Pilkada Runaway : Muara Bungo

Halo pembaca…
Hari Kamis 9 Desember kemarin kalian pergi kemana? Masuk kerja atau libur karena Pilkada? Saya habis mengikuti pencoblosan Pilgub Jambi pergi ke Muara Bungo. Yups..benar sekali. Saya dan istri tidak tercatat dalam administrasi kependudukan provinsi Jambi (aka. tidak memiliki KTP Jambi). Namun, sekitar dua bulan yang lalu, selepas saya menyerahkan kopian Kartu Keluarga dan KTP ke Ketua RT, tidak berapa lama muncul stiker verifikasi warga untuk mencoblos pada Pilkada Serentak 2015. Dimana kami harus memilih satu di antara calon pemimpin Jambi. Jelang hari H pilkada serentak, saya dan istri makin heran dikarenakan kami diberi undangan untuk mencoblos di TPS di dekat rumah kami. Rupanya, beberapa tetangga yang notabene bukan warga Jambi pun diundang untuk datang ke TPS.

Ada dua calon yang bertanding. Satu pasang dipimpin oleh gubernur incumbent. Pasangan nomor dua merupakan artis nasional dengan inisial ZZ, mantan bupati di kabupaten paling timur Jambi, sekaligus putra mantan gubernur Jambi dua periode. Sang artis muda menggandeng wakil gubernur incumbent. Saya pilih yang mana? Skip….

Awalnya saya mengajak mama Nia naik travel ke Muara Bungo. Berhubung Nia bangun siang, ditambah lagi kami akan ke TPS dulu, saya putuskan untuk naik motor ke Muara Bungo untuk mempersingkat perjalanan. Sebelum berangkat, kami singgah di bengkel untuk membeli helm buat mama Nia. Di kilometer 16 arah ke Muara Bungo, motor kami diklakson oleh sebuah mobil berwarna biru dengan BH (plat mobil) yang saya kenali : mobil boss saya! Kami singgah sebentar di tugu Geopark Merangin, tepat sebelum batas kabupaten Merangin dan Bungo.

Di Muara Bungo, agenda utama kami sebenarnya adalah membeli koper  di hypermart. Kami tidak membeli koper di Bangko karena disamping pilihannya sedikit, harga barang-barang di Bangko lebih mahal daripada di Muara Bungo.

Dua jam perjalanan termasuk istirahat, kami tiba di tempat tujuan. Tempat yang kami datangi pertama kali adalah Grand Media, sebuah toko buku yang merupakan cabang Gramedia di Kota Jambi, sekaligus satu-satunya agen Gramedia di provinsi Jambi wilayah barat. Ada beberapa buku yang saya beli, seperti buku anak, alat tulis dan sebuah buku tentang kartu pos lama yang akan saya kupas nantinya.

Jelang makan siang, kami mengisi perut dengan menu mie ayam dan es shanghai, hanya selisih satu toko dari toko buku. Lantas, kami bergegas menuju hypermart. Ada beberapa barang yang kami beli, koper kecil dan termasuk beberapa titipan dari kawan di Bangko. Alhamdulillah, semua item muat dalam koper.

Omong-omong, Muara Bungo mempunyai slogan yaitu kota Lintas : Lancar, Indah, Nyaman, Tertib, Aman dan Asri. Kota ini terletak di persimpangan jalan lintas tengah Sumatera yang menghubungkan kota Padang, Jambi dan Lubuk Linggau.

Sebuah monumen bersejarah dibangun di tepi jalan, tepatnya di seberang Pasar Atas Muara Bungo. Monumen yang ditandatangani oleh presiden kedua  ini menandai awal pembangunan jalan lintas Sumatera yang menghubungkan antara Muara Bungo dan Lubuk Linggau di Sumatera Selatan. Monumen ini lantas disebut tugu km. 0 Muara Bungo.

Menuju Jambi, Presiden Soeharto Resmikan Ruas Jalan Muara Bungo-Lubuk Linggau dan Jambi Muara Bungo (1)

SENIN, 7 MEI 1984 Jam 08.20 pagi ini, Presiden Soeharto meninggalkan Jakarta menuju Jambi dalam rangka peresmian proyek peningkatan ruas Jalan Lintas Sumatera di Muara Bungo. Ruas jalan yang diresmikan itu adalah antara Muara Bungo-Lubuk Linggau sepanjang 284 kilometer dan antara Jambi-Muara Bungo sepanjang 151,4 kilometer. Dalam peresmian jalan yang dibangun dengan bantuan Pemerintah Jepang ini hadir pula Menteri Dalam Negeri Soepardjo Roestam, Menteri Perhubungan Rusmin Nuryadin, Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono, dan Pangab Jenderal LB Murdani.

Dalam amanatnya, Kepala Negara mengatakan bahwa dengan selesainya peningkatan jalan ini, maka terbukalah kesempatan yang makin besar bagi masyarakat Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan untuk lebih giat membangun kearah kehidupan yang lebih maju dan lebih sejahtera. 

___________________

[1] Dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988″, hal 155.

Iklan

10 comments

  1. Saya tadi lihat Maps dan jarak antara Bangko dan Muara Bungo ini lumayan jauh ya :hehe. Salutlah dengan perjuangan teman-teman yang penempatan sana buat memenuhi kebutuhan yang mesti sampai ke kota sebelah yang hampir 80km itu jauhnya.
    Yah, meski orde baru banyak kekurangannya, tapi mesti diakui juga ya Mas bahwa ada pula kontribusi pembangunannya di sana. Ruas jalannya lumayan panjang tuh :hehe, dan jadi penghubung yang efektif banget antara Jambi, Bangko, dan Muara Bungo ya.
    Saya tahu siapa yang kayaknya Mas coblos di pemilu itu :hihi. Btw, sama pak bos akhirnya diajakin ke mana? *kepo*.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s