sumuTrip (1) : Bertamu ke Kuala Namu

Sudah beberapa tahun berselang ketika saya meninggalkan Medan lewat bandara Polonia. Kala itu antrian calon penumpang yang hendak check in membludak. Petugas sampai kewalahan melayani kami. Sementara pengumuman bahwa pesawat Mandala menuju Batam akan segera diberangkatkan. Dengan sedikit kepanikan, saya bergegas merangsek ke depan. Proses check in terasa begitu lama meski akhirnya saya dan sebagian calon penumpang yang lain berhasil naik ke pesawat jelang menit-menit akhir keberangkatan…

Perjalanan yang mengesankan selama di Sumatera Utara : Medan, Parapat, Balige, Samosir, Kabanjahe, Berastagi begitu membekas dalam benak: membuat saya semakin tertarik dengan budaya provinsi multietnis itu. Saya sempat mengambil kursus bahasa Batak secara online; meski tidak sampai selesai karena saya bosan. Dari (mendiang) teman saya, lewat sebuah selamatan kecil, saya menambahkan kata Saragih di belakang nama saya, sebuah marga etnis Simalungun. Meski hal ini kurang disetujui orang tua kandung saya, akhirnya mereka menyetujuinya. Di kampus, saya sempat bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Muslim Sumatera Utara yang beranggotakan anak-anak kampus yang berdarah Sumatera Utara atau pernah tinggal di Sumatera Utara. Pada sebuah kesempatan, saya menarikan Tor Tor bersama dengan beberapa kawan yang  mempunyai passion yang sama tentang budaya Batak.

Dan awal mula ketertarikan saya pada hal-hal berbau Sumatera Utara / Batak berasal dari cinta monyet saya sewaktu SMA. Namanya Dia Hendi Maria Rangga Yati Bukit, gadis manis kakak kelas saya. Dia sudah kelas 2 sewaktu saya masuk SMA. Tingginya semampai, hitam manis, tutur katanya lemah lembut tak beda dengan gadis Jawa kebanyakan. Nama Bukit yang disandangnya rupanya merupakan klan Bukit dari Karo, Sumatera Utara. Suatu saat, secara iseng saya ungkapkan rasa cinta kepadanya. Namun, dia meminta kami berteman saja, karena saya pergi ke masjid dan dia pergi ke gereja. Sejak saat itu kami tidak pernah bertemu lagi. Tahun demi tahun bergulir, mungkin dia telah melupakan saya dan sayapun memiliki kehidupan saya sendiri. 🙂

 – 2015-

Sebuah undangan meminta saya menghadiri sebuah acara kantor di Medan. Dari Bangko, alternatif pesawat langsung menuju Medan yaitu dari Palembang, Padang, Pekanbaru dan Batam. Sementara bandara terdekat yaitu Jambi sedang ditutup karena kabut asap. Saya hapus rencana ke Medan lewat Jambi lalu transit di Batam. Pilihan yang rasional adalah lewat Padang karena bandara Padang masih belum terpengaruh asap.

Dari Bangko menuju Padang ditempuh selama delapan jam perjalanan darat naik travel. Saya berangkat jam delapan malam. Saya sengaja pesan dua bangku paling belakang agar bisa meluruskan punggung. Hampir tengah malam kami singgah di Gunung Medan, sebuah kota kecil di tepi jalan lintas tengah Sumatera, masuk kabupaten Dharmasraya. Afdal, kawan sekantor saya menawari makan sate Padang. Sayang, kuahnya terlalu pedas menurut saya sehingga saya ambil minum saja. Saya lantas tertidur pulas dan terbangun ketika mobil tiba di Lubuk Selasih, pinggiran kota Solok menuju arah Padang. Kabut tebal menutupi pandangan. Entah kabut karena asap atau kabut bakal hujan… Afdal turun di rumah kakaknya di Indarung sementara saya turun di kosan kawan saya di Tabiang, dekat bandara lama.

Beberapa saat saya kirim pesan instan ke ponsel Afif, tetapi tidak mendapatkan respon. Saya telpon tidak diangkat. Saya putuskan pergi ke masjid dekat kosannya sambil menunggu dia bangun. Afif saya kenal ketika dia singgah di Kerinci dalam perjalanannya naik sepeda dari Padang ke Bengkulu. Saat ini Afif masih menyelesaikan tugas akhir sebagai mahasiswa Seni Rupa di UNP Padang. Alhamdulillah, bakda Subuh Afif bangun dan saya singgah di kosannya untuk menumpang tidur beberapa jam.

Kami sarapan lontong pecal di dekat kampus Afif sebelum pergi ke Bandara Minangkabau. Afif lantas mengantar saya naik motor ke bandara di kawasan Ketaping yang sudah masuk wilayah Padang Pariaman. Sekitar setengah jam dari Tabiang. Sekitar jam sebelas pesawat saya meninggalkan atap runcing bandara Padang menuju Medan.

DSC02268

atap bagonjong khas rumah-rumah di Sumatera Barat

Instagramable Kuala Namu!

