari, kami beranjak ke sawah. Jaraknya sekitar sepuluh menit dari rumah tuo. Empat tahun saya tinggal di Merangin, saya baru tahu kalau ada sawah di Rantau Panjang haha. Dalam perjalanan menuju sawah, saya banyak bertemu dengan ibu-ibu yang memakai tengkuluk. Di Rantau Panjang, kewajiban memakai tengkuluk diterapkan untuk anak gadis sejak masa pensiun datang bulan. Ibu-ibu yang saya temui sangat ramah kamera. Mereka tidak malu-malu berpose dan tersenyum di depan lensa. 

DSC05175

seorang ibu menggendong anaknya, di pipinya dioleskan pilis untuk mengurangi efek sinar matahari

Di sawah, para peserta bermain tangkap ikan di selokan. Caranya, mereka diberikan jaring untuk menjala ikan. Peserta dengan jumlah ikan terbanyak menjadi pemenang. Sementara para peserta sibuk basah-basahan, kami para panitia sibuk mengabadikan mereka dalam bingkai foto.

Senja menjelang dan kami pulang ke rumah tuo. Para indok (ibu-ibu) sibuk memasak di halaman. Wajan besar, tungku air berukuran besar menandakan sang tuan rumah memasak untuk tamu yang berjumlah puluhan. Karena kamar mandi yang terbatas, lepas Maghrib saya baru sempat mandi. Itupun setelah semua peserta mandi.

Malam harinya, kami makan bersama-sama di rumah tuo. Gulai paku (sayur pakis) pedas disajikan bersama belut. Sangat menggugah selera. Mulut tak berhenti mengunyah. Nasi panas dan sayur yang pedas dimakan bersama-sama. Amboi sedapnya.

Lepas makan malam kami dihibur dengan berbagai atraksi kesenian khas masyarakat Rantau Panjang. Lampu-lampu neon dipasang di depan halaman rumah. Puluhan warga Rantau Panjang baik tua-muda, lelaki-perempuan datang memenuhi sekeliling halaman. 

Pertunjukan pertama menampilkan demo pencak silat selanjutnya sepak bola api. Bola dari rotan direndam dalam minyak tanah kemudian dimainkan oleh beberapa anak lelaki. Mereka memperagakan beberapa jurus tendangan ala bola takraw. Anehnya, badan dan baju mereka sama sekali tidak terbakar. Bukan hanya saya, beberapa pengunjung tampak takjub melihat pertunjukan tak biasa ini.

Pembawa acara memohon maaf karena tidak bisa menampilkan lukah gilo. Lukah gilo merupakan permainan mirip jailangkung. Sebuah lukah atau perangkap ikan tradisional dipakaikan baju manusia, dimantrai sehingga bisa menari dan bergerak-gerak.

Selanjutnya ada tari tradisional yang dibawakan para gadis. Judulnya tarian Ujung Tanjung dan Dendang di Rumah Tuo. Tari Ujung Tanjung merupakan tari klasik yang menceritakan kebersahajaan masyarakat suku Batin. Dendang di Rumah Tuo sebaliknya merupakan tari kreasi yang berkisah tentang keceriaan dan pergaulan muda-mudi.

Sebagai penutup, ibu-ibu, sebagian berusia lanjut naik ke panggung. Mereka memainkan kerinok, yaitu ansambel musik tradisional khas Jambi bagian barat. Terdiri dari satu unit alat musik mirip bonang yang disebut kelinong, gendang, dan sebuah alat musik petik berbentuk mirip mandolin. Lagu-lagu yang dinyanyikan dalam bahasa Jambi dialek Rantau Panjang. Saya tidak terlalu paham maksud liriknya. Saya hanya paham satu lagu : Ketalang Petang. Ketalang Petang, lagu Jambi populer yang dinyanyikan oleh Ikke Nurjannah sebenarnya berasal dari Rantau Panjang.

DSC05154

dari kiri ke kanan searah jarum jam : silat, sepak bola api, kerinok, tarian adat

Jelang tidur, peserta dibagi tiga kelompok. Dua kelompok laki-laki tidur di rumah tuo dan rumah di depannya, sedangkan peserta perempuan tidur agak jauh dari rumah tuo. Kami, para panitia tidur dengan mendirikan tenda di depan rumah tuo.

Iklan

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s