Yang Baru di Jambi : Gentala Arasy

DSC00918

 

 

 

 

 

lobi Museum Gentala Arasy

 

 

Saya dan bang Septa bergegas menuju ke jembatan Gentala Arasy setelah menaruh motor di pangkal jembatan. Seorang penjaja sewa payung menawarkan ‘dagangannya’ untuk dipakai berjalan-jalan di atas jembatan. Saya memilih tetap memakai helm untuk melindungi kepala dari sinar mentari. Inilah Jambi : jam sepuluh pagi serasa jam satu tengah hari. Keringat mulai mengucur di kepala.

DSC00903

 

 

 

 

 

 

di atas jembatan

DSC00908

 

 

 

 

 

 

mall WTC dan Ramayana di bantaran sungai Batanghari, sungai terpanjang di pulau Andalas

Tidak terlalu banyak pengunjung di jembatan Gentala Arasy. Jembatan ini dibangun untuk tujuan wisata, menghubungkan kawasan Pasar Jambi dengan Seberang Kota Jambi serta diresmikan beberapa bulan yang lalu oleh Wakil Presiden. Sebelumnya, jika warga ingin ke Seberang atau sebaliknya harus naik perahu. Jika ingin membawa mobil harus memutar lewat jembatan Batanghari 2 di Sijenjang atau jembatan Aur Duri di dekat Mendalo.

 

Gentala Arasy diartikan Genah Tanah Lahir Abdurrahahman Sayuti, sebagai “hadiah” gubernur saat ini untuk salah seorang mantan Gubernur Jambi. Sepintas, model jembatan mirip dengan jembatan Barelang di Batam. Terdiri dari dua buah tiang penyangga dan ditopang puluhan kabel baja. Namun, jembatan ini meliuk membentuk huruf S serta hanya bisa dilalui oleh pejalan kaki. Untuk para pengendara motor dan mobil disediakan tempat parkir di tepi jembatan, di depan rumah dinas kantor gubernur.

DSC00915

 

 

 

 

 

 

 

menara Gentala Arasy di ujung jembatan

Lima belas menit ‘membelah’ sungai Batanghari, kami sampai di Seberang. Disini dibangun sebuah menara jam sekaligus museum sejarah Islam di Jambi. Tidak dipungut tiket masuk ke museum. Pengunjung cukup mengisi buku tamu yang disediakan petugas.

DSC00966

 

 

 

 

 

 

 

Museum ini terdiri dari dua lantai. Lantai bawah tanah berfungsi sebagai ruang serbaguna. Lantai dasar sebagai ruang pameran tetap. Terdapat sebuah lift di tengah-tengah lantai dasar. Sayang, lift sedang tidak bisa digunakan.

Di lobi museum, pengunjung disambut oleh foto para gubernur yang pernah memimpin Provinsi Jambi serta para pimpinan DPRD Jambi. Di sebelah kiri terdapat beduk yang pernah dipakai waktu MTQ Nasional di Jambi Tahun 1997 serta sebuah mushaf Al Qur’an raksasa. Mushaf ini ditulis pertama kali oleh Presiden Soekarno pada tahun 1948 dan baru selesai dikerjakan secara bertahap pada tahun 2014. Dicantumkan juga nama-nama penulis mushaf ini yang berjumlah 6 orang. Dua belas motif tradisional khas Jambi seperti motif keladi, bunga durian, bunga kopi dan lain-lain turut menghiasi mushaf ini.

DSC00960

 

 

 

 

 

 

 

Disamping sejarah berdirinya provinsi Jambi ditampilkan panel-panel sejarah masuknya Islam di Jambi. Lucunya,  terdapat baju-baju dan alat pertukangan yang dipakai selama pembangunan jembatan dan menara.

DSC00926

 

 

 

 

 

 

 

Bagian  yang paling menarik adalah pameran artefak peradaban Islam dari berbagai kabupaten dan kota di Jambi. Seperti pakaian ulama tempo dulu, senjata perjuangan, Al Qur’an tulisan tangan, alat-alat makan. Di samping itu terdapat foto-foto masjid bersejarah di seluruh Jambi.

DSC00962

 

 

 

 

 

 

 

bang Septa dan mihrab masjid dari Muara Siau, Kab. Merangin

DSC00956

 

 

 

 

 

 

 

masjid kuno Lempur Hilir

DSC00934

 

 

 

 

 

 

 

keris berhiaskan lafal Alloh

Ada sebuah foto ulama yang cukup menyita perhatian saya. Beliau adalah Datuk Shintay. Seorang ulama berdarah Tionghoa yang dipercaya sebagai penyebar agama Islam di kota Jambi terutama di kawasan Seberang. Selain menyebarkan agama, beliau turut merintis berdirinya pusat perekonomian di Jambi yang dikenal sebagai Kampung Pacinan.

DSC00931

 

 

 

prestasi gubernur Jambi

 

 

 

Di ujung menuju pintu keluar, ditampilkan foto-foto yang sepertinya merupakan modus kampanye hasil pencapaian gubernur Jambi incumbent. Secara keseluruhan museum Gentala Arasy layak kunjung, meskipun koleksinya belum terlalu banyak dan lengkap. Cukup untuk mendinginkan hati dan badan dari suasana panas luar biasa di luar sana.

DSC00985

 

 

 

 

 

 

 

jembatan Gentala Arasy dari Seberang

Keluar dari museum, kami sempatkan melihat-lihat relief yang menceritakan sejarah Islam di Jambi. Terdapat juga patung Angso Duo yang memiliki kaitan dengan sejarah kota Jambi. Nama Angso Duo saat ini disematkan menjadi nama pasar induk di kota Jambi. Pulang ke pasar, kami tidak melewati jembatan melainkan naik perahu ketek. Ongkosnya lima ribu seorang.

DSC00990

 

 

 

 

 

 

 

naik ketek

DSC00991

 

 

 

 

 

 

 

di bawah naungan jembatan 

DSC00970

 

 

 

 


taman relief di seputar menara

DSC00977

 

 

 

 

 

 

patung Angso Duo

Iklan

7 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s