Jarak antara Padang dan Medan ditempuh selama satu jam perjalanan. Sengaja saya pesan kursi A di dekat jendela agar bisa memandang panorama Danau Toba dari ketinggian. Sayang, keinginan saya belum terwujud. Hanya kabut tebal kelabu menemani saya sepanjang perjalanan di udara.

Jelang mendarat, permadani hijau berupa perkebunan warna hijau menghias dari balik jendela. Sekilas tak beda jauh dengan pemandangan ketika pesawat mendarat di Jambi. Pendaratan berlangsung mulus. Dari jauh, tampak gedung bandara Kuala Namu yang berdinding kaca dan beratap metal berbentuk gelombang atau  semacam kipas.

DSC02272

Bandara Kuala Namu diresmikan tahun 2013 menggantikan bandara Polonia yang telah melebihi kapasitas. Bandara terbesar kedua di Indonesia ini berada di desa Kuala Namu, kecamatan Beringin, kabupaten Deli Serdang. Berjarak 39 km dari kota Medan. Nama Kuala Namu dipilih sebagai jalan tengah karena masing-masing etnis di Sumatera Utara mengusulkan banyak sekali nama pahlawan untuk dijadikan nama bandara. Solusi yang arif, bukan?

Memasuki area kedatangan, saya disambut bangunan tinggi beratap khas Karo dan itu rupanya lift! Spanduk-spanduk raksasa menghiasi dinding menuju tempat pengambilan bagasi. Spanduk itu bergambar tempat-tempat wisata di Medan dan Sumatera Utara yang telah mengalami proses pengeditan sedemikian rupa hingga tampak kekinian.

DSC02273

lift beratap empat penjuru khas Karo

 DSC02275

ornamen merah, putih, hitam khas Batak Toba

Di depan eskalator menuju stasiun kereta api dipajang miniatur Masjid Raya Medan yang merupakan salah satu ikon kota Medan. Di dekatnya terdapat pusat informasi wisata Sumatera Utara dan galeri Dekranasda Sumatera Utara yang letaknya bersebelahan. Pelayanan petugas disitu sangat ramah. Saya mengambil beberapa brosur wisata di pusat informasi lantas membeli sebuah kaos khas Medan dan sebuah magnet kulkas di Dekranasda. Tak hanya itu, Dekranasda menjual kain-kain etnis, miniatur rumah adat, gantungan kunci, ukiran dan berbagai macam souvenir khas Sumut lainnya.

DSC02280

bantal tidur saya di depan miniatur Masjid Raya

DSC02288

pusat informasi wisata Sumatera Utara

DSC02284

galeri Dekranasda Sumatera Utara

DSC02292

miniatur Menara Air Tirtanadi Medan, miniatur rumah adat Nias Utara (kiri), rumah adat Simalungun (kanan)

DSC02294

kain tenun khas Sumatera Utara : ulos Batak, uis Karo, songket Melayu, dll

Dari Kuala Namu menuju Medan ada berbagai alternatif transportasi yaitu kereta api, bus Damri dan taksi. Selaku pecinta rel dan kuda besi, saya memilih moda kereta api yang dikenal dengan nama Railink. Tiket Railink Rp 100.000,- sekali jalan untuk pembelian langsung. Untuk pembelian lewat situsnya kabarnya bisa setengah harga. Sampai saat ini, kereta api merupakan kendaraan tercepat menuju Medan atau sebaliknya. Waktu tempuh Medan-Kuala Namu 30 menit dan Kuala Namu-Medan 45 menit.

Loket pembelian tiket kereta api bandara lebih menyerupai lobi resepsionis hotel ketimbang loket penjualan tiket. Atapnya yang berbentuk bulat transparan memungkinkan cahaya masuk dengan leluasa. Puluhan replika koper beraneka warna semakin menyemarakkan atap.

DSC02299

Ruang tunggu kereta api dihiasi dengan latar bergambar danau Toba yang merupakan ikon Sumatera Utara. Di sebelahnya latar bergambar hutan bambu dan taman bunga.

DSC02301

Di ujung ruang tunggu nampak hidung kereta api Railink. Sekira 15 menit menunggu, terdengar pengumuman kepada para penumpang Railink untuk segera naik ke kereta. Belum masuk kereta, saya lagi-lagi dibuat kagum dengan interior peron stasiun yang bergaya minimalis futuristis.

DSC02308

Jujur, kereta api ini tidak kalah bagus dengan kereta api di negeri tetangga. Bersih, harum, dan udaranya dingin. Kursinya sangat empuk dan nyaman. Sayang, saya tidak menemukan colokan untuk mengisi baterai hp. Kekurangan lain, pemandangan ke luar tidak terlalu jelas karena tertutup filter berwarna hitam. Jam 13.10 kereta berangkat menuju Medan, bismillah…

Iklan

9 comments

  1. Eh, ternyata kaca kereta ARS ditutup filter hitam toh? Dulu aku naik pas habis maghrib. Pas nengok ke luar emang gelap banget. Pikirku klo siang mungkin kelihatan. Eh, setelah baca ceritamu ini kayaknya klo siang ya sama aja, hahaha. Besok2 mau nyoba naik bus DAMRI ah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s