Rail Trip (2) : Jatibarang

Dari Cirebon, kami berencana naik kereta menuju Stasiun Bandung. Atas masukan budhe, kami menuju Jatibarang terlebih dahulu sebelum ke Bandung. Untung tak dapat diraih, tiba di Jatibarang kondisi kesehatan Nia menurun. Sambil menunggu anak saya pulih, kami putuskan untuk menginap di Jatibarang lebih lama.

Mendengar saya dan keluarga sedang di Cirebon, budhe serta merta menelpon saya untuk singgah sebentar di rumahnya di Jatibarang. Padahal kami berencana langsung ke Bandung dari Cirebon menggunakan kereta Ciremai Ekspress. Setelah diskusi panjang, saya dan istri sepakat untuk mewujudkan permintaan budhe singgah di Jatibarang barang sehari atau dua hari. Mama Nia lantas menelpon bapak mertua sekeluarga untuk datang ke Jatibarang sekedar menengok cucu mereka.

Hari ketiga di Cirebon, setelah sarapan kami berkemas-kemas. Sesuai arahan mbak Candy, dari hotel di kawasan Cangkring, kami naik angkot biru jurusan terminal Harjamukti. Ya, kami akan naik bus dari Cirebon ke Brebes, disambung angkot ke Jatibarang. Sebuah pilihan yang kami sesali begitu tiba di Brebes nantinya….

Cirebon – Brebes – Jatibarang

DSC03777 Menara PDAM Tirta Jati Kota Cirebon

Dari Cangkring, angkot membawa kami berkeliling kota Cirebon. Ada satu jalan bernama unik Tuparev yang merupakan akronim dari Tujuh Pahlawan Revolusi. Kami sempat melewati mall Cirebon Super Block dan Grage. Dari situ kami sadar bahwa rute angkot berputar-putar bahkan sempat masuk wilayah kabupaten Cirebon sebelum ke terminal. Sebelum sampai terminal, mata saya melihat kompleks goa Sunyaragi yang dibangun tahun 1529 sebagai tempat meditasi sultan Cirebon.

Begitu turun dari angkot, kami langsung naik sebuah bus jurusan Semarang. Tawar-menawar yang cukup alot sempat terjadi. Begitu saya ancam untuk turun bus, akhirnya orang yang rupanya calo tiket mau menurunkan tarif busnya tujuan Brebes dari Rp 50.000,- perorang  menjadi Rp 30.000,-.

Perjalanan dari Cirebon ke Brebes kami tempuh selama satu jam lebih. Sopir mengemudikan bus dengan ugal-ugalan. Beberapa menit jelang turun, Nia mual dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Kami sempat singgah sebentar di tepi jalan untuk membeli teh melati, satu set poci terakota dan telur asin khas Brebes. Setelah bersih-bersih dan sholat di masjid agung Brebes, kami makan siang di rumah makan sate Brebes di samping masjid agung. Sate Brebes adalah sate kambing yang dibakar dengan bumbu sederhana. Rasanya juga sesederhana bumbunya. Tidak terlalu “medhok” seperti sate kambing Solo.

DSC03785

DSC03784 penanda kiblat Masjid Agung Brebes

DSC03786 sate kambing khas Brebes

Belum selesai makan, pakdhe (suami budhe) datang dengan motornya. Nia dan mamanya nebeng Pakdhe sementara saya naik angkot menuju pasar Jatibarang. Nantinya, saya akan dijemput pakdhe di pasar. 

Jatibarang, Kota Gula

DSC03792 pabrik gula (PG) Jatibarang

DSC03863 bekas menara air PG Jatibarang

Jatibarang merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Brebes. Jaraknya sekitar 45 menit dari kota Brebes. Pusat perekonomian di Jatibarang terpusat pada Pasar Jatibarang yang terletak di antara desa Jatibarang Lor dan Jatibarang Kidul. Di Jatibarang ini masih bisa ditemui beberapa bangunan era Belanda misalnya sebuah pabrik gula peninggalan kolonial yang dibangun pada tahun 1842. Pembangunan pabrik gula merupakan efek dari kebijakan tanam paksa saat itu. Dimana rakyat Brebes diharuskan untuk menanam tebu. Kala itu di wilayah Brebes terdapat tiga pabrik gula yaitu di Banjaratma, Jatibarang dan Kersana. Setelah masa kemerdekaan, banyak petani tebu di Brebes beralih menjadi peternak bebek dan petani bawang merah sehingga lahan tebu berkurang drastis. Hal ini tidak diimbangi dengan biaya operasional pabrik gula yang besar sehingga pabrik gula di Banjaratma dan Kersana ditutup. Saat ini hanya pabrik gula (PG) Jatibarang yang masih beroperasi.

Tiba di Jatibarang Kidul, saya menunggu pakdhe menjemput saya. Sekian lama tidak datang, saya naik ojek dari pasar menuju rumah pakdhe. Nia dan mamanya sudah tiba terlebih dulu. Nia sudah ceria setelah tadi sempat mabuk di bus. Sorenya, habis mandi Nia kembali muntah-muntah. Malam hari, bapak ibu mertua datang beserta seluruh adik ipar. Nia kami bawa ke bidan.

Keesokan harinya Nia masih lemas dan tidak berselera makan. Saya sampai sedih. Andai saja kami dari Cirebon langsung ke Bandung, andai saja dari Cirebon ke Brebes kami mau bersabar menunggu kereta, andai saja sopir bus tidak ugal-ugalan, andai ….

