Rail Trip (4) : Bandung

Kami tiba di tujuan utama kami : Bandung! Kota sejuta pesona, kota kembang, kota sejarah dan juga belanja.

Purwokerto-Bandung

Tidak salah kami memilih kereta api Serayu Malam sebagai moda transportasi menuju Bandung. Pemandangan sawah dan perbukitan mendominasi jalur antara stasiun Purwokerto dan Kroya, Cilacap. Dinamai Serayu karena kereta ini melintasi sungai Serayu. Serayu merupakan sungai besar yang berhulu di dataran tinggi Dieng, melintasi Banyumas lantas bermuara di Cilacap. Kereta api Serayu sendiri menghubungkan Purwokerto dan Jakarta. Kota-kota yang dilewati antara lain Ciamis, Banjar, Tasikmalaya, Cimahi, Purwakarta dan berakhir di Stasiun Pasar Senen.

Seperti perjalanan kereta api dari Jakarta ke Bandung yang melewati terowongan, perjalanan dari Purwokerto ke Cilacap melintasi dua terowongan yaitu di Notog dan Kebasen, panjangnya tidak sepanjang terowongan Sasaksaat di Bandung. Kami sempat melewati sungai Serayu sebanyak dua kali. Lebar sungai membuat kami seolah-olah “terbang” di atas danau. Tiba di stasiun Kroya, kereta berhenti untuk melakukan perubahan posisi lokomotif karena stasiun Kroya merupakan persimpangan antara jalur menuju Surabaya dan Jakarta.

DSC04032

DSC04033 DSC04036 DSC04034

stasiun Kroya menjelang senja

Cimahi

Singkat kata, saya tiba di Stasiun Cimahi pada pukul 01.20 pagi. Sebelum tiba di Cimahi, saya telah memesan taksi dari sebuah armada yang cukup ternama. Tiba di Cimahi, saya telpon taksi tersebut. Saya diberitahu bahwa saat ini tidak ada taksi yang berada di sekitar stasiun. Saya dan istri dengan badan yang masih lelah menunggu sambil berharap semoga taksi segera datang. Beberapa menit menunggu, saya telepon lagi jawaban dari operator masih sama, belum ada taksi.

Berhubung saya lelah menanti, saya minta tolong ojek di dekat stasiun untuk dicarikan taksi. Tidak berapa lama, datang sebuah taksi. Sang sopir tidak mau menghidupkan argometer. Karena sudah malas menawar, saya iyakan saja tawaran dari sopir untuk membayar Rp 60.000,- . Kepada pengemudi taksi, saya minta diturunkan di Maleber Utara, dekat stasiun Andir. Rupanya, sang sopir tidak langsung menuju alamat Mahdi, kawan saya, melainkan berputar-putar dulu di seputaran Cimahi. Tiba di Maleber, kami dijemput Ridwan, adik Mahdi. Dari situ kami berjalan kaki karena mobil tidak bisa masuk ke dalam rumah. Rumah Mahdi terletak masuk di dalam gang, sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari jalan utama. Tiba di rumah Mahdi, setelah berbasa-basi sebentar, kami terlelap dalam dinginnya kota Bandung. 

Bandung dalam Sehari

DSC04086

Waktu kami untuk berkeliling Bandung hanya sehari. Esok siang setelah acara pernikahan Mahdi dan Mila kami akan langsung pulang ke Jakarta. Paginya, kami bertemu dengan anggota keluarga Mahdi yang lain; ayahnya dan ibunya. Kehangatan dan keramahan warga Bandung tidak perlu dipertanyakan lagi. Kami merasa tinggal di rumah sendiri, dengan ayah dan ibu sendiri.

Lepas sholat Ashar, kami berangkat menuju pusat kota Bandung menaiki angkot. Tidak banyak yang kami lakukan. Berbelanja di seputaran alun-alun, menghabiskan senja di alun-alun Bandung, menuju Gedung Merdeka tempat pelaksanaan Konperensi Asia Afrika (pakai P bukan F) lantas beli oleh-oleh di Kartika Sari.

DSC04054 alun-alun Bandung di dekat Masjid Raya Bandung Jawa Barat

DSC04081

di depan Gedung Merdeka

Pernikahan Mahdi – Mila 

Kesibukan terasa di rumah Mahdi sejak subuh bertalu. Mahdi dan anggota keluarga dirias secara bergantian. Ketika barang-barang seserahan siap dibungkus, baru kami sadar bahwa selimut yang saya pakai di kamar sejatinya merupakan salah satu dari seserahan yang akan diberikan kepada pengantin wanita. OMG!

Setelah semua dirias, kami sarapan lalu berjalan kaki menuju jalan raya. Disana telah menanti mobil yang akan membawa kami ke tempat akad dan resepsi di Kompleks Komando Pemeliharaan Materiil TNI AU (Koharmatau) di dekat Bandara Husein Sastranegara. Mahdi merupakan kawan sekantor saya di Bangko, istrinya Mila bekerja di sebuah laboratorium kesehatan di Bandung. Rencananya, setelah menikah mereka akan berbulan madu di Bromo. Mahdi akan membawa istrinya ke Bangko setelah berbulan madu. Selamat menempuh hidup baru Mahdi dan Mila!

DSC04119

DSC04128DSC04127DSC04131Setelah resepsi, kami berpamitan. Alhamdulillah, kami tidak mengalami kesulitan mencari tumpangan ke stasiun Bandung. Justru, kami diantar pakai mobil yang disewa keluarga Mahdi hingga parkiran stasiun. Terimakasih Mahdi sekeluarga atas kebaikan kalian selama saya tinggal dua hari di Bandung. Sayang kami hanya punya waktu sebentar di Bandung. Keramahan kalian dan warga Bandung akan selalu kami ingat 🙂

bersambung

Iklan

4 comments

  1. Kok kayaknya saya kenal ya Mas Mahdi ini, semacam pernah lihat di kampus gitu, Mas :hehe. Kita bertiga sekampus, yah? :hihi.
    Aaak, Terowongan Notog dan Kebasen itu seru soalnya jalannya meliuk dan menembus gunung, hebat memang Staats Spoorwegen ya. Tapi yang perusahaan kereta api lokalnya juga tak kalah keren dulu Mas, cuma sayang jalur keretanya sekarang dijadikan jalan raya. Kepengen deh foto-foto di terowongan itu :hihi.
    Bandung memang memesona!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s