Rail Trip (5) : Jakarta

Rail Trip hampir berakhir. Dari Bandung kami menaiki Argo Parahyangan yang legendaris itu menuju Jakarta untuk bertemu beberapa teman blogger. Mendarat di bandara Lubuk Linggau kami disambut gelaran karpet merah. Kok bisa? 

“Saat engkau pergi tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Dia dia dia tlah mencuri hatiku …”

Lantunan lagu Fathin mengalun ketika saya memasuki peron Stasiun Bandung. Sumber suara berasal dari sekelompok musisi yang bertempat tepat di depan papan nama Bandung 709 mdpl. Mereka semua mulai dari dua orang penyanyi, seorang pemain keyboard, pemain gitar dan penabuh semacam gendang Afrika adalah para tunanetra. Sekali lagi, Bandung mengukuhkan diri sebagai kota kreatif. Diam-diam, saya kagum pada mereka, para difabel yang tidak pantang menyerah pada kehidupan ini…

DSC04134

 

hiasan kaca patri Stasiun Bandung 

DSC04135musisi tunanetra 

Bandung – Jakarta

Perjalanan kereta api antara Bandung-Jakarta bukanlah perjalanan biasa. Bahkan sebelum perjalanan itu dimulai. Kami disambut oleh senyum pramugari kereta sebelum memasuki kereta. Senyumnya manis dalam balutan busana berwarna biru dan topi kecil berwarna senada. Interior kereta eksekutif Argo Parahyangan terasa lapang dengan sandaran yang bisa diatur. Majalah dan tv disediakan untuk mengusir kebosanan penumpang. Meski, saya yakin pemandangan di luar tak pernah bosan untuk dilihat.

DSC04147 interior kereta api Argo Parahyangan kelas eksekutif

Jelang keberangkatan, pemberitahuan disiarkan lewat pengeras suara dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Pramugari yang tadi jumpai rupanya bertugas untuk menjual makanan di dalam kereta. Saya memesan zuppa sup hangat, makanan yang sama ketika saya naik Argo Parahyangan dari Jakarta ke Bandung tahun lalu.

Sepanjang perjalanan, saya disuguhi sawah, perbukitan di tepi jendela. Gunung Tangkuban Parahu tampak gagah melindungi Bandung. Antara Bandung dan Purwakarta banyak melewati jembatan panjang dimana di bawahnya terbentang sawah dan jurang menganga. Mendebarkan sekaligus memanjakan mata. Melewati terowongan Sasaksaat yang panjangnya mencapai hampir satu kilometer juga merupakan sensasi tersendiri. Di Purwakarta, terdapat “kuburan” kereta. Dimana puluhan gerbong kereta yang tidak terpakai dibiarkan teronggok disana.

DSC04141

 sawah, jurang, gunung, bukit 🙂

Kereta ini hanya berhenti di stasiun Cimahi, Bekasi lalu Jatinegara. Kami tiba di stasiun Gambir hampir pukul enam sore. Dengan menaiki taksi, kami menuju penginapan di bilangan Kebon Kacang, dekat pasar Tanah Abang. Kecil, namun bersih.

Kopdar Blogger

Habis check in di iHome Residence, saya menyempatkan makan malam bersama Tosa, kawan kuliah asal Banyumas yang bekerja di Jakarta. Sebuah warung Soto Lamongan di dekat hotel menjadi tempat yang asyik untuk kami menghabiskan waktu sejenak. Lepas makan kami berpisah, saya dan mama Nia ke Grand Indonesia naik limousine bajaj. Saya berencana untuk bertemu dengan teman-teman blogger.

Tiba di Grand Indonesia, saya langsung menuju West Mall. Kami berencana untuk bertemu di Magnum Cafe. Rencana mau bertemu mbak Yusmei, sayang beliau sedang sibuk. Magnum Cafe penuh karena weekeend, jadinya saya harus menunggu agak lama. Saya datang pertama, lalu disusul mbak Dita yang datang bersama Winnie dan seorang kawannya dan kak Akbar. Menyusul kemudian Gara, Joko dan terakhir adalah mas Fafa.

DSC04155

Ada banyak hal yang kami diskusikan malam itu. Karena banyak yang datang tentu saja obrolan menjadi sangat random. Mulai dari masalah traveling, hingga persoalan rumah tangga hahaha. Misalnya : Winnie rupanya memiliki ayah dan ibu yang sama-sama bermarga Siregar. Loh, kok? Lalu tentang mbak Dita yang menjalani LDR dengan bebeb suaminya 😛 . Tidak terasa hampir dua jam kami di Grand Indonesia. Kami berpisah dan berjanji akan bertemu lain kali. Terimakasih temans 🙂

Jakarta – Lubuk Linggau

Pagi hari, kami naik bajaj menuju stasiun Gambir lantas sarapan disana. Disambung naik Damri ke bandara. Setelah check in kami menuju ke ruang tunggu. Tiba di ruang tunggu kami mendapat info bahwa penerbangan dari Jakarta menuju Lubuk Linggau mengalami penundaan karena kabut asap mengganggu jarak pandang di bandara Silampari, Lubuk Linggau. Selain kami, rupanya ada Adam, Hengki dan bang Amir, teman sekantor saya hendak pulang ke Bangko.

Setelah menunggu selama tiga jam kami diperbolehkan naik pesawat pada pukul 15.00. Tiba di bandara Lubuk Linggau, karpet merah terbentang memanjang di dekat terminal. Ada apa gerangan? Rupanya kami satu pesawat dengan walikota Lubuk Linggau..hmm..

DSC04178

Proses pengambilan bagasi berlangsung unik. Kami berdiri mengelilingi sebuah ruangan yang diberi pagar. Bagasi yang baru diturunkan diletakkan di tengah ruangan. Petugas bagasi menyerahkan kepada penumpang yang saling berteriak sambil menunjuk bagasi mereka. Satu kekurangan di bandara Silampari yaitu sekat antar toilet cukup transparan sehingga saya bisa melihat “aktivitas” pengguna toilet di sebelahnya.

DSC04187 menanti bagasi

Dari Linggau ke Bangko, kami menumpang mobil bang Amir. Malamnya kami singgah di Singkut, kabupaten Sarolangun.

-selesai-

Iklan

14 comments

  1. Jalur Bandung Jakarta itu memang maknyuss… terutama terowongan Sasaksaat, tahu kalau di sana pekerjanya pada dikuburin di bawah terowongan itu kan maknyuss banget sensasinya, apalagi gegelapan di dalam terowongan. Kapan-kapan pengen foto di terowongan itu deh, macam railfans, pasti seru!
    Makasih ya Mas sudah mau menemui saya :haha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s