sumuTrip (2) : Tjong A Fie Sang Filantropis

There on the earth where I stand I hold the sky
Success and glory consist not in what I have gotten but in what I have given
Tjong A Fie

Saya amati baik-baik prasasti biografi singkat Tjong A Fie (TAF) di dekat pintu masuk rumahnya. Bentuknya kotak dengan tulisan bewarna emas. Di ujung atas ditempel foto sang pemilik rumah beserta sang istri. Lengkap dengan tahun kelahiran dan kematian. Di bawahnya diceritakan secara ringkas sejarah TAF dan peranannya bagi kota Medan. Menutup kalimat pada prasasti, digoreskan kata mutiara favoritnya : Keberhasilan dan kejayaan bukan karena apa yang kudapatkan, melainkan apa yang kudermakan

Siapa Tjong A Fie

DSC02351

Tjong A Fie (duduk di sebelah kanan) beserta istri, anak dan cucunya

Langkah diayun pelan memasuki sebuah rumah bertingkat dua bergaya Tionghoa bercat warna hijau dan kuning khas Melayu. Terletak di Jalan Ahmad Yani yang dulu beken dengan sebutan Kesawan. Sebuah kawasan yang sibuk dan prestisius di Tanah Deli. Deretan gedung-gedung kuno berarsitektur Indis tersebar di kawasan ini.

Perkenalkan, pemilik rumah ini adalah Mayor Tjong A Fie. Lahir di Kanton pada tahun 1860 dan meninggal di Medan pada tahun 1921. TAF lahir sebagai anak keempat dari sebuah keluarga miskin di Mei Xien, Guangdong, Tiongkok. Kemiskinan mendorongnya untuk meninggalkan keluarga dan merantau ke Deli (Medan saat ini). Di Medan, TAF tinggal di rumah abangnya yang telah lebih dulu menjabat sebagai Kapitan (pemimpin kaum Tinghoa zaman kolonial).

Selama hidup TAF menikah 3 kali. Pertama di Tiongkok dengan wanita bermarga Lee. Ketika merantau ke Deli, sang istri terpaksa ditinggal karena terhalang undang-undang keimigrasian Tingkok yang melarang perempuan meninggalkan negaranya. Tiba di Tanah Deli, TAF menikahi Nyonya Chew dan memiliki 3 putra. Setelah Ny. Chew meninggal, dia menikah dengan Lim Koei Yap. Seorang gadis keturunan Tinghoa-Melayu (peranakan). Putri seorang mandor perkebunan di Labuhan Deli. Dari pernikahan terakhir, mereka dianugerahi 2 putri dan 5 putra serta 29 cucu.

Kerja keras, keuletan dan kepandaian membawa TAF menjadi orang terpandang dari status sosial dan materi. Meski limpahan kekayaan membuatnya menjadi orang terkaya di Medan saat itu -ada yang mengatakan bahwa beliau merupakan orang terkaya di Asia Tenggara saat itu- TAF dikenal bukan karena harta, melainkan jiwa filantropi (dermawan) semasa hidup. Tak terhitung ribuan kaum papa yang disantuni, berbagai rumah ibadah bermacam agama, dan berbagai fasilitas umum disantuninya.

Rumah Tjong A Fie
DSC02460

Rumah tinggal sang Mayor Tionghoa berdiri di atas lahan seluas satu hektar. Mulai dibangun pada tahun 1895 dan selesai sepenuhnya lima tahun kemudian. Rumah ini terdiri dari dua lantai dengan jumlah kamar sebanyak 40 ruangan. Sangat besar, bahkan untuk ukuran saat ini. Rumah ini dibuka untuk umum tanggal 18 Juni 2009, memperingati haul TAF yang ke-150 tahun.

Setelah puluhan tahun menjadi rumah pribadi, dua orang cucu TAF dari istri terakhir yaitu Tjong Nyie Mie dan Tuan Tjung Tung Fon berinisiatif membuka rumah opanya seluas-luasnya untuk masyarakat. Sekaligus mendirikan Tjong A Fie Memmorial Institute yang bergerak dalam pengembangan budaya Peranakan di Indonesia.

Bagian Rumah Tjong A Fie

Rumah Tjong A Fie membawa saya kepada nuansa era awal abad ke-20. Dimana saat itu rakyat masih hidup dalam keadaan susah, Tjong A Fie menikmati hidup sebagai orang berkecukupan, namun sangat dermawan. Dia merupakan orang pertama yang memiliki mobil pribadi di Medan, satu dari segelintir orang terpandang di Medan yang sudah menerangi rumah dengan jaringan listrik, memiliki 12.000 karyawan dari korporasi bisnisnya yang meliputi bank, perkebunan, dan transportasi.


