Rail Trip (1) : Cirebon

Ini adalah sebuah catatan perjalanan menelusuri kota-kota di pulau Jawa dengan kuda besi selama satu pekan lebih. Perjalanan dimulai sejak bertemu artis ibukota di bandara kecil bernama Silampari, terbang ke Jakarta, hingga cerita tentang pemandu wisata rese di Cirebon.

 Pada zaman dahulu ….

Ya, dulu saya pernah bercita-cita berkeliling beberapa kota di pulau Jawa dengan moda transportasi kereta api. Selain aman dan murah, alat angkut satu ini memiliki tautan batin dengan saya selaku seseorang yang pernah tinggal di Ambarawa. Di kota kecil di kaki Merbabu ini dunia perkeretaapian di Indonesia dimulai. Tepatnya pada tanggal 21 Mei 1873, ketika pemerintah Hindia Belanda mendirikan Stasiun Willem I di Ambarawa. Kelak bekas stasiun ini difungsikan sebagai Museum Kereta Api Indonesia.

Sebuah undangan pernikahan dari kawan saya di Bandung membuat saya tersenyum simpul. Saat inilah saya mempunyai kesempatan mewujudkan impian itu. Begitu tanggal pernikahan ditentukan, sejurus pula saya tentukan tanggal untuk mengambil cuti dari kegiatan kantor dan segera memesan tiket menuju Bandung.

Hari H : Bangko-Lubuk Linggau

Beberapa bulan sebelum keberangkatan, asap tebal menyelimuti Sumatera. Bandara Jambi ditutup. Tidak ada pilihan lain, saya harus memilih untuk terbang ke Jakarta dari Padang atau Lubuk Linggau. Berbekal tiket promo, saya putuskan untuk terbang dari Lubuk Linggau. Satu orang kawan kantor saya kebetulan hendak mengambil cuti pulang ke Jawa Timur sehingga saya ajak untuk pulang lewat Linggau.

Sore hari lepas jam kantor, saya menunggu bus jurusan Linggau dari depan kantor. Hampir satu jam menunggu, sebuah bus dengan nama Medan Jaya menghampiri saya. Kami bergegas naik. Karena penumpang penuh, saya dan istri terpaksa duduk di undakan samping sopir, sedangkan kawan saya duduk di kursi plastik di tengah-tengah lorong bus. Alih-alih merasa kurang nyaman, Nia justru asyik melihat pemandangan di depan.

Perjalanan dari Bangko menuju Lubuk Linggau ditempuh selama empat jam. Memasuki wilayah Sumatera Selatan tepatnya Musi Rawas Utara, di tepi jalan banyak orang yang menyorotkan senter ke arah mobil atau bus yang lewat dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang. Konon, dulu jika pengguna jalan tidak menyerahkan uang akan mendapatkan ancaman. Situasi ini agak berkurang jika dibandingkan dengan sekarang.

Lubuk Linggau

Tiba di Linggau, kami berempat dijemput Herlambang, kawan yang bekerja di KPP Pratama Lubuk Linggau. Sebelum diantar ke rumah kontrakannya untuk, kami singgah di KFC untuk makan malam. Rumah Lambang berada di dalam kompleks Perumnas Lubuk Tanjung. Esok paginya, Lambang berangkat pagi-pagi ke acara pernikahan kawan kantornya, sehingga kami naik ojek ke bandara.

Silampari, nama bandara kecil kepunyaan Pemko Lubuk Linggau. Sebelum ada bandara ini, warga Sumsel bagian barat jika ingin ke Jakarta harus ke Bengkulu atau Palembang. Bandara ini belum seluruhnya rampung dibangun. Jalan menuju bandara masih belum rapi, menara pengawas belum dibangun, keramik di lobi depan belum terpasang semuanya serta masih banyak semak belukar di area sekitar terminal. Ketika hendak memasukkan bagasi ke dalam mesin x-ray, tiba-tiba lampu mati. Otomatis proses pemindaian barang dan check in dilakukan secara manual. Akibatnya, saya harus kipas-kipas di dalam ruang tunggu keberangkatan sambil merutuk kepanasan.

DSC03463lobi bandara

Ketika pesawat dari Jakarta mendarat, sepasang duta wisata Kota Lubuk Linggau bergerak mendekati pesawat. Mereka rupanya ditugaskan untuk menyambut kedatangan Nadine Chandrawinata yang berkunjung ke Linggau. Selain Nadine, tampak beberapa pembawa acara MTMA.

