sumuTrip (3) : Nasi Biryani Little India

Medan, metropolitan di utara Sumatera sejatinya adalah tanah asli Melayu Deli. Namun, sejak adanya ekspansi masif lahan perkebunan oleh Belanda pada awal abad ke-20, berbondong-bondong datang berbagai kaum dari pelosok Sumatera Timur dan Tapanuli ke Medan. Untuk mengisi posisi buruh kasar di perkebunan tembakau Deli, didatangkan juga penduduk migran dari tanah Jawa. Selain itu emas hijau, nama lain tembakau saat itu menarik migran dari negeri seberang seperti pendatang dari Tiongkok, Arab dan India.

Tengara keberadaan etnis India di Medan terukir pada sebuah jalan di pusat kota Medan : jalan KH Zainul Arifin. Persis di belakang mall Sun Plaza (mall terbesar di Medan saat ini) berdiri sebuah kuil Hindu yang didirikan oleh migran dari Tamil, India selatan. Kawasan itu dulu dikenal dengan sebutan Kampung Keling. Sejak beberapa tahun terakhir, namanya diganti menjadi Kampung Madras.

DSC02493

——— kuil Shri Mariamman, dibangun pada tahun 1884 ———

Malam itu saya telah menyusun janji dengan seorang kawan. Bang Virgin Mo aka. Koko Rocha sodaranya Agnes Mo, seorang kawan travel blogger yang tinggal di Medan. Ketika saya ingin mencicipi kuliner India, Koko menawarkan sebuah nama rumah makan India favoritnya. Saya langsung setuju.

Hari telah gelap saat saya tiba di pelataran Sun Plaza. Tidak berapa lama datang lelaki rupawan bermata sipit dan berkaca mata menghampiri saya. Dari Sun ke Sinar Baru, nama rumah makan yang kami tuju ditempuh selama sepuluh menit berjalan kaki. Namun, saya putuskan untuk singgah sebentar di kuil Shri Mariamman sejenak. Kuil ini dibangun untuk memuja Dewi Kali. Ketika saya masuk, suasana kuil sangat lengang. Hanya ada seorang pria bertelanjang dada dan memakai kain bawahan  khas India sedang duduk khidmat di dekat altar. Bau harum dupa semerbak menembus indra penciuman saya. DSC02507

——— toko busana khas India ———

Sepanjang jalan KH Zainul Arifin dulunya merupakan kawasan pemukiman migran dari Tamil. Saat ini, justru keberadaan mereka telah menyebar ke berbagai kawasan lain di kota Medan. Berbagai pernak-pernik khas India bisa dijumpai disini. Mulai dari pakaian khas India seperti kain sari, dupa, rumah makan India dan lain-lain. Menciptakan sepotong imajinasi tentang negeri Bollywood.

Etnis Tamil dari India selatan memiliki kulit yang cenderung lebih gelap daripada etnis lain yang tinggal di India utara. Karena sebutan Keling dirasa cukup mengganggu warga pendatang, sebutan itu kini diganti dengan Madras. Kawasan ini pun sekarang resmi disebut kampung Madras, Little India ala Medan ceritanya.

Di depan Rumah Makan Sinar Baru, pandangan langsung tertuju pada pot besar yang seluruh permukaannya ditutup bunga seruni / krisan dengan tiga lapisan warna. Pada bagian terluar seruni berwarna kuning, lalu ditengah-tengah seruni berwarna ungu dan di pusatnya terdapat teratai berwarna hijau pupus. Indah sekali.

Masuk ke dalam terdapat sekitar lima atau enam meja kayu dengan kursi dari kayu dan dilapis busa tipis. Tidak terlalu mewah. Saya dan Koko memilih kursi paling ujung. Rumah makan ini memiliki pendingin udara sehingga cukup nyaman untuk kota Medan yang panas. Pada dinding ruangan dipajang lukisan-lukisan dari buku Kamasutra epos India.

DSC02520DSC02521

———  dosa masala (piring datar) dan nasi briyani (dalam belanga) ———

Sinar baru sebenarnya bukan pilihan saya. Cari informasi di google, awalnya saya ingin mencoba Banana Leaf restoran. Rumah makan India juga dan letaknya tidak jauh dari Sinar Baru. Rupanya tempat yang saya inginkan sudah kadung gulung tikar. Begitu disodorkan daftar menu saya langsung terkejut. Harganya cukup menguras kantong glekk… Teh tawar yang biasanya gratis disitu dijual seharga Rp 8.000,- nasi biryani favorit saya dipatok Rp 48.000,- hanya untuk satu porsi.

Rumah makan ini menjual aneka menu masakan khas India utara dan selatan seperti nasi biryani, masala, martabak, roti cane, thali (mirip nasi ampera), naan (roti polos). Terdapat juga menu lokal seperti nasi goreng dan mie goreng. Ohya, minuman beralkohol dijual juga disini!

Malam itu saya pesan nasi briyani dan teh tarik, dan paper atau papadum. Koko memilih untuk menikmati mutton dosa masala. Nasi biryani atau kadang disebut briyani merupakan makanan khas India dan Asia Selatan pada umumnya. Mirip dengan nasi kebuli atau nasi minyak. Saya jatuh hati pada nasi biryani sejak kunjungan saya ke Singapura beberapa tahun yang lalu.

Sekitar lima belas menit menunggu, pesanan saya datang. Porsi nasi biryani cukup kecil, dihidangkan dalam wadah menyerupai periuk stainless. Ditemani kuah kambing, kerupuk papadum (mirip opak Jawa) dan acar nanas. Sayang, di tempat ini nasi biryani menggunakan beras lokal. Bukan beras basmati sebagaimana nasi biryani yang saya jumpai di negeri singa. Rasa nasi dan kuah kambingnya juga tidak seenak disana. Meski agak sedikit kecewa, toh saya habiskan seluruh jatah makan malam saya.

Kejutan justru datang dari dosa masala, makanan mirip sandwich berisi daging yang dimakan dengan cara dicocol. Rasanya cukup untuk mengobati rasa kecewa saya pada nasi biryani. Sekian.

DSC02518

———  me and Koko ———

Daftar pengeluaran (Rp) :

  1. Mutton biryani : 48 k
  2. Paper / papadum : 18 k
  3. Dosa masala : 30k
  4. Teh tarik : 18k
  5. Jus jeruk : 24k

NB : Terimakasih banyak Koko atas traktirannya. 🙂

Iklan

6 comments

  1. Jadi makin minat makan nasi briyani soalnya belum pernah :haha. Eksplorasi yang mengagumkan, saya selalu suka deskripsi Mas yang padat tapi lengkap :hehe. Keragaman memang nama tengah negeri ini, agaknya, soalnya perpaduan etnis sepertinya ada di semua lokasi di Indonesia, ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s