Rail Trip (3) : Purwokerto

Rail Trip berlanjut! Menikmati mendoan di tempat aslinya, mengunjungi rekam jejak bank tertua di Indonesia, hingga napak tilas perjuangan Jenderal Besar Sudirman.

Hari keempat di Jatibarang, Nia sudah benar-benar sehat. Nafsu makannya kembali bagus dan tidak muntah lagi. Pagi hari pakdhe dan seluruh keluarganya mulai dari budhe, anak dan cucunya berkenan mengantar kami ke Stasiun Slawi. Kami akan ditemani pakdhe menuju Purwokerto. Jatibarang ke Slawi bisa ditempuh kurang dari setengah jam saja. Saya dibonceng pakdhe naik motor, sedangkan Nia dan mamanya naik angkot.

Slawi – Purwokerto

DSC03861Slawi adalah sebuah kota kecil sekaligus pusat pemerintahan kabupaten Tegal. Stasiun Slawi melayani perjalanan kereta api dari Semarang ke Purwokerto dengan kereta api Kamandaka. Tepat jam delapan pagi Kamandaka datang. Budhe melepas kami dengan doa semoga perjalanan kami senantiasa diberi keselamatan dan dapat berkunjung lagi ke Jatibarang. Amin budhe..

Di dalam kereta, saya membuka bekal nasi dari budhe. Namanya nasi ponggol, mirip dengan nasi uduk atau nasi rames. Nasi dibungkus daun pisang, ditambah lauk dan sayur dilengkapi dengan sambal bawang pedas.

Perjalanan dari Slawi ke Purwokerto menawarkan panorama yang menyejukkan mata. Sawah yang sudah menghijau, sawah yang masih kering dan bukit kecoklatan karena kemarau. Kontur jalan semakin lama semakin naik. Jam sepuluh kurang, kami tiba di stasiun Purwokerto yang memiliki ketinggian 75 meter di atas permukaan air laut. Purwokerto dulu merupakan kota administrasi sekaligus ibukota kabupaten Banyumas. Setelah otonomi daerah, kota administrasi dihapuskan, sehingga status Purwokerto tetap menjadi bagian dari kabupaten Banyumas.

Kami berencana hanya transit beberapa jam disini. Sore hari kami akan melanjutkan estafet perjalanan ke Bandung.

Museum BRI Purwokerto

Kami dijemput oleh adik pakdhe. Suaminya bekerja sebagai anggota dewan di Kab. Banyumas. Sehari-hari beliau tinggal di sebuah rumah yang jauh dari kata mewah untuk jabatan beliau di kawasan Kober, tidak jauh dari stasiun. Kami disambut hangat oleh adik pakdhe. Sehari-hari beliau menjalankan usaha persewaan tenda pesta. Belum lima menit meletakkan pinggang, kami sudah disuguhi teh manis dan mendoan panas. Sungguh membuat air liur bergejolak hebat. Menit-menit berikutnya, potongan-potongan tempe goreng setengah matang itu langsung berpindah ke dalam perut.

Purwokerto terkenal dengan objek wisata alam Baturraden (r-nya dua, bukan Batu Raden atau Baturaden). Mengapa bukan Baturaden melainkan Baturraden? Cerita lengkapnya bisa dibaca disini. Puas mengudap mendoan, saya ditawari adiknya pakdhe (maaf, saya lupa nama beliau) untuk berkeliling kota Purwokerto. Tentu tawaran ini saya iyakan begitu saja. Sedangkan Nia dan mamanya beristirahat di rumah.

