Jejak Terorisme di Museum Polri

Kamis, 14 Januari 2016, ledakan bom dan tembakan bergaung di Jakarta. Media sosial lantas diramaikan dengan seruan #KamiTidakTakut. Sebuah ajakan agar tidak takut terhadap teroris. Sekaligus wujud simpati kepada para korban dan dukungan kepada aparat kepolisian. 

Ingatan melayang setahun silam tatkala saya menyambangi Museum Polri setahun yang lalu. Ada apa saja disana?

Udara panas Jakarta tidak menghalangi saya untuk mengunjungi museum yang terletak di kawasan Blok M ini. Tidak jauh dari Fave Hotel Melawai tempat saya menginap. Kucuran keringat berganti kesejukan saat saya masuk ke gedung museum. Sebelumnya, saya harus melapor ke pos penjagaan di dekat pintu gerbang.

DSC00093

Di luar museum dipajang beberapa kendaraan operasional polisi d iantaranya : helikopter Bell 206 Jet Ranger buatan Amerika Serikat tahun 1975, panser M 8 seberat delapan ton buatan negara yang sama pada tahun 1941. Panser ini dipakai untuk menumpas G 30 S. Serta sepucuk meriam Talamburang peninggalan Belanda pada Perang Dunia kedua di Maluku.

DSC00043 lobi museum

Senyum manis mbak-mbak Polwan berparas cantik melumerkan hati menyambut kehadiran saya di lobi depan museum. Saya diijinkan untuk melihat-lihat isi museum setelah terlebih dulu meninggalkan KTP. Sebelum beranjak, saya harus menitipkan barang bawaan lantas diberikan brosur tentang Museum Polri.

Sosok bertubuh tinggi yang wujudnya dibuatkan patung di depan museum adalah Komjen Polisi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, Kepala Polri pertama yang menjabat tahun 1945 hingga 1959. Untuk mengenangnya, sebuah ruangan di sebelah kanan lobi diatur sedemikian rupa menyerupai wujud ruangan kerja beliau. Pada lobi ditempatkan  sebuah mobil patroli polisi, patung Tri Brata kepolisian dan daftar nama polisi yang gugur saat menjalankan tugas, termasuk polisi yang gugur saat peristiwa tsunami di Aceh dan Nias tahun 2004.

DSC00048

Ruangan Koleksi dan Peristiwa menyajikan sejarah polisi dari masa ke masa. Dipamerkan dalam bentuk foto dan diorama. Dari sejak Bhayangkara pada masa kerajaan Majapahit, politie pada masa kolonialisme, bergabung dengan TNI menjadi ABRI, hingga berpisah dari ABRI menjadi Polri. Selain itu dipamerkan alat-alat persenjataan, alat transportasi hingga pakaian polisi lintas generasi.

Sebuah foto hitam putih dari tahun 1948 menampilkan enam sosok perempuan mengapit seorang polisi laki-laki. Keenam perempuan tersebut dikenang sebagai polisi wanita (Polwan) pertama di Indonesia yang lulus dari sekolah polisi di Bukittinggi. Mereka adalah Kol. P. Nelly Pauna  Situmorang, Kol. P. Mariana Saanin Mufti, Kol. P. Djasmainar, Kol. P. Rosmalina Pramono, Kol. P. Rosnalia Taher dan Letkol. P. Dahniar Sukotjo.

DSC00050

Selanjutnya adalah ruangan Hall of  Fame yang menampilkan foto-foto Kapolri dan benda-benda memorabilia dari mantan Kapolri terdahulu. Termasuk sebuah ungkapan bernada satir dari mantan Kapolri Hoegeng di bawah ini.

DSC00055

 

 

Melangkah ke lantai dua merupakan ruang pamer atribut dan simbol kepolisian, ruang kepahlawanan yang menampilkan sosok kepahlawanan petugas kepolisian seperti Sukitman, seorang polisi korban penculikan G 30 S yang akhirnya menjadi saksi kunci ditemukannya sumur maut di Lubang Buaya, Jakarta.

DSC00061

Ruang penegakan hukum menampilkan alat-alat yang dipakai polisi dalam mengungkap kasus kejahatan. Seperti alat untuk mendeteksi uang palsu, alat deteksi narkoba. Ruangan Laboratorium Forensik menjelaskan bagaimana polisi mengungkap kasus pembunuhan seperti peralatan dengan label TKP Kit Pembunuhan yang berisi antara lain karton nomor, papan petunjuk, dan peralatan-peralatan yang menyerupai alat medis.

DSC00067

 

 

Masih di lantai dua, terdapat Kids Corner yang didesain ramah anak-anak. Dua orang polisi tampak bersantai karena sedang tidak ada kunjungan dari anak-anak sekolah. Di ruangan yang sangat berwarna ini, pengunjung anak-anak bisa bermain menangkap penjahat, tertib lalu lintas dan lain-lain.

DSC00065

Bagian paling menarik di lantai dua menampilkan kasus-kasus kejahatan yang cukup fenomenal di Indonesia. Antara lain kasus penjahat seksual Ryan Jombang, Kusni Kasdut, Joni Indo, Gayus Tambunan. Kasus terorisme mendapat porsi cukup besar. Mulai dari kasus bom Bali, bom hotel JW Mariot Kuningan hingga penyerbuan markas teroris Dr. Azahari saat disergap tim Densus 88 tahun 2005 di Batu, Jawa Timur. Sejumlah bukti kejahatan meliputi sebuah ponsel Nokia tipe 3350 pemicu  bom bali tahun 2002 turut dipamerkan. 

DSC000839

dari kiri searah jarum jam : ponsel Nokia tipe 3350, kacamata Dr. Azahari, paspor milik terpidana teroris Imam Samudera, pecahan bom bali 2002 

DSC00083 sisa rangka mobil (chasis) yang dikemudikan Amrozi saat peledakan Bom Bali 1

Teroris tak perlu ditakuti, tetapi harus diwaspadai. Tertarik mengunjungi Museum Polri? Gratis!

Museum Polri
Jl. Trunojoyo No. 3, Blok M, Jakarta Selatan 12110
Jam buka :
Senin – Jumat, 08:00 – 15:00
Sabtu-Minggu, libur nasional tutup
HTM : Gratis

Iklan

28 comments

  1. Museumnya menarik… polisi pasti canggih dalam mengungkap kasus, keren, tak beda dengan yang ada di serial-serial kriminal, bahkan mungkin lebih canggih. Apalagi kalau barang-barang di sana dijamin otentik bukan replika, benar-benar jadi memento yang mengingatkan masa lalu sembari bersiap supaya masa depan nanti tidak ada teroris dan segala macamnya :amin.
    Tapi kalau Sabtu-Minggu tutup, agak peer juga kalau mau ke sana… :hehe.

  2. Sepertinya bagian Koleksi & Peristiwa dan Kids Corner yang paling menarik di sini. Tampilan di Koleksi & Peristiwa kontemporer kayak museum-museum modern berbayar ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s