Jakarta – Cirebon

Singkat kata, kami naik pesawat (agak) tepat waktu ke Jakarta. Pemandangan Lubuk Linggau dari atas mirip Solo: penuh sawah menghijau. Dari Soekarno-Hatta, perjalanan kami lanjutkan dengan Damri ke Gambir disambung Kopaja ke Stasiun Pasar Senen.

DSC03485 Nia di peron stasiun Senen

Rail Trip etape pertama dimulai! Jam setengah lima tepat kereta Tegal Arum meninggalkan Jakarta menuju Cirebon. Ketika kaki melangkah keluar dari stasiun Cirebon Parujakan, jam menunjukkan pukul delapan malam.

Di luar sudah menunggu mbak Candy, kawan filateli yang pernah saya temui beberapa tahun lalu sewaktu singgah sebentar di Cirebon. Dari stasiun, saya dan mama Nia naik becak menuju hotel Wisma Bahtera. Penginapan bergaya Bali ini hanya sepuluh menit naik becak dari stasiun Parujakan, atau lima menit naik kendaraan bermotor. Malam itu kami menghabiskan malam dengan makan malam diselingi obrolan hangat di rooftop hotel. Mbak Candy sengaja membawa nasi putih dan pepes tahu khas Cirebon untuk kami. Nyumm…

Eksplor Cirebon

Pagi menjelang dan kami tidak sabar untuk berkeliling kota Cirebon. Setelah menghabiskan nasi goreng kami berjalan sekitar sepuluh menit menuju alun-alun Cirebon atau sering disebut alun-alun Kejaksan. Di dekat alun-alun terdapat masjid agung At Taqwa kota Cirebon. Tidak berapa lama datang mbak Candy dan adiknya. Jadilah pagi itu kami berkeliling kota naik motor. 

DSC03504 penataan koleksi meriam Museum Keraton Kanoman Cirebon

Tujuan pertama adalah Keraton Kanoman. Keraton ini adalah satu dari empat keraton di Cirebon. Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Kertawijaya pada tahun 1678 yang kemudian bergelar Sultan Anom I. Sultan Anom XII saat ini adalah Sultan Emirudin yang bertahta sejak tahun 2003. Keraton Kanoman beserta Keraton Kasepuhan merupakan pemecahan dari Keraton Cirebon.  Keraton Cirebon sendiri umurnya lebih tua dari kesultanan Mataram (Yogyakarta dan Surakarta).

Keraton Kanoman berlokasi di belakang Pasar Kanoman. Penjelasan tentang Keraton Kanoman bisa diketahui dari Museum Keraton yang sayangnya banyak koleksi dimakan debu, panas dan usia. Menyedihkan. Termasuk di antaranya kereta Paksi Naga Liman dan kereta Jempana. Paksi Naga Liman bermakna burung (buraq), naga dan gajah mewakili identitas budaya Cirebon yang diwarnai oleh budaya Arab, Tionghoa dan Hindu. Selain itu terdapat juga sebuah mesin jahit pemberian Raffles ketika berkunjung ke Kanoman. Ketika berfoto di pendopo keraton, seorang pemandu dengan nada sedikit kurang ramah memaksa kami untuk masuk ke bagian dalam keraton. Saya menolak. Pemandangan agak absurd saya jumpai ketika meninggalkan Keraton Kanoman; seorang pemuda tampak menghisap lem di balik gapura salah satu bangunan di keraton. Waduh!

Berbekal informasi dari ibu penjaga museum, kami bergegas menuju Keraton Kaprabonan di kawasan Lemah Wungkuk. Rupanya fisik keraton ini menyerupai rumah biasa dan sangat sepi. Letaknya pun tersembunyi di balik gang. Setelah mengambil beberapa foto, kami langsung menuju Keraton Kasepuhan. Keraton terbesar dan keraton paling ramai dikunjungi di Cirebon. 

Keraton Kasepuhan awalnya bernama Keraton Pakungwati yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana pada tahun 1430. Pakungwati merupakan nama istri Sunan Gunung Jati. Tiket masuk ke keraton relatif mahal yaitu Rp 20.000,- perorang untuk dewasa dan Rp 15.000,- untuk anak. Begitu membayar tiket, saya diberi tiket dengan barcode. Tiket itu nanti cukup ditempel di pintu masuk, sehingga pintu akan membuka secara otomatis. Keren. Ketika saya datang, ada rombongan anak-anak pengajian di dalam keraton dan mereka didampingi pemandu dari keraton. Mumpung gratis, saya nebeng mereka agar bisa mendapatkan info menarik mengenai bagian-bagian keraton.

