Traveling with Omnduut#3 : Jembatan Gentala Arasy

DSC00984

 

 

 

 

 

Jembatan Gentala Arasy, ikon baru Kota Jambi

Sebelum ke Candi Muaro Jambi, saya dan Yayan/Omnduut menyempatkan makan nasi gemuk. Nasi gemuk adalah menu sarapan yang lazim dijumpai di Jambi dan Sumatera bagian selatan umumnya. Isinya berupa nasi gurih mirip nasi uduk ditambah teri goreng, telur rebus/goreng, ketimun, sambal merah dan kerupuk.

Siangnya, sepulang dari candi saya ajak Yayan mencicipi nasi minyak yang juga khas Jambi. Lokasinya di kawasan Kampung Manggis dekat Jembatan Makalam. Kata Yayan, nasi minyak juga ditemui di Palembang. Namun, menurutnya nasi minyak Palembang memiliki beberapa perbedaan dari segi bumbu, cita rasa dan penyajian dibandingkan dengan nasi minyak yang kami santap. Saya manggut-manggut saja mendengar penjelasannya. Lain kali saya harus mencoba nasi minyak kalau bertandang ke Palembang. 

DSC07714

nasi minyak disajikan dengan kari kambing, sambal nanas dan acar ketimun :p

DSC02154

 

 

 

 

meski namanya Warung Manggis, tempat ini sering dikunjungi artis dan pejabat. yang di ujung kanan itu foto Zumi Zola, artis sinetron yang sekarang menjadi pejabat lokal di Jambi

 

 

 

 

 

 

 

Sambil menunggu sore, saya ajak Yayan menjelajahi sebuah tempat nongkrong wisata baru di Jambi yaitu Jembatan Gentala Arasy. Lokasinya persis di samping mall WTC Batanghari di depan rumah dinas gubernur Jambi. Nama Arasy disematkan untuk mengenang salah satu mantan Gubernur Jambi yaitu Abdurrahman Sayuti. Ohya, jembatan sepanjang sekitar lima ratus meter ini khusus untuk pejalan kaki saja. Namun, motor dan mobil pengunjung bisa diparkir di tepi jembatan.

DSC00999

titik 0 kota Jambi (Paal 0) di depan rumah dinas Gubernur, di pangkal jembatan Gentala Arasy, perjalanan menjelajahi jembatan dimulai dari sini. Buat yang tidak membawa tutup kepala bisa menyewa payung disini lho..

 

 

 

DSC00903

di atas jembatan; jembatan ini menghubungkan kawasan Pasar Jambi (Benteng, Masjid Seribu Tiang, Pasar Angso Duo, Ramayana, mall WTC) dengan kawasan Seberang Kota Jambi / Sekoja.

 

 

 

 

DSC00904

aktivitas penyeberangan di Sungai Batanghari; adanya jembatan ini mengakibatkan penurunan aktivitas penyeberangan di Sungai Batanghari

 

 

 

DSC00915

di ujung jembatan dibangun menara jam dan museum perjuangan Islam di provinsi Jambi

 

 

 

 

DSC00977

 

patung Angso Duo yang memiliki kaitan dengan sejarah asal usul kota Jambi

 

 

 

DSC02157

 

 

kami memutuskan naik ketek (perahu) dari seberang menuju pasar, ongkosnya hanya Rp 3.000,- per orang sekali naik dengan waktu tempuh sekitar lima menit saja

 

 

Di ujung jembatan dibangun sebuah menara jam yangmana di lantai bawahnya dibuat sebuah museum. Sayang museum dalam keadaan ditutup. Kami hanya foto-foto di sekitar menara lalu kembali ke kawasan pasar menaiki perahu kecil yang di Jambi disebut ketek.

Dari Jembatan Gentala, kami berpisah. Sorenya, Yayan menghadiri acara pernikahan sahabatnya di Mayang sedangkan saya menuju Telanaipura, tempat diadakannya acara kopi darat komunitas Backpacker Dunia Jambi dan CouchSurfing Jambi. Kebetulan Yayan lagi di Jambi, saya minta dia untuk berbagi cerita tentang perjalanannya ke India dan Kashmir.

Lepas Maghrib, saya ketemuan dengan Yayan di Radja Foodcourt Telanaipura. Sebelumnya saya dan Yayan sempat masuk ke temphoyac, sebuah toko yang menjual kaos-kaos unik dan oleh-oleh khas Jambi. Kalau bingung mau beli oleh-oleh makanan, kaos, kerajinan khas Jambi bisa singgah di sini. Temphoyac ada tiga outlet. Pertama di bandara Sultan Taha Jambi, di The Hok sebelum bandara dan di Telanaipura #promosi.

