Danau Pauh, Mutiara dari Jangkat

Langit di luar telah berubah dari jingga menjadi kebiruan, lalu pekat. Azan telah lama bergema dari masjid di dekat rumah Santy. Kami menikmati makan malam dengan lahap. Ayam bakar, sayur bayam dan sambal.

“Kami jarang makan daging, Mas,” ujar bang Sahron, sambil menuangkan nasi ke piring.
“Kenapa, Bang?” tanya saya keheranan.
“Daging mahal, Mas. Kami makan daging kalau ado bantai adat bae.”
Bantai adat adalah upacara adat suku Batin berupa pemotongan hewan ternak berupa beberapa sapi, untuk kemudian dagingnya dibagi-bagi kepada masyarakat. Biasanya dilakukan menjelang Idul Fitri atau hari besar agama Islam. Sumber dana dikumpulkan dari masyarakat secara patungan.

“Kami lebih sering makan sayur, Mas,” tambah Santy.
“Hayok tambah lagi nasinya, Mas,” ujar bang Sahron. Memang, tinggal di tempat berhawa dingin memicu nafsu makan saya. Tak sungkan rasanya saya menambah nasi. Diam-diam saya mengagumi pola diet orang Jangkat. Banyak makan sayur dan sedikit makan daging. Di samping itu, mereka terbiasa memanfaatkan sawah dan kebun sebagai sumber pangan. Beras diambil dari sawah sendiri. Sayur tinggal petik di kebun. Ikan melimpah di sungai belakang rumah. Ah..saya iri dengan mereka.

Saya bertemu dengan Santy pertama kali saat gathering CouchSurfing Regional Jambi di Kota Jambi. Sejak itu, Santy berkunjung beberapa kali ke Bangko. Namun, saya belum sekalipun bertandang ke rumahnya. Sehari-hari Santy mengajar Fisika di SMK Negeri 8 Merangin. Bang Sahron, suaminya, mengajar di MA Pulau Tengah. Sesuai adat matrilinial suku Batin, setelah menikah bang Sahron tinggal di rumah istrinya. Ayah dan adik laki-laki Santy tidak lagi tinggal di rumah Santy, tetapi berpindah ke rumah baru, masih di desa Pulau Tengah. Rumah dan sawah menurut adat merupakan pusako tinggi yang wajib diberikan kepada anak bungsu perempuan setelah menikah.

***

Pagi yang dingin membuat saya malas beranjak dari selimut. Begitu membuka mulut, asap tipis menguar dari tenggorokan. Air di bak mandi cukup untuk membuat badan saya mengigil. Dingin seperti es, tetapi amat menyegarkan. Setelah mandi, kami duduk beralas lepek di dapur. Nyonya rumah telah menyiapkan sarapan : nasi goreng pedas yang menggugah selera.

DSC04735

Hari ini adalah hari Jumat, hari dimana listrik akan menyala selama 24 jam penuh. Selain hari Jumat, listrik akan padam mulai jam 8 pagi hingga 4 sore.

Pagi ini kami hendak pergi ke danau Pauh, salah satu obyek wisata di desa Pulau Tengah kecamatan Jangkat. Letaknya beberapa kilometer dari jalan raya Bangko – Jangkat. Tepatnya di dusun Danau Pauh. Saya dan mama Nia naik motor dari Santy. Kami ditemani Akbar, adik Santy. Lima belas menit perjalanan, kami tiba di kebun stroberi terlebih dulu. Tiket masuknya murah, hanya Rp 5.000,- termasuk makan buah stroberi sepuasnya. Di ujung tampak panorama gunung Masurai yang kakinya berdiri kokoh di tiga kecamatan dengan sebutan Lembah Jang Tenang : Lembah Masurai, Jangkat dan Sungai Tenang.

DSC04756


DSC04752

Kami sempat singgah di rumah ayah Santy dan abang tertua Santy di dekat simpang menuju Danau Pauh.

Danau Pauh merupakan danau vulkanik tipe maar yang terbentuk karena letusan gunung Masurai Purba. Di ujung tampak berdiri tiga gunung secara bersambung : gunung Sumbing, gunung Nilo dan gunung Masurai. Tidak dikenakan tiket masuk ke are wisata danau Pauh. Warnanya yang biru pekat memantulkan kiasan gunung Masurai di atasnya.

Beberapa bulan yang lalu seorang pengunjung tewas di danau Pauh. Dia tenggelam ketika sedang naik rakit bersama teman-temanya.  Saat hendak mengambil dayung, ia terjatuh ke danau. Sayang, ia tidak bisa berenang. Jasadnya ditemukan enam hari setelah kejadian.DSC04772DSC04773DSC04792

 

Selain danau Pauh, desa Pulau Tengah masih menyimpan pesona lain. Air terjun Mentelun dan masjid Pulau Tengah. Air terjun Mentelun merupakan sumber energi listrik dari tenaga mikrohidro yang dipasang warga secara swakarsa. Warga dibantu oleh sebuah LSM di bawah pimpinan Tri Mumpuni, sosok yang pernah saya lihat di acara tv Kick Andy!

Lepas sholat Jumat, kami berencana pergi ke Muara Madras, ibukota kecamatan Jangkat. Jaraknya sekitar 15 menit dari Pulau Tengah. Setelah reformasi, Jangkat dimekarkan menjadi dua kecamatan dengan Sungai Tenang sebagai daerah pemekaran. Tahun 2015, nama Sungai Tenang diubah menjadi kecamatan Jangkat Timur.

DSC04826 Perkampungan di Muara Madras

Muara Madras tak ubahnya seperti Pulau Tengah, sepi dan warganya sangat bersahaja. Tidak ada pasar, tidak ada ATM, apalagi bank. Sama halnya dengan desa-desa lain di Jangkat, di Muara Madras listrik hanya hidup jika malam hari dan hari Jumat. Sampai tulisan ini dibuat, saya masih penasaran adakah hubungan Madras di Jangkat dengan Madras di India. 

Di Muara Madras, terdapat sebuah masjid bersejarah berusia ratusan tahun bernama masjid Rajo Tiangso. Didirikan oleh ulama bernama Muhammad Amin bergelar Rajo Tiangso  yang dipercaya sebagai tokoh penyebar Islam di Jangkat dan sekitarnya. Bangunan masjid sudah direnovasi dari bentuk aslinya. Yang tersisa hanyalah sebuah tiang tunggal berukuran besar. Terletak di tengah-tengah bangunan utama.

DSC04820DSC04822

Selain itu, tak jauh dari masjid Rajo Tiangso terdapat sebuah rumah kuno yang disebut Rumah Sepaku. Dibangun lebih dari seratus tahun yang lalu tanpa menggunakan paku. Rumah berukuran kecil ini berdinding kayu dan beratap kayu. Semula, rumah ini hendak dihancurkan oleh masyarakat karena tidak bertuan. Seorang Swiss bernama Pieter akhirnya tergerak hatinya untuk menyelamatkan rumah ini. Dia membeli rumah ini, dan diserahkan kepada warga sekitar untuk dipelihara.

DSC04825

Mendung menggulung di langit tatkala kami hendak pulang. Di Muara Madras, hanya terdapat dua rumah makan Padang dan sebuah kedai sate Padang. Nasib kurang baik, saat singgah di kedai, sate Padang telah habis dipesan orang.

– bersambung –

Iklan

6 comments

    • iya.. ditambah lagi udaranya masih sejuk dan bebas polusi mas.. kalo ke jambi saya temenin kesini haha… mereka suka makan sayur, sambal, dan ikan.. ngebayangin ini jadi pengen liburan kesana lagi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s