[New] Museum Kereta Api Ambarawa

Buat saya, kereta api dan Ambarawa adalah salah satu mozaik kehidupan terindah. Sejak kuliah di Jakarta, saya lebih sering menggunakan moda kereta api untuk pergi-pulang ke Semarang. Stasiun Poncol menjadi tempat pemberhentian langganan, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Ambarawa dengan bus kecil.

Sebagian hidup saya habiskan di Ambarawa, kota kecil berjuluk kota Palagan. Setelah menikah di Ambarawa, saya memutuskan untuk tinggal di kota ini. Alasannya, saya jatuh cinta dengan kereta api dan museum kereta api.

DSC01278museum Kereta Api Ambarawa

Saya masih ingat betul kapan pertama kali berkunjung ke Ambarawa, tepatnya Museum Kereta Api Ambarawa. Saya masih duduk di bangku kelas 3 pendidikan dasar. Saat itu saya menemani kedua orang tua menengok salah seorang kerabat yang dirawat di RSUD Ambarawa. Sebelum pulang ke Ampel, ayah mempunyai ide untuk mengajak kami berkunjung ke Monumen Palagan dan Museum Kereta Api. Tak hanya melihat-lihat gerbong kereta api renta, saya -yang penyuka kendaraan umum dan belum pernah naik kereta api- amat antusias menaiki kereta-kereta yang dipajang di luar museum. Kunjungan pertama tersebut begitu membekas di benal saya.

Kunjungan-kunjungan selanjutnya terjadi ketika saya beranjak remaja. Pernah suatu ketika, habis pacaran dari rumah pacar saya di Salatiga, saya ajak adik-adik ke Museum Ambarawa. Selanjutnya pacar saya pindah rumah ke Ambarawa. November 2011, janur kuning melengkung di rumah pacar saya dan kami resmi menyandang status baru.

Momen pernikahan kami sekaligus menjadi momen dimulainya renovasi Museum Kereta Api Ambarawa pada tahun 2011. Sekian tahun menunggu, setelah pemugaran besar-besaran, akhir 2015 Museum Kereta Api dibuka kembali dengan konsep baru.

Dari rumah istri saya di Tambakboyo, perjalanan ke museum ditempuh selama sepuluh menit. Setelah meletakkan motor, kami membeli tiket masuk di dekat depo lokomotif. Di tempat ini diparkir tiga lokomotif uap yang merupakan koleksi utama museum. Jika dulu gerbong-gerbong tua harus rela kepanasan dan kehujanan, sekarang mereka bisa bernafas lega. Mereka diletakkan di bawah kanopi yang cukup untuk melindungi lokomotif dan gerbong tua berusia lebih dari lima puluhan tahun itu.

DSC01321 kanopi pelindung lokomotif dan gerbong, di sebelah kiri istri dan anak saya

Sebelum masuk ke gedung utama museum yang merupakan bekas Stasiun Willem I, pengunjung biasanya akan berfoto di panel bertuliskan I am barawa. Biar kekinian kata mereka.

DSC01328tempat berfoto kekinian

Jika dulu museum ini teramat penuh dengan penjaja makanan keliling dan pengamen, pemandangan itu tidak akan dijumpai lagi. Pengunjung bebas mengamati detil stasiun tua ini, meresapi aroma kekunoaan sambil sesekali atau berkali-kali melakukan selfie dan wefie. Sampai saat ini, pesona tua museum Ambarawa masih mengundang minat sejumlah sutradara untuk membuat film terutama sejarah di Ambarawa. Jika di film ada adegan kereta uap berhenti di stasiun kereta, bisa dipastikan adegan itu sebenarnya mengambil lokasi di museum ini.

DSC01286 bangunan utama museum, sejumlah film nasional mengambil lokasi di sini 

DSC01297 keramik kuno

Masuk ke dalam gedung utama, tidak terlalu banyak perubahan. Alat-alat penunjang industri perkeretaapian masih setia menyapa pengunjung museum. Sayang, banyak yang tidak dilengkapi dengan keterangan.

DSC01299miniatur lokomotif dan gerbong tua 

DSC01294 bekas tempat penjualan tiket 

Beralih ke bagian ujung, tepatnya di dekat mushola dibuat panel sejarah dunia perkeretaapian di Indonesia. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa stasiun pertama di Indonesia sudah tidak ada lagi. Kereta lori pertama dipakai untuk mengangkut batubara di Tenggarong, Kalimantan Timur pada tahun 1849. Kereta api pernah berjaya di Sulawesi, tepatnya menghubungkan Makassar dan Takalar pada tahun 1922.

DSC01300 tua-tua mesra 🙂 di depan kakek-nenek ini dipajang panel sejarah kereta api di Indonesia

Menutup postingan ini, saya beritahukan bahwa sejak akhir 2015, bapak mertua memutuskan untuk pindah rumah dari Ambarawa. Sampai jumpa lagi Ambarawa, selamat tinggal kota penuh kenangan :’)

Iklan

12 comments

  1. kayak baca sejarah ambarawa ya bang? 🙂
    nice story bang. kereta api adalah kenderaan kesenangan almh ibu saya. sayangnya, saya malah nggak terlalu demen naik kereta. mabuk bang 😀

  2. Tidak minat beli rumah di Ambarawakah Mas? Sayang sekali kalau kenangan harus ditinggalkan, apalagi banyak kenangan yang mengubah hidup di kota itu :hehe. Tapi saya hanya berandai-andai lho Mas :haha.
    Stasiun yang indah dan mulai dijaga, diabadikan dengan teknik fotografi panorama yang apik, cantik sekali. Share tekniknya dong Mas. Tegelnya juga cantik banget itu :aaaak. Selama ini saya belum pernah mengamati tegel yang seindah itu secara langsung :huhu. Makin penasaran dengan Ambarawa, semoga bisa ke sana.

    • ditunggu di ambarawa gara, rumah mertua sekarang di tuntang, ya tengah2 antara ambarawa dan salatiga 🙂
      pengen beli di rumah, tapi saya dan mamanya mbok nia belum sependapat mau beli dimana 😀

    • museum ambarawa makin cantik gara, sebanding dengan renovasinya yang berlangsung selama hampir 4 tahun, emang sih renovasinya perlahan-lahan, mungkin menyesuaikan dengan kantongnya kai #sotau 😀
      kalo jalur tuntang-kedungjati udah aktif, katanya (ini gosip, jangan dipercaya dulu) haha.. entar bakal ada kereta reguler dari semarang-ambarawa 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s