Liburan Bersahaja ke Jangkat

Liburan terkadang identik dengan kemewahan. Juga (harus) menghabiskan banyak uang. Namun, Natal kemarin, kami memilih untuk menenangkan pikiran sejenak ke Jangkat, wilayah sunyi nan asri di tepi hutan Taman Nasional Kerinci Seblat.

“Bang, SMP 4 dekat mano?” tanya lelaki di ujung telepon.
“Simpang empat masih terus, Bang.” jawab saya menjelaskan posisi rumah saya. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berplat hitam berhenti di depan rumah. Seorang lelaki muda keluar dari kemudi. Mama Nia dan Nia masuk ke mobil travel, sedangkan saya sibuk memasukkan koper, tas dan bawaan lain ke dalam bagasi. Nia duduk di depan, di samping sopir. Saya duduk di tengah. Di sebelah saya diletakkan begitu saja sepeda balita. Bagasi belakang penuh dengan aneka kardus, membumbung tinggi menyentuh atap mobil.

“Tahu desa Koto Jayo, Bang?” ujar saya memecah kesunyian.
“Dusun kami tu Bang,” jawab Ronika, sang pengemudi travel.
“Oh, kenal Santy Bang yo?”
Rupanya Ronika tetangga satu kampung dengan Santy, kawan saya di Jangkat. Menit-menit berikutnya, ruangan dalam mobil yang ber-AC menjadi hangat seiring obrolan kami dengan Ronika.

Setidaknya sudah dua kali saya merencakan liburan ke Jangkat. Semua akhirnya hanya terwujud dalam angan belaka. Jangkat awalnya bukan destinasi liburan Natal kami. Ia kami pilih karena liburan ke Batam agak overbudget. Lagian, kami harus berhemat karena 2016 ada sejumlah agenda ke luar pulau yang hendak kami datangi.

Tiba di Pasar Atas Bangko, mobil berhenti mengangkut penumpang. Seorang pria paruh baya beserta istri dan anaknya yang masih balita. Bapak itu tinggal di Lubuk Pungguk, Jangkat. Datang ke Bangko untuk menengok anaknya yang kuliah disini. Ronika dan bapak itu terlibat dalam pembicaraan dalam bahasa Batin dialek Jangkat. Sayayang baru pertama kali mendengar sama sekali tidak dapat memahaminya.

DSC04665

Di simpang desa Pulau Rengas, mobil berbelok ke kiri. Jika lurus akan menuju Sungai Penuh dan Kerinci. Jalan yang kami lalui semakin berliku dengan lebar yang tidak seberapa. Hanya cukup untuk dua mobil kecil jika berjalan secara berpapasan. Perjalanan saya dulu hanya sampai Pulau Rengas. Ada apa setelah desa ini seperti tabir yang menunggu untuk tersibak.

Jalan berliku membuat badan tergoncang kesana kemari. Alhamdulillah Nia dan mamanya tidak mabuk. Sebungkus Antimo benar-benar menjadi penolong perjalanan saya.

Sampai dengan kecamatan Tiang Pumpung, rumah-rumah penduduk masih berdiri dengan cukup rapat. Kebanyakan berdinding kayu dan berbentuk panggung. Masuk ke Muara Siau, vegetasi pohon besar khas hutan tropis mulai tampak. Sebelum masuk pasar, kami melintasi sungai Batang Tembesi, salah satu anak sungai Batanghari.

Dua jam sejak keberangkatan, kami tiba di desa Pasar Masurai, pusat keramaian dari kecamatan Lembah Masurai. Wilayah ini berada di kaki gunung Masurai, titik tertinggi di kabupaten Merangin (2945 mdpl). Dari depan rumah makan gunung Masurai malu-malu menampakkan dirinya. Sebagian besar badannya berselimut kabut tebal.

Pasar desa Masurai hanya terdiri dari beberapa ruko kayu sederhana. Rumah Makan Reski menjadi tempat untuk beristirahat mengisi perut dan memenuhi pangggilan alam. Nasi putih, ayam goreng dingin dan teh hangat menjadi pengganjal perut yang lapar.

DSC04677

 Dua jam lagi kami akan tiba di Jangkat. Semakin lama pepohonan semakin rapat. Udara semakin dingin. Masurai mulai menyibakkan keanggunannya. Kabut makin tipis, tetapi kami belum bisa menyaksikan puncaknya.

