Late Post…

Buat saya dan mungkin sebagian besar pejalan yang lain, mencari teman jalan itu laksana mencari pasangan atau jodoh. Gampang-gampang susah…

***

Tahun 2012 -empat tahun yang lalu- saya terhitung masih aktif di situs berbagi cendol dan bata. Yah, meski masih nubie dan sebatas pembaca pasif. Sebuah postingan tentang Pulau Banyak dan Pulau Palambak berhasil bertengger di urutan teratas sebagai Hot Tread. Penulisnya seseorang yang belum saya kenal. Namanya Danan Wahyu Sumirat. Tinggal di Jambi dan Lampung.

Beberapa hari berselang, ponsel saya berbunyi. Sebuah sms (saat itu belum musim pesan instan) dari mas Hendi. Teman jalan saya di Sungai Penuh. Di rumah mas Hendi sedang kedatangan dua kawan dari Jambi yang hendak menghabiskan liburan ke Kerinci.

Malam itu saya ngobrol banyak dengan Lilia dan Danan, kawan baru saya. Lilia gadis asli Kerinci berdarah campuran Kerinci dan Padang. Sedangkan Danan berdarah Jawa, tinggal di Lampung dan Jambi.  

Minggu pagi, saya, Danan, Lilia, mas Hendi ngetrip bareng ke sejumlah tempat wisata di Kerinci : Pulau Tengah (ini bukan nama Pulau, melainkan nama desa kuno dimana disana terdapat masjid kuno zaman kolonial, jembatan bersejarah hingga bebatuan zaman prasejarah). Danau Kerinci, hingga ke sejumlah tempat di desa Lempur seperti danau Lingkat dan masjid kuno.

Sejak trip singkat di Kerinci, saya beberapa kali bertemu dengan mereka, terutama Lilia. Lilia tinggal di sebuah rumah toko di kawasan Transito, Jambi. Beberapa kali saya ngemper di rumahnya sebelum melanjutkan perjalanan ke bandara Jambi. Sejak 2014, Lilia melanjutkan kuliah pasca sarjana di Surabaya. Meski pindah ke Surabaya, saya masih tetap ngemper di rumahnya yang dikelola oleh temannya.

***

Kali ini saya mau cerita soal Danan. Saya merasakan ada sebuah chemistry bersama Danan sejak ngetrip pertama kali. Bukan, maksudnya bukan chemistry yang itu yah -_-. Jalan-jalan hemat tentu persamaan kami, meski tidak melulu menghemat kantong. Kami sama-sama doyan makan enak, meski porsi dia lebih banyak. Kami juga suka ngobrolin segala sesuatu, terutama soal traveling, peninggalan sejarah, gamolan, gamalon dan gamelan. Seperti mak-mak manusia pada umumnya, kami kadang juga suka nyinyir soal gosip si anu, gosip si itu hahaha #ups. Selain itu, kami sama-sama LDR. Saya di Sungai Penuh sedangkan istri masih bekerja di sebuah perusahaan di Jawa. Danan bekerja di Jambi sedangkan dia tidak tahu pacarnya sedang dimana rimbanya #ups. Tak heran, kalimat-kalimat obrolan kami kadang absurd, kadang galau.

Bangko, dua tahun yang lalu

Januari 2014 saya ada tugas ke kantor ke Padang dan menginap di sebuah hotel berbintang. Kebetulan Danan merencanakan liburan ke Padang dan Solok. Reuni kecil kami lakukan di Padang. Setelah menikmati fajar di pantai Padang dan sarapan, kami berpisah karena Danan akan melanjutkan perjalanan dengan teman dari Backpacker Padang.  

 hotel Pangeran Beach, Padang

Sepucuk surat, maksudnya sebuah surat elektronik memutuskan bahwa Danan harus berpindah tugas dari Jambi ke Batam. Meski bukan sebuah kesedihan, saya paham bahwa kawan saya diliputi gundah. Pola kerja dua minggu kerja seminggu libur di Jambi akan diganti dengan lima hari kerja dua hari libur di Batam.

Untuk “merayakan” kepindahan ini, kami menyusun sebuah rencana perjalanan. Awalnya kami hendak ke Jangkat, sayang kawan di Jangkat tiba-tiba harus pergi ke luar kota sehingga rencana ke Jangkat kami urungkan.