Sore hari saya minta ditemani pakdhe melihat-lihat pabrik gula (PG). Saya dibonceng beliau dengan motor. Pakdhe saya dulu adalah seorang mandor sortir tebu di perusahaan itu sebelum akhirnya pensiun. Tugas sehari-hari beliau adalah menyortir batang tebu dari petani sebelum memasuki proses pengolahan. Caranya, beberapa sampel tebu dipotong menyerupai koin dan diterawang secara manual. 

Dalam perjalanan dari rumah menuju pabrik bisa ditemui rumah-rumah kuno yang dulu ditempati pejabat PG. Rumah itu dibangun hampir bersamaan dengan pendiriaan PG. Hanya sebagian rumah-rumah tersebut yang dihuni, selebihnya lebih mirip rumah hantu. Selain itu rel yang dulu dipakai untuk mengangkut lori tebu juga masih bisa ditemui. Tujuan kami adalah bekas rumah dinas direktur PG yang disebut Besaran. Sayang, kami datang terlalu sore sehingga Besaran tutup.

DSC03802DSC03799Di rumah pakdhe, saya mendengar suara lirih beliau tentang kondisi PG. Mulai dari makin berkurangnya lahan tebu karena banyak petani tebu beralih menjadi petani bawang, tanah yang makin lama kurang subur, produksi gula yang kian menurun, hingga nasib miris beliau sebagai pensiunan yang … ah, tak sanggup saya tulis disini.

Malam 1 Suro

Malamnya kami bersiap-siap menunggu waktu habis Isya tiba. Jelang tahun baru Hijriyah atau malam 1 Suro, masyarakat Jatibarang mempunyai tradisi unik yaitu kirab obor. Ratusan warga baik tua muda, lelaki perempuan bahkan anak-anak akan berkeliling kota menyalakan obor sambil mengumandangkan sholawat dan lagu religius berbahasa Jawa.

DSC03813

Kami tentu saja tidak mau melewatkan kemeriahan ini. Saya dan semua anggota keluarga berdiri di depan rumah menunggu rombongan lewat. Memimpin di bagian depan seorang laki-laki menyemburkan api dari mulutnya. Di belakangnya berbaris rombongan pembawa obor.

Besaran Hijau dan Istana Gula

Hari ketiga di Jatibarang, kondisi kesehatan anak saya berangsur pulih. Nafsu makannya sudah kembali bagus. Kami putuskan untuk menuju Bandung lewat Stasiun Purwokerto besok. Tiket kereta eksekutif dari Tegal menuju Bandung terlalu sayang mahal untuk dibeli.

Karena tas ransel mama Nia rusak, saya minta ditemani pakdhe ke Slawi untuk membeli koper. Putri tunggal pakdhe kebetulan bekerja di pusat perbelanjaan dimaksud. Meski masuk kabupaten Brebes, Jatibarang terletak tidak jauh dari Kota Tegal dan Slawi yang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Tegal.

Pulang dari Slawi, kami menuju Besaran yang gagal kami datangi hari sebelumnya. Karena hari libur, banyak pengunjung dari sekitar Jatibarang memenuhi satu-satunya obyek wisata di kota itu. Beberapa wahana permainan yang bisa dijumpai adalah kereta wisata, kolam terapi ikan, flying fox, kolam renang dan perahu ontel. Tiket masuknya sangat murah yaitu Rp 2.000,- saja (tidak termasuk masuk ke wahana permainan). Disamping itu beberapa lokomotif tua dan beberapa peralatan bekas PG juga dipajang di halaman Besaran.

DSC03790

DSC03794

DSC03828 DSC03853

Bangunan utama dari Besaran Hijau adalah sebuah rumah kuno yang disebut Besaran. Disebut Besaran karena ukurannya yang besar menyerupai istana mini. Pada zaman kolonial Besaran difungsikan sebagai kantor sekaligus rumah dinas direktur PG Jatibarang. Sejak tahun 2010, Besaran digunakan sebagai museum gula dan disewakan untuk umum sebagai gedung pernikahan.

DSC03842 beranda

DSC03841

 

 

DSC03834

isi dalam Besaran, diintip dari jendela

Kulineran di Jatibarang

Terletak di perbatasan Brebes dan Tegal serta Cirebon membuat kuliner Brebes khususnya Jatibarang amat beragam. Beberapa masakan yang sempat kami coba antara lain sate Brebes, mie ayam hijau yang dibuat menggunakan campuran terigu dan bayam, olos dan tahu aci Tegal. Olos merupakan penganan khas Tegal berupa aci goreng yang ditengahnya diisi kol dan cabai.

DSC03881

mie ayam hijau

bersambung…

Iklan

4 comments

  1. Saya suka banget menara air. Cerita di sana banyak. Anakmu sepertinya masuk angin ya Mas, memang butuh istirahat, jangan menyesal begitu sih :hihi, kalau saja anak tidak menuntut kedua orang tuanya buat singgah di Jatibarang dan menjelajah sekitarnya, mungkin postingan ini tidak akan ada. Kita kan tidak akan tahu sampai kapan bangunan-bangunan tua di Jatibarang ini bisa bertahan, karena bangunan di sini lebih rentan mengingat tak banyak orang yang tahu. Kalau bangunan di Bandung, umumnya sudah menjadi landmark sehingga pasti sedikit lebih terjaga.
    Saya ingin sekali mengunjungi pabrik gula. Mengetahui di mana alamat-alamat yang tertera di karung-karung gula milik Ibu, terus menapaktilasi bagaimana Suikerwet serta Cultuurstelsel berlaku pasti akan jadi seru banget :)).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s