Ditolak Hok Tik Bio

“Pak, saged mlebet?” tanya saya kepada seorang lelaki paruh baya yang sepertinya adalah pengurus kelenteng.
“Ora entuk. Sampeyan meh foto-foto, tho?” jawab bapak tua tersebut sembari mengembangkan senyum.

Saya tersenyum kecut. Sudah banyak tempat ibadah Tionghoa saya datangi. Namun, di Ambarawa, di kampung halaman saya sendiri, saya tidak diperkenankan untuk masuk ke ruang ibadah.

Brainstorming terjadi. Mengapa di tempat ibadah yang ramai dan sudah menjadi tempat tujuan wisatawan, tidak ada larangan seperti itu? Bukankah jelas-jelas tempat ini bukanlah obyek wisata. Bukankah kita diwajibkan untuk menghormati kepercayaan dan adab agama lain? Demi menjaga kenyamanan pengunjung yang akan beribadah, saya berusaha berpikir positif.

Lantas, saya coba untuk berkeliling kelenteng tanpa bertanya-tanya lagi.

Hok Tik Bio atau sering disebut sebagai kelenteng Ambarawa merupakan rumah ibadah tertua di Kabupaten Semarang. Terletak di jalan jenderal Sudirman yang merupakan jalan utama penghubung kota Semarang dan Magelang. Tidak jauh dari monumen Palagan Ambarawa.

Seperti kelenteng pada umumnya, ada tiga rumah ibadah di sini : rumah ibadah umat Kong Hu Chu, rumah ibadah Taoisme dan vihara Buddha. Di samping kiri kelenteng terdapat sebuah batu atau punden yang dikeramatkan warga Ambarawa.

Masih ada penasaran di dada. Mengenai sosok siapa yang dibuat patungnya di dekat gapura, siapa yang membangun kelenteng ini, dewa apa yang dipuja dan kapan kelenteng ini dibangun. Beberapa pertanyaan yang sepertinya malas saya ketahui jawabnya.

“Pak, nyuwun pamit.”
“Yo.”
Saya pergi meninggalkan kelenteng dengan hanya sedikit rasa puas.

DSC07533
DSC07528
DSC07517 DSC07536

 

Iklan

19 comments

  1. Saya pernah ditegur juga pas di Pagoda Semarang. sejak itu saya menyadari bahwa memang kurang pantas kalau ‘berwisata’ ke tempat ibadah kecuali memang diizinkan. pelajaran. hehe

  2. Oalaaah ternyata asli Ambarawa tho? tak kirain orang Medan mas hahaha. Mungkin ada beberapa hal ya yang menyebabkan pengurus klenteng tersebut enggan mempersilakan sampeyan masuk ke dalamnya, atau juga pengunjung-pengunjung lainnya selain orang-orang yang bermaksud sembahyang di sana. Penasaran juga sih aku jadinya 🙂

    • yg di ambarawa bapak ibu mertua mas hehehe… aslinya sih boyolali, kalo di medan seseorang yang spesial haha (bukan istri loh)
      ya mas, aku kecewa, tapi ya mau gimana lagi
      kan bukan rumah kita juga 🙂

      • Spesial tapi bukan istri? jadi siapa? #malahdibahas

        Hahaha iya sih ya, kalau bukan rumah kita mau apa lagi? Cuma penolakan tanpa alasan khan bikin penasaran 🙂

    • atau mungkin erat kaitan sama “hoki” yah… hahaha
      kali aja kalo mas bartian kesana boleh masuk ke ruangan ibadah hehe
      soalnya bapaknya cukup ramah sebenarnya, tapi begitu tau saya pengunjung non buddhist/taoist/konghuchu langsung dilarang masuk

      ada mendiang adek (angkat) disana mas, anak CS, dapet marga dari dia..
      itu “oleh2” paling mengesankan waktu traveling ke sumut beberapa tahun silam 🙂

  3. Penasaran dengan punden yang dikeramatkan warga Ambarawa itu–bentuknya seperti apa, Mas? Sayang sekali memang kalau penganut agama lain tak diperkenankan masuk ke suatu tempat ibadah, tapi pasti ada alasan untuk itu dan kita mesti menghormatinya, mungkin dimaksudkan untuk menjaga kesucian tempat tersebut.
    Tapi mengenai tempat ibadah yang mengizinkan pengunjung masuk, yaa itu kembali ke pengelola masing-masing sih ya Mas :haha. Tapi apa pun keputusan mereka, kita harus menghormati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s