Dengan menaiki sepeda motor, saya dibonceng oleh mas Edi (ipar dari adiknya pakdhe). Saya meminta mas Edi mengantar saya ke museum BRI Purwokerto, tidak terlalu jauh dari rumah. Ya, bank tertua di Indonesia ini lahir di kota ini pada tahun 1895. Info mengenai museum bank BRI saya dapat secara tidak sengaja. Terimakasih untuk mbak Yusmei dan mbak Noerazhka atas infonya. 🙂 

Museum BRI terletak di simpang antara jalan Sudirman dan jalan Wiryaatmaja. Begitu kami masuk, nampak puluhan anak sekolah berseragam SD sedang duduk manis menunggu antrian BRI. Apakah kami salah masuk? Rupanya tidak. Seorang mbak berseragam BRI dan berkerudung mendatangi kami dan memperkenalkan diri sebagai pemandu di museum BRI. Saya lega, saya berada di museum BRI. Namanya Eriska, wajahnya manis dan tutur katanya seperti bukan orang Purwokerto. Saya taksir umurnya masih dua puluhan. Setelah mengisi buku tamu, saya diantar masuk ke dalam museum.

Rupanya bagian depan museum ini difungsikan sebagai lobi sekaligus kantor BRI Unit Wiryatmaja. Museum BRI terdiri dari dua lantai. Lantai satu memamerkan diorama berdirinya BRI dan aneka uang kuno. Sedangkan lantai bawah tanah  menyajikan peralatan dan perlengkapan yang pernah dipakai bank BRI. Berbagai macam uang kuno bisa ditemui mulai dari kerajaan Majapahit, kolonial, hingga setelah kemerdekaan. Salah satu koleksi yang menarik adalah artefak dari zaman Majapahit berupa patung mainan babi hutan yang dipakai sebagai tempat menabung atau celengan dalam bahasa Jawa. Konon, kata celengan berasal dari kata celeng yang berarti babi hutan. Di bagian lain, dipamerkan baju dan tempat tinta menulis kepunyaan Raden Bei Aria Wiryaatmaja, sang pendiri BRI.

DSC03912 celengan

Bagian paling menarik di lantai satu adalah diorama mini yang menceritakan terbentuknya BRI. Dimulai dari keresahan Raden Aria, patih Kabupaten Purwokerto saat itu. Beliau merasa gusar melihat salah seorang guru di Purwokerto yang terlilit utang sangat besar karena meminjam uang pada rentenir. Awalnya Raden Bei meminjamkan uang dari kas masjid yang dipegangnya kepada sang guru dan kepada rakyat kecil. Namun, karena dilarang oleh pemerintah Belanda, beliau mendirikan De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs (Bank Bantuan dan Simpanan Pangreh Praja Pribumi Purwokerto) yang mulai beroperasi 16 Desember 1895. Setelah berganti-ganti nama, nama Bank Rakyat Indonesia resmi dipakai pada tahun 1946. Perkembangan selanjutnya, Bank BRI digabungkan dengan dengan Bank Tani dan Nelayan serta Bank NHM. Terakhir Bank BRI diambil alih oleh pemerintah dan dijadikan salah satu Badan Usaha Milik Negara.

DSC03925 Diorama Raden Aria (baju hitam) sedang menyaksikan tarian Tayuban saat menghadiri pesta mewah seorang guru yang berpenghasilan pas-pasan.

Beranjak ke lantai dasar, saya melihat banyak sekali peralatan perbankan yang sepertinya tak dipakai lagi dan dimakan usia, tetapi tampak masih utuh dan terawat. Meliputi kalkulator kuno, mesin ketik, mesin printer, brankas, surat berharga dan lain-lain. Termasuk salinan akta pendirian Spaarbank pada tahun 1895. Puas memandangi aneka koleksi di lantai satu, saya diajak mbak Eriska beranjak keluar menuju bagian lain museum ini.

Di halaman samping museum, tepat di dekat patung dada Raden Aria, dibangun replika kantor Spaarbank sebagaimana ia didirikan pertama kali pada tahun 1895. Kayu, mebel dan genteng masih menggunakan bahan aslinya. Tak hanya itu, di dalam kantor dibuat diorama Raden Aria sedang melayani dua nasabahnya. Saya berdecak kagum bagaimana hebatnya bank ini mengenang sejarah masa lalunya. 