Hampir masuk Jangkat, kabut di jalanan justru semakin tebal. Menciptakan selimut berwarna kelabu. Mobil berjalan perlahan sambil membunyikan klakson di setiap tikungan. Pada sebuah ujung turunan, puluhan orang berkerumun di tengah jalan. Sebuah truk terbalik, keluar dari jalan dan masuk ke dalam jurang. Tidak hanya sebuah, tidak terlalu jauh dari truk pertama, sebuah truk mengalami nasib yang sama.

Mobilnyo kelebihan muatan, jadi dak kuat nanjak,” jelas Ronika.

DSC04690

Gerimis turun menyambut kedatangan kami di kecamatan Jangkat. Masuk desa Renah Alai, puncak Masurai tampak gagah memeluk angkasa.

“Itu simpang ke Danau Pauh,” tunjuk Ronika sambil memandang ke sebelah kanan. Rumah Santy terletak beberapa kilometer dari simpang Danau Pauh. Mobil berhenti di sebuah rumah panggung tepat di tepi jalan raya. Mendengar kami tiba, Santy dan bang Sahron, suami Santy keluar dari rumah dan membantu kami mengambil barang dari dalam mobil.  

Kami duduk di lantai atas bersama bang Sahron. Sebelum duduk, bang Sahron menggelar lepek, alas duduk dari anyaman daun pandan. Segelas teh hangat dan dudul menjadi teman ngobrol. Karena kami datang saat perayaan Maulid, warga Jangkat termasuk Santy membuat dudul atau dodol sebagai penganan istimewa. Terbuat dari tepung ketan dan campuran kelapa, dudul dimasak dengan cara dimasukkan ke dalam bambu dan dipanggang. Rasanya manis dan berbau khas kue yang dipanggang. Masyarakat Jangkat akan saling berkunjung dan bertukar dudul kepada sanak keluarga dan tetangga.

Tinggal di daerah pegunungan yang subur, masyarakat Jangkat hidup dari sawah dan kebun yang subur. Komoditas unggulan dari Jangkat terutama adalah beras, sayuran dan buah-buahan.

Tidak seperti daerah lain di Merangin, sarana listrik dan komunikasi masih terbatas. Listrik hanya hidup dari sore hingga pagi hari. Namun, saat hari Jumat dan hari besar agama Islam, listrik akan hidup selama 24 jam. Listrik bersumber dari tenaga mikrohidro. Selama di Jangkat, hanya sinyal Telkomsel yang aktif di ponsel saya.

DSC04692
DSC04713

Habis sholat Ashar, kami minta ijin untuk melihat-lihat keadaan sekitar rumah. Saya, Nia dan mamanya berjalan menuju sebuah jembatan berangka besi, tidak jauh dari rumah. Jembatan Sungai Mentenang; nama yang tertera pada tembok putih yang kusam di ujung jembatan. Di bawahnya mengalir sungai yang alirannya cukup deras, tidak tenang, tetapi cukup jernih. Kembali ke rumah Santy, mata saya menangkap jalan setapak menuju ke arah sungai. Saya turun melewati jalan yang cukup licin, duduk di tepian dan membasuh muka. Nyesss…dinginnya air pegunungan menyejukkan pikiran. Sepertinya saya harus mandi disini esok hari.

DSC04705

Malam itu kami makan besar. Bang Sahron memotong sendiri ayam yang dipelihara di belakang rumah. Setelah dikuliti dan dicuci, ayam tersebut dibumbui ala kadarnya lalu dipanggang di perapian.

Dapur untuk masyarakat Jangkat memiliki makna khusus. Bukan sekedar tempat memasak, bahkan sekaligus sebagai ruang makan. Mereka tidak menggunakan kompor, melainkan kayu bakar dari ladang sendiri. Uniknya, perapian berada di dalam rumah. Untuk mencegah kebakaran, dipakai tanah liat sebagai alas.  

Sembari menunggu mentari terbenam, kami duduk menghangatkan diri di sekeliling perapian. Dengan cekatan, Santy menyiapkan sayuran sementara bang Sahron memanggang ayam. 

DSC04716

DSC04721– bersambung –

Iklan

23 comments

  1. Perapiannya sungguh bersih & rapi, walau kdg tggl di desa yg sdh sdkit trpngruh bdaya modern mmg membosankan sprti rumahku saat ini yg bising dgn suara lalu lalang kendaraan. Tggl di desa tp sisi desanya mulai hilang

  2. Memang sederhana. Tapi, saya melihat kemewahan-kemewahan dalam balutan tradisi dan suasana lokal, yang mungkin tak semua orang (di perkotaan) bisa menikmatinya. Bersahaja, tapi berkesan Om. Pilihan yang tepat berlibur hemat di tempat yang tentram 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s