Postcard from Museum Geopark Merangin

19 Februari 2012.
Sudah hampir empat tahun sejak saya menginjakkan kaki untuk pertama kali di Bangko. Demi mencari sesuap nasi dan sebutir berlian menjalankan tugas sebagai tukang jalan-jalan tapi dibayari negara abdi negara. Teman-teman saya datang dan pergi. 

Menurut aturan yang terbaru di instansi kamu, seharusnya tahun lalu saya sudah mutasi ke kota lain. Namun, sampai saat ini saya masih menghuni kota sunyi ini.

….

Sejak kunjungan pertama ke museum geopark Merangin, saya telah jatuh hati dan beberapa kali datang ke museum keren ini. Terakhir kali, tepatnya awal bulan lalu saya datang kesini bareng keluarga : Nia dan mamanya untuk…. foto-foto dengan pakaian pengantin Merangin! Seandainya saya tahun ini dipindahkan ke kota lain, semoga ini akan menjadi kenangan yang manis untuk kami kenang.

Setelah bertemu dengan Novita dan Geta, sang pemandu di museum geopark, saya sedikit banyak belajar tentang apa itu geopark, fosil, sejarah dan budaya Jambi. Novita atau Dede’ bahkan dulu pernah menjadi finalis pemilihan duta wisata Bujang Upik Merangin. Selain itu rupanya Dede’ juga mempunyai bakat tata rias pengantin.

Selepas liburan singkat ke Jangkat kemarin, saya dan mama Nia tertarik mengenal pakaian adat Merangin. Singkat kata, kostum dan pernak-pernik termasuk make up disiapkan semua oleh Dede’. Tidak hanya merias, Dede’ juga akan menjadi fotografer untuk kami. Lokasin pemotretan dipilih di Museum Geopark Merangin.

Jam dua belas ketika istirahat siang, saya pulang ke rumah. Mama Nia rupanya belum siap sehingga saya harus menunggu sebentar. Dengan motor, saya berboncengan menuju museum.

Nia rupanya takut melihat manekin di museum. Jadilah saya menunggu bersama Nia di luar sementara mamanya dirias. Ruang kosong di samping meja resepsionis diubah menjadi tempat rias dadakan.

IMG_3275

d (2)

 Setelah mama Nia dirias dan memakai tekuluk (tutup kepala perempuan). Saya bersiap-siap untuk memakai pakaian adat Merangin. Bukan pakaian adat Merangin asli sebenarnya, melainkan modifikasi. Baju dan bawahan memakai baju kurung ala Minangkabau, sedangkan tutup kepala asli Merangin.

Perempuan yang telah menikah memakai tekuluk dengan ujung kain diletakkan di sebelah kanan pemakai. Tanjak (tutup kepala pria) khas Jambi dipakai menyamping di kepala. Bagian runcing di sebelah kanan untuk pria yang telah menikah, sedangkan bagian runcing di kiri jika belum menikah.

Pakaian adat kabupaten kota di Jambi bagian barat umumnya didominasi warna gelap seperti hitam untuk Merangin dan Kerinci serta biru tua di Sarolangun. Pengantin perempuan di Merangin mengenakan tutup dada mirip rompi yang disebut selangkawan dan mahkota yang disebut pandan berduri.

d (4) di ruangan geodiversity, saya memakai tutup kepala khas Kota Jambi

d (5)

saya memakai tutup kepala khas Merangin, di ruangan biodiversity

Kemana Nia selama kami berfoto? Nia tetap tidak mau masuk ke dalam museum meski kami bujuk. Saya minta tolong seorang staf untuk menjaga dia selama kami menjalani pemotretan :p .Di akhir sesi, saya minta berfoto bersama seluruh staf UPTD Geopark Merangin selaku pengelola Pusat Informasi Geopark Merangin Jambi.

d (1)

Setelah menjalani pengeditan foto (melalui Power Point) inilah hasil akhirnya. Yups, saya melakukan edit foto dengan Power Point!

ISNA

ISNA 2

Terimakasih untuk Dede’ untuk kostum dan make upnya, mas Yadi untuk pinjaman kameranya dan semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara foto-foto ini.

Iklan

18 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s