Bangunan keraton Kasepuhan memiliki beberapa kesamaan dengan keraton Solo, yakni memiliki sitinggil yaitu bangunan yang letaknya lebih tinggi dibandingkan tempat sekitarnya. Ciri khas yang mencolok dari keraton Kasepuhan adalah bentuk gapura candi bentar yang merupakan ciri arsitektur Hindu. Sekaligus banyak sekali ditempelkan keramik berupa piring-piring dari Tiongkok dan Eropa. Di dalam museum keraton, terdapat sebuah lukisan tiga dimensi Prabu Siliwangi yang matanya selalu menoleh ke arah mata pengunjung.

Dari Kasepuhan kami beranjak ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa tepat di depan keraton. Tepat di gapura masjid beberapa orang duduk mengharapkan sumbangan sebagai “tiket masuk” ke masjid. Sayang, masjid hanya dibuka saat waktu sholat. Siangnya, kami makan nasi jamblang di samping Pelabuhan Cirebon. Sayang, daun jati sebagai alas nasi jamblang sudah ludes.

DSC03672 mbak Candy dan deretan lauk nasi jamblang :p maknyuss..

DSC03681

Gereja Santo Yusuf, dibangun tahun 1878

Sebelum pulang ke hotel untuk bobo-bpbo istirahat siang, kami sempatkan menengok kota lama Cirebon di sepanjang jalan Yos Sudarso. Beberapa gedung tua yang bisa dilihat antara lain, Gereja Kristen Santo Yusuf yang merupakan gereja tertua di Jawa Barat, gedung Bank Indonesia, kantor pos Cirebon, dan kelenteng Dewi Welas Asih / Tiao Kak Sie. Suasana lebih sepi kami temui di Keraton Kacirebonan. Kerajaan ini merupakan pemecahan dari Keraton Kanoman dan berdiri tahun 1808 sekaligus keraton termuda di kota Cirebon. Saat kami datang, hanya ada dua orang pengunjung. Lagi-lagi, saya “dipaksa” untuk menggunakan jasa guide, meskipun begitu saya belum mau memakai jasa mereka. Namun, penataan koleksi di Kacirebonan tampak lebih tertata dan lebih sejuk. 

Kuliner Cirebon

Belum lengkap datang ke Cirebon tanpa mencoba wisata kulinernya. Setelah malam pertama kami mencicipi pepes tahu, siang kami menikmati nasi jamblang, sore kami ingin mencoba empal gentong yang terkenal itu. Awalnya kami menuju rumah makan mie koclok dekat masjid Merah Panjunan, tetapi tutup.

Masjid Merah Panjunan dibangun tahun 1480 oleh Pangeran Panjunan, siswa dari Sunan Gunung Jati. Bangunan keseluruhan menggunakan bata merah dan keramik Tionghoa. Dari bata merah ini sebutan masjid merah berasal. Masjid ini awalnya adalah sebuah mushola, sehingga tidak memiliki mimbar. Sebagai bentuk penghormatan sejarah, masjid merah tidak memiliki mimbar hingga saat ini sehingga hanya digunakan untuk sholat berjamaah, bukan untuk sholat Jumat.

DSC03744 empal gentong

Dari Panjunan kami beranjak mencari empal gentong. Setelah berputar-putar, kami akhirnya singgah di rumah makan Pukul Jabon, tepat di depan stasiun Cirebon Kejaksan. Dari beberapa menu yang ditawarkan, saya mencoba empal gentong dan tahu gejrot. Secara visual empal gentong mirip soto Betawi yang berkuah kuning. Saya pikir citarasa empal gentong pun akan mirip soto atau opor. Dugaan saya salah. Tidak mirip soto atau opor sama sekali haha. Yang jelas sangat gurih, enak dan susah diungkapkan dengan kata-kata. 😀 Sebagai minuman penutup, segelas es tjampolay yang segar menuntaskan dahaga dan rasa penasaran akan kuliner Cirebon. Sirup ini diproduksi oleh Tan Tjek Tjiu sejak tahun 1938.

DSC03757 bersambung….

Iklan

12 comments

  1. Mana foto bangunan keratonnya, Mas? :hehe. Saya baca beberapa postingan tentang Cirebon dan makin pengen ke sana deh–paling tidak pengalaman jelajah keratonnya pasti akan berbeda dengan apa yang dialami blogger-blogger kece di sini :hehe.
    Haaah, saya mesti mengasah banyak kemampuan saya dalam menjadi seorang travel blogger dan petualang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s