DSC02353

ruang tamu untuk menerima Sultan Deli. TAF menyumbang sejumlah uang untuk membangun Masjid Raya Medan, Masjid Gang Bengkok, Masjid Lama Sipirok (Kab. Tapanuli Selatan), balai kota lama (sekarang Hotel Aston Medan), kantor residen (sekarang Bank Standard Chartered Medan) sejumlah gereja dan vihara di Medan

DSC02361

ruang tidur utama TAF dan istrinya, di tempat ini TAF menghembuskan nafas terakhirnya, aura aneh membuat saya tidak berlama-lama di ruangan ini. Ruangan ini hanya boleh difoto dari luar tanpa menggunakan lampu kilat

DSC02367

ruang makan

DSC02399

ruang tamu di lantai dua, sering dipakai untuk acara resmi dan ruang dansa

DSC02328

jendela kayu di lantai dua : di belakangnya ada altar untuk beribadah kepada Dewa Perang. Altar satu lagi terletak di lantai satu untuk menghormati leluhur.

DSC02396

kenang-kenangan dari Sun Yat Sen (Presiden Taiwan)

Misteri Kematian Tjong A Fie
Pada tahun 1921, TAF merencanakan sebuah liburan ke Eropa. Dia memesan sebuah kapal pesiar untuk mengangkut seluruh keluarganya. Sayang, sebelum kapal selesai dia terkena serangan pecah pembuluh darah yang membawanya ke peristirahatan terakhir pada umur 61 tahun. Ribuan pelayat dari Medan dan berbagai kota di Sumatera Utara mengantarkan jenazahnya ke pemakaman keluarga di Pulo Brayan.

Selepas kematiannya yang mendadak, Belanda memindahkan seluruh keluarga TAF ke Swiss selama 15 tahun. Tak ada satupun keluarga Tjong A Fie yang tertinggal di Medan, sehingga harta dan perusahaannya tersebut tak ada yang mengawasi. Saat ini, sebagian kekayaan TAF telah dinasionalisasi oleh negara. Hanya rumah kediaman ini satu-satunya yang tersisa dari kejayaan namanya.

DSC02335

Desi br. Munthe; pemandu saya berdiri di samping silsilah keluarga TAF

Fakta tentang Tjong A Fie :

  1. Orang terkaya di Asia Tenggara pada awal abad ke-20
  2. Satu-satunya donatur pembangunan Museum Tropen di Belanda dari Hindia Belanda (Indonesia)
  3. Memiliki 3 istri, 7 anak kandung, 1 anak angkat dan 32 cucu
  4. Dianugerahi gelar Mayor dan Orange van Nassau oleh pemerintah Hindia Belanda
  5. Beberapa bulan sebelum kematiannya, TAF membuat surat wasiat yang intinya menyumbangkan sebagian hartanya untuk kaum kurang mampu tanpa membedakan asal-usul
  6. Riwayat hidup TAF ditulis oleh putri pertamanya Tjong Foek Yin (Queeny Chan) dalam sebuah buku berjudul Memories of a Nonya
  7. Rumah Tjong A Fie adalah museum budaya Peranakan pertama di Indonesia sebelum museum Peranakan di Taman Mini Jakarta dan Museum Benteng Heritage Tangerang
  8. Hingga kini penyebab kematiannya masih penuh teka teki

Tips Berkunjung :

  1. Tiket masuk rumah Tjong A Fie adalah Rp 35.000,- / orang termasuk guide.
  2. Siapkan waktu minimal 1 jam untuk mengelilingi seluruh bagian rumahnya.
  3. Ada dua ruangan di dalam rumah  TAF yang dilarang untuk dipotret : ruang tidur utama dan galeri Medan tempo doeloe. Selain itu ruangan sembahyang dewa di lantai dua dilarang untuk dimasuki pengunjung.

Tjong A Fie mengajarkan kepada kita untuk bekerja keras. Dia memulai bisnisnya dari nol. Ketika di puncak kejayaan dan kemakmuran, dia justru semakin dekat dengan kaum tidak punya. Sekian.

Iklan

10 comments

  1. Menarik banget nih, bertambah satu lagi deh referensi tempat yang bisa dikunjungi di Medan. Btw, sehari-harinya memang selalu sepi ya mas yang berkunjung ke museum ini, atau memang kebetulan lagi sepi aja? Dan selama berkunjung ke situ harus lepas sandal/sepatu kah karena kelihatannya lantai kayu nya bersih banget.

    Lalu ada info gak bagaimana kekayaan Tjong A Fie setelah beliau meninggal?

    • makasih udah follow kaka 🙂
      hehe.. sebenarnya mau nambah lagi, takut pada bosan liatnya…
      saya kurang tau, yg jelas disitu ada buku2 dan foto jaman dulu yg bisa jadi memiliki hak cipta dan privasi sendiri untuk keluarga Tjong A Fie

  2. Tulisan yang padat tapi lengkap dan tidak membosankan, Mas (baca: tidak kepanjangan seperti tulisan saya :hihi). Saya yang dulu ke sana saja kayaknya masih bingung apa saja yang didapat di sana (selain kejadian-kejadian nyeleneh :haha) makanya sampai sekarang postingannya belum pernah saya selesaikan :hehe :peace. Kayaknya dulu saya sudah kecapekan sampai tidak sempat memfoto silsilah keluarga itu :hehe :peace.
    Tapi yang paling saya ingat sih di kamar memang sama sekali tidak boleh memotret… :hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s