sumuTrip (4) : Masjid Tjong A Fie + Kopdar CS Medan

Tjong A Fie, sang Mayor di Tanah Deli sepertinya masih sangat menarik untuk dibicarakan. Terutama karena jejak kedermawanannya masih berdiri kokoh di penjuru kota Medan. Rumah ibadah, kantor pemerintah dan fasilitas umum lainnya di Medan.

Safril, kawan asal Jakarta yang baru saya kenal mengajak saya beribadah Jumat di masjid raya Medan. Ini kali pertamanya datang ke kota durian. Saya tolak ajakannya lantas saya ajak dia sholat di Masjid Lama Gang Bengkok. Meski akhirnya dia kukuh dengan pilihannya.

Dari hotel tempat saya menginap di jalan Maulana Lubis, saya cukup melangkahkan kaki melewati Lapangan Benteng, jalan Siswomihardjo / jalan Perdana, lantas berbelok ke arah masjid dimaksud di jalan Masjid. Disebut gang bengkok karena jalan ini memang melengkung menyerupai busur, tidak lurus. Masjid ini sendiri terletak di sudut gang.

Adalah Tjong A Fie yang membiayai sepenuhnya pembangunan masjid bersejarah ini. Dimana tanah tempat berdirinya masjid merupakan wakaf dari ulama setempat bernama Datuk HM Ali Nazir. Masjid ini dibangun pada tahun 1890. Bangunan luarnya berbentuk kotak dengan atap tiga tingkat.

Setelah menitipkan sendal kepada penjaga, saya mengambil air wudlu lantas masuk ke dalam masjid. Bangunan utama masjid ini masih asli. Bangunan tambahan berupa serambi ditambahkan kemudian. Warna kuning cerah dan hijau khas Melayu mendominasi bangunan. Sedangkan dinding dilapisi marmer.

Keunikan masjid ini dibanding masjid lain adalah di dalam masjid terdapat mimbar yang sangat tinggi untuk tempat mengumandangkan khotbah. Selain itu ada satu mimbar lagi berupa panggung tinggi di dekat pintu masuk. Fungsinya untuk mengulangi bacaan takbir saat sholat Jumat.

DSC02603

interior Masjid Lama Gang Bengkok. Pilar utamanya bergaya Yunani. Mimbar masjid berukuran amat tinggi dengan ornamen khas Melayu dan Arab.

DSC02609

mimbar kedua berfungsi untuk mengulangi bacaan takbir saat sholat, mirip dengan tata cara sholat di Masjidil Haram

Kopdar CouchSurfing Medan

Malamnya saya ada janji bertemu dengan teman-teman CouchSurfing Medan di Balai Kota Lama (kompleks Hotel Aston Medan). Saya dijemput oleh Koko lantas kami sholat Maghrib di hotel sebelum ke Balai Kota. Gedung cantik bergaya British ini dibangun tahun 1906. Mulanya adalah kantor De Javasche Bank, lalu diubah fungsi menjadi kantor Parlemen Kota, Balaikota Medan, dan terakhir diserahkan untuk dikelola kepada Hotel Aston Medan tanpa merubah wujud dan interior aslinya. Di dalamnya terdapat foto-foto kota Medan tempo doeloe. Gedung bekas De Javasche Bank di samping gedung ini sekarang beralih fungsi sebagai Gedung Bank Indonesia Cabang Medan.

Kawasan ini dulunya pusat pemerintahan kota Medan. Meliputi balaikota, de Javasche Bank, hotel de Boer, kantor pos, lapangan Merdeka dan Stasiun Medan. Semua tempat ini bisa dikunjungi dalam radius beberapa ratus meter saja.

DSC02642

balai kota lama Medan (di belakang yang gedung tinggi itu hotel Aston Medan), sekarang gedung ini difungsikan sebagai lounge oleh pihak hotel

DSC02644

kantor Bank Indonesia cabang Medan

DSC02645

Hotel de Boer, dibangun tahun 1898 oleh Herman de Boer untuk menjamu tamu-tamu kaum pejabat dan pebisnis dari Eropa yang singgah ke Medan, tepat di samping gedung Bank Indoenesia. Sekarang namanya diubah menjadi Hotel Dharma Deli

DSC02648

ย 

kantor pos Medan sekaligus titik 0 km kota Medan

Agenda saya dan kawan-kawan malam ini adalah screening / menonton film pendek nominasi BAFTA 2015 yang diadakan oleh British Council Medan. Saya bertemu dengan Eva Hutagaol, kawan yang saya hubungi sebelum ke Medan beberapa hari sebelumnya. Eva membawa kawan dari CS Medan seperti : Vitto, Fikri, dan seorang CS dari Prancis. Setelah mengisi buku tamu, saya dipandu oleh petugas hotel menuju lantai dasar untuk melihat pameran lukisan. Dari puluhan pengunjung, sebagian besar merupakan pekerja asing yang berdomisili di Medan. Setelah melihat-lihat pameran lukisan, baru kami beranjak ke lantai atas untuk melihat film.

Ada 8 film yang diputar malam itu : The Bigger Picture, Boogaloo and Graham, Emotional Fusebox, The Karman Line, Monkey Love Experiment, My Dad, Slap dan Three Brothers. Film paling menarik yang paling saya ingat adalah The Karman Line yang bergenre drama triller. Bercerita tentang seorang ibu yang pada suatu hari tiba-tiba kehilangan gaya gravitasi secara misterius. Setiap hari tubuhnya melayang semakin tinggi ke udara. Suami dan anaknya berusaha mengikatnya, tetapi usaha mereka sia-sia. Hari ke hari si ibu semakin tinggi hingga akhirnya melayang bebas di angkasa. Bagaimana akhir ceritanya? Lihat saja cuplikan videonya di sini.

DSC02622

salah satu adegan di film The Karman Line

Selama pertunjukan film, kami bebas mengambil makanan ringan seperti pop corn, kentang goreng dan sebuah roti khas Inggris yang saya lupa namanya. Roti berbentuk unik ini ditaburi garam murni. Beberapa bule terlihat menikmati. Lha kok saya lihat saja sudah merasa aneh. Habis film selesai, saya dan kawan-kawan CS foto-foto di gedung ini. Maklum saja, sejak dikelola oleh hotel, gedung ini agak sedikit tertutup untuk umum. Hanya bisa diakses oleh pengunjung hotel dengan membayar sekian rupiah. ๐Ÿ˜‰

DSC02621

roti nggak tau namanya ๐Ÿ˜€

terimakasih teman-teman CS Medan… Cheers… foto oleh Victorio Chatra Primantara

Iklan

7 comments

  1. wah, kurang tau gara hehe.. ini lagi coba gugling, garamnya asin banget jadi cuma cicip rotinya aja… yups, keren emang, btw itu baliho kain biasa kok, cuma karena warnanya putih n aku pake mode panorama jadi putihnya warnanya kurang kontras hehee

  2. Itu namanya roti pretzel bukan sih Mas? :hehe.
    Wah bangun-bangunan tua itu saya juga pernah menyambanginya di malam hari (tapi belum ditulis-tulis :haha), memang bagus sekali ya, warna putihnya kontras banget dengan gelapnya malam, kemegahannya jadi semakin terlihat. Sayang dulu kantor pos itu belum ada videotron (atau ada tapi mati, saya tak ingat) jadinya foto yang saya ambil di sana semuanya gelap :huhu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s