“Ke Kerinci aja yook. Nginap di kebun teh Kayu Aro sambil lihat gunung Kerinci,” ajak saya kepada Danan.

Gayung pun bersambut, perjalanan ini kami namakan farewell trip alias jalan-jalan perpisahan. Perpisahan Danan dengan alam Kerinci setelah empat tahun bekerja di Jambi.

Demi menyambut tamu agung ini, sedikit persiapan saya lakukan di kosan saya di Bangko. Salah satunya dengan membeli kasur baru dan kipas angin baru. Sebelumnya saya terbiasa tidur dengan tanpa kipas angin.

Di Bangko, saya ajak Danan keliling ke sejumlah tempat wisata. Ini kali pertama Danan berkunjung ke Bangko. Habis pulang kantor, masih mengenakan seragam, saya ajak ke Jam Gento yang merupakan mercutanda kota ini. Perjalanan kami teruskan ke museum pemkab Merangin yang lebih menyerupai gudang barang bekas ketimbang museum. Lantas ke taman burung Bukit Tiung.

photo 3 selfie di depan Jam Gento

DSC09797 Museum Pemkab Merangin

Jumat sore, kami memesan sebuah mobil sewaan untuk pergi ke Kerinci. Tidak hanya berdua, saya ajak beberapa teman untuk ke Kerinci kalau perginya berdua, yang ketiga adalah setan 😀 .

Di Kerinci, kami menginap di KP2KP Sungai Penuh, di kantor lama saya. Pagi hari, selepas sarapan kami treking ke Bukit Sentiong, titik tertinggi di pusat kota Sungai Penuh. Siangnya, kami hendak ke Kayu Aro dan menginap disana. Sayangnya, semua homestay penuh. Kami menginap di Telun Berasap, desa kecil di kaki gunung Kerinci dan gunung Tujuh.

Keesokan harinya kami baru ke Kayu Aro. Meski gunung Kerinci tertutup kabut tebal, kami tetap bahagia #ceile. 

photo6Kebun Teh, Kayu Aro

Kembali ke Bangko, saya ajak kembali Danan ke sejumlah objek wisata. Kali ini wisata sejarah dan budaya. Tepatnya ke perkampungan suku Batin di Rantau Panjang yang telah ada sejak abad ke-12. Suku Batin merupakan salah satu suku proto Melayu di Jambi, selain suku Kerinci dan suku Rimba / Anak Dalam. Pulang dari Rantau Panjang, kami singgah di Dam Betuk.

DSC00030Pak Iskandar, juru kunci rumah tua Rantau Panjang

Tak ada pesta yang tak berakhir. Dan ketika trip ini berakhir, Danan, sahabat saya memberikan sebuah souvenir dari Malaysia Nepal.

Hari Senin saya harus masuk kantor, sementara Danan akan pulang ke Jambi. Setelah sarapan, saya bersalaman dan berpamitan pergi ke kantor. Danan menunggu mobil travel di kamar saya. Di depan Danan, saya berusaha menyembunyikan kesedihan. Begitu berpisah, dalam perjalanan saya ke kantor, hati saya diliputi haru …. 😦

Takkan lari gunung di Kerinci
Takkan surut air danau Kerinci
Selamat jalan sahabat, sampai bertemu lagi di lain hari…

Bangko, 24 Januari 2016

*) Foto hak cipta Danan Wahyu Sumirat

Iklan

13 comments

  1. aslinya gua sedih ninggalin jambi.. tapi mungkin memang jalannya gini om. empat tahun di jambi dapet banyak sodara , gimana nggak susah move on.

    nih udah dua tahun di batam nggak dapet temen2 kaya kalian – tante lilia dan enter -. Tapi memang sih rasanya ngga boleh banding2in kadar pertemanan antar teman.

    Tapi mungkin karena pekerjaan yg padat dan ngga banyak libur, gaya jalan saya juga berubah, ngga sempat bertemu dengan backpacker.

    Tahun ini tante lilia balik ya ke jambi, ah aku mau ke jambi ah belum nyobain jembatan ancol lho

    • aku juga ikutan sedih, makanya postingan ini baru kelar setelah 2-4 tahun…
      :’)

      iya, katanya gitu… kapan sih dia kelar kuliahnya? om.. aku akhir maret mau rafting di sungai batang merangin, lagi cari temen… mau ikutan gak ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s