DSC03958

 DSC03960

Diorama Raden Aria

Monumen Jenderal Soedirman

DSC04019

DSC04005 Bawor (ikon wisata Banyuas dan Podang : ikon wisata Jawa Tengah)

Perjalanan kami lanjutkan ke salah satu mercutanda kota Purwokerto yang lain yakni Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sudirman, sang Jenderal Besar sejatinya dilahirkan di Purbalingga serta dimakamkan di Yogyakarta. Pendirian monumen Sudirman di Purwokerto dimaksudkan untuk mengenang bahwa sang jenderal merupakan panglima Badan Keamanan Rakyat / BKR di wilayah Kedu dan Banyumas. BKR sendiri merupakan cikal bakal TNI.

DSC03978 Sudirman dalam tandu, lukisan legendaris

Setelah membeli tiket masuk, saya dan mas Edi masuk ke dalam gedung museum. Senyap, hanya kami berdua di dalam gedung. Tidak ada pemandu yang bisa kami temui. Selain itu koleksi benda di dalamnya tidak terlalu banyak, hanya satu panel berisi senjata, replika tandu perang gerilya, dan mini diorama tentang riwayat perjuangan Sudirman mulai dari lahir di Purbalingga, mengusir tentara Sekutu di Ambarawa hingga memimpin penumpasan PKI di Madiun. Sudirman, sang jenderal besar meninggal dalam usia sangat muda yaitu 34 tahun di Magelang setalah berjuang melawan penyakit TBC . Beliau dimakamkan di Yogyakarta.

DSC03996 diorama yang berkesan lucu -_-

Setelah melihat mini diorama -yang agak lucu karena tidak menyerupai wujud aslinya-, kami melangkahkan kaki menuju atap museum. Di sana dibangun patung Sudirman sedang menaiki kuda.

DSC04014 Monumen Sudirman

Sroto Bank, Kuliner Purwokerto

(Agak) kecewa dengan museum Sudirman, kami lanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Rupanya, mas Edi telah menyiapkan sebuah kejutan untuk saya. Saya tidak diantar ke rumah melainkan singgah ke sebuah rumah makan di jalan Wiryaatmaja, tidak jauh dari museum BRI Purwokerto.

DSC04025

Namanya Soto Ayam Loso Jalan Bank. Jalan Bank merupakan nama lama dari jalan Wiryaatmaja. Tempatnya sangat bersahaja. Namun, dilihat dari foto-foto yang dipajang, pengunjung warung soto ini mulai dari artis ibukota, politisi hingga presiden. Soto di Purwokerto kadang disebut sroto.

DSC04022

Yang membedakan soto disini dengan soto lainnya adalah penggunaan ayam kampung, daun bawang, kerupuk dan sambal kacang. Kerupuk yang dipakai ada dua. Kerupuk merah dan kuning. Untuk penikmat soto, sroto dengan sambal kacang mungkin terasa aneh. Namun, setelah beberapa suapan, saya jatuh cinta dengan soto atau sroto Purwokerto.

bersambung

Iklan

15 comments

  1. Itu sroto Sokaraja bukan sih Mas? :haha. Eh saya belum pernah ke Museum BRI… padahal dulu mampir di Purwokerto. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa ke sana lagi :amin. Keren Raden Bei itu, dia memikirkan solusi keuangan rakyat kecil, dan kini BRI jadi bank dengan penetrasi pedesaan yang paling banyak :)).
    By the way, dioramanya seperti anak-anak satu kelas yang mau foto buku tahunan :haha. Lucu!

  2. hmm mendoan, makanan favoritku. btw museum tentang jenderal soedirman hampir tersebar di beberapa tempat di pulau jawa. Di rembang-purbalingga sendiri yang jaraknya dari rumahku tidak terlalu jauh juga ada museum kelahiran sang jenderal besar ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s