“Rumah” Sederhana sang Dokter

Aku Bangkai Bernyawa*

Aku ba’ bangkai bernyawa
Mati belum, hidup tidak
       Siang tegang, malam muram
       Beban berat, derita dekat
               Hati hangus, harap habis
               Jiwa jerit, tawa tangis

Mamiku sayang, kawan joang
Buram senantiasa hari s’karang
        Tidak menentu masa datang
         Binasa besi, habis arang
               Padamu pahlawanku sayang
               Hingga dikubur kuberhutang.

Siti Aminah atau Bu Cip, perempuan tua berparas Indo-Belanda itu menangis membaca puisi mendiang suaminya. Seluruh tubuhnya bergetar, hancur luluh hatinya seperti kaca berjatuhan pada batu.

Puisi itu ditulis tangan oleh suaminya, Pak Cip. Ditemukan pada sebuah amplop bertutup rapat yang berwarna putih kekuning-kuningan karena terlalu lama disimpan. Kertas yang dipakai untuk menulis puisi tak kalah renta. Warnanya putih kekuningan. Sehelai rambut panjang Bu Cip ditemukan bersama dengan puisi itu. Air matanya jatuh berderai.

*** 

DSC07543 rumah kuno di Pasar Ambarawa

Langkah kaki saya percepat menuju ke arah makam pahlawan nasional dr. Cipto Mangunkusumo. Setelah ditolak masuk ke Hok Tik Bio, saya berharap tidak akan mendapat perlakuan yang sama. Makam pahlawan yang namanya dijadikan nama rumah sakit terbesar di Indonesia ini berada di tidak jauh dari Pasar Projo, pasar terbesar di Ambarawa. Tepatnya di kawasan Kupang Tegal kelurahan Kupang. Papan petunjuk ke arah makam telah usang, tetapi masih bisa dibaca dengan jelas. Hanya seratus meter dari jalan, saya tiba di gerbang makam. Sunyi dan sepertinya saya sedang sendirian. Beruntung saya bertemu dengan salah seorang pengurus pemakaman.

DSC07553 DSC07549

Tidak ada cungkup atau bangunan joglo sebagaimana makam tokoh masyarakat atau tokoh agama lainnya. Pak Cip, panggilan akhrab dr. Cipto, memilih untuk dimakamkan dengan cara sederhana. Makamnya berupa nisan sederhana berwarna legam. Di belakangnya dibangun dinding dengan ornamen api nan tak kunjung padam, padi, burung, cempaka dan sosok wajah sang dokter. Ditorehkan juga angka 1886 dan 1943 yang merupakan tahun kelahiran dan tahun wafat beliau. Di bawah citra pak Cip, ditulis kata-kata perjuangannya : rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

DSC07547

Makam pak Cip bersebelahan dengan makam istrinya Siti Aminah alias Marie Vogel. Menurut bapak pengurus, di kompleks pemakaman keluarga ini turut dimakamkan dr. Gunawan Mangunkusumo yang tak lain adik pak Cip, sekaligus salah satu tokoh pergerakan pendiri Budi Utomo pada tahun 1908.

Cipto Mangunkusumo lahir di Jepara tahun 1883. Ia pernah mengajar di sebuah Sekolah Dasar di Ambarawa. Setelah lulus STOVIA, karir politik pak Cip dimulai. Ia merupakan pendiri gerakan Budi Utomo, pendiri National Indische Partij (Partai Nasional Indonesia) pada tahun 1912 bersama EFE Douwes Dekker (Setiabudi) dan Ki Hajar Dewantara. Karena kevokalannya dalam menentang Belanda, pak Cip beberapa kali dibuang ke pengasingan. Di Banda, kesehatan pak Cip berangsur menurun hingga dipulangkan ke Jawa. Sang dokter meninggal karena asma tahun 1943 di Jakarta dan dimakamkan di Ambarawa. 

***

Rumah Sakit Yap Seng Ie, 1943**.
Sepulang dari Banda, kondisi kesehatan pak Cip makin menurun. Badannya kurus tinggal kulit pembungkus tulang, rambutnya memutih, jalannya terhuyung-huyung. Badannya sering gemetar dan nafasnya sering sesak.

“Mam! Maafkan aku!” ucap pak Cip lirih.
“Apa yang harus aku maafkan, Pap!” jawab bu Cip.
“Seringkali aku melukai hatimu, Mam.”
“Aku yang harus minta maaf, Pap. Aku bukan istri yang baik, bagimu.”
“Kau pahlawanku, Mam! Kau jiwaku.” ucap pak Cip terbata sambil tersenyum. Pak Cip dan bu Cip berpelukan. Pak Cip tiada dalam ciuman pipi bu Cip.

Berita meninggalnya dr. Cipto meninggal dengan cepat. Surat kabar Pembangunan memuat berita duka tersebut. Kiriman bunga dan telegram mengalir secara massal. Beberapa kawan dr. Cipto termasuk dua serangkai Bung Hatta dan Bung Karno turut datang menunjukkan perasaan belasungkawa. Setelah naik tahta menjadi presiden, Bung Karno masih menyempatkan diri menjenguk pak Cip, sahabat sekaligus seniornya di Ambarawa. 

*) **) Dikutip dari buku dr. Cipto Mangunkusumo karya Emdeman.

Iklan

17 comments

  1. Hm, kayaknya pemakaman ini masih dipakai hingga sekarang ya Mas. Dr. Cipto ini sekarang masih ada keturunannyakah? Atau beliau memang punya keluarga besar? Dan rumah kuno itu sekarang dijadikan toko bunga ya Mas, saya jadi penasaran dengan toko bunga itu. Atau apakah itu rumahnya dr. Cipto? Banyak pertanyaan nih, nanti kalau jalan ke Ambarawa saya diajak jalan-jalan ya Mas :hehe.

    • sip gara… kapan main kesana? hehe
      masih dipake sama lima keluarga tersebut gara.. kemaren sempat tanya, katanya keturunan pak cip udah nyebar kemana2, tapi kadang masih suka nyekar (berkunjung)… rumah kuno itu bukan punya pak cip, tapi rumah tionghoa yang banyak terdapat di sekitar pasar ambarawa (chinatownnya ambarawa)

        • kedua-duanya pernah menjadi ibukota kabupaten semarang, uniknya.. meski ibukota udah pindah dari ambarawa ke ungaran, bangunan lama kayak RS, kejaksaan, pengadilan gak dipindahkan, tetapi di ungaran dibangun bangunan baru..

        • gak tau pasti gara, kalo om gugel bilangnya karena ambarawa lahannya sempit jadi kurang layak kalo mau dibangun gedung2 baru.. uniknya, gedung lama masih dipake sampe sekarang. di kab. semarang ada pembagian wilayah kerja gitu karena kantornya dua, misalnnya yg pengadilan agama ambarawa melayani masyarakat kab. semarang bagian selatan, pengadilan agama ungaran buat masyarakat kab. semarang bagian utara 😉

          • Selain itu juga mungkin susah buat manajemen pegawai dan luas kabupaten yang besar juga bisa jadi faktor kali ya Mas, makanya seolah dibuat dua kota utama, yang membedakan cuma letak kantor bupati :hehe.

    • iya, di ambarawa gak ada kantor camat haha…
      ambarawa sebenarnya strategid di tengah2 kabupaten semarang
      kalo ungaran di ujung utara, berbatasan langsung dengan kota semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s