DSC02171Radja Foodcourt tempat ngumpul malam itu. Salah satu outlet dimiliki oleh Ian yakni Jajajan Backpacker, salah seorang anggota Backpacker Dunia Jambi. Menyediakan menu khas Asia seperti pad thai, ketan mangga, mie ramen, laksa Penang, dan beberapa menu lokal #promosi lagi

DSC02162

 

 

Yayan di temphoyac

 

 

 

 

 

 

 

Tidak terlalu lama, datang beberapa kawan hingga berkumpul sejumlah 15 orang. Bang Ario, Budi, Ian, bang Indra, Bona, bang Lukman, Zulfan, Wahyu, kak Ery, Andre, kak Ayu, Winda, bang Hery dan bang Fauzan. Sebagian dari mereka belum saya kenal sebelumnya. Namun, malam itu kami hanyut dalam suasana keakhraban. Yayan berbagi tentang cerita perjalanannya ke India dan Kashmir. Sementara teman-teman yang lain sibuk bertanya-tanya kepada Yayan. Menjelang jam 10 malam, Yayan mengakhiri pertemuan dengan membagi-bagikan cenderamata berupa gantungan kunci yang dibelinya di India 🙂 What a wonderfull nite…

 DSC02164        DSC02168DSC02174DSC02177   


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ketan mangga – kopdar di Radja Foodcourt – foto bersama – koffiekopi

Kumpul-kumpul berlanjut. Saya dan beberapa kawan yang lain memutuskan pindah lokasi nongkrong ke sebuah kedai kopi bernama koffiekopi. Tempat serupa kafe ini menyediakan kopi orisinil dengan berbagai varian dari berbagai daerah. Deretan meja kayu, lampu temaram,  gerombolan kawanan pecinta kopi hanyut dalam dunia masing-masing. Menciptakan suasana mistis, mirip air kopi yang hitam. Sementara barista sibuk meracik kopi sesuai pesanan pengunjung, kami lagi-lagi hanyut dalam obrolan dan candaan. Saya yang memiliki permasalahan perut dengan kopi sempat diledek karena memesan air putih hangat, sementara semua kawan memesan kopi. 😀 Malam itu, kami semakin mendekat, semakin merapat.

Lihat selengkapnya : cerita Yayan tentang Radja Foodcourt dan Temphoyac

Iklan

13 comments

  1. […] sekaligus buka bersama. Alhamdulillah makin banyak yang datang. Setelah Lebaran, kami mengadakan kopdar lagi sekaligus merupakan kopdar paling ramai. Yayan dari Palembang menjadi bintang tamu dan membawakan […]

  2. Nasi minyak? Nasi gemuk? Masih satu keluarga dengan nasi lemak Malaysia ya? Tapi hmm, kelihatannya lezat sekali. Sangat menggiurkan. Di tempat saya ketek itu disebut getek, tapi kalau kata orang Sunda getek itu artinya geli #salahfokus.

    Wah, pertemuan sesama blogger yang sangat seru. Dan, betapa bagusnya jembatan itu. Angsanya cantik. Kapan ya Bang Nduut bertandang ke Kalimantan Tengah? #ngarepdapetsouvenirdariIndia, hehe…

  3. Tapi beneran, aku kok ya jadi takjub dengan cara minum kopi yang disarankan Ian. Harus ditahan di lidah dan rasa asam kopi akan muncul. Bener banget hahaha. Ajaib :p walau gitu aku tetep gak suka ngopi haha, selain rasanya lebih enak es jeruk *lol* aku lebih seneng diajakin ngirup cuko *ya saman* 😀

  4. yups…di palembang juga ketek namanya lid hahaha 😀
    dijawil aja kalo ke jambi, entar aku temenin ke candi muaro jambi
    kalo suka liat pegunungan kerinci juga menarik kok cak hehehe

    di beberapa daerah juga ada nasi minyak, aku sampe sekarang masih penasaran sama nasi minyak yang di ampel (surabaya) sama di kampung madras medan… pasti beda citarasanya 🙂

  5. Itu beneran naik ketek? asem dong wakakaka…
    Nasi minyak yang pernah saya makan adalah nasi minyaknml yg disajikan airasia. Duh kenapa waktu ke Palembang kemarin ketinggalan makan itu yaakk…

    Ah Jambi menarik, suatu saat, suatu saat saya ke sana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s