Traveling with Omnduut#2 : Candi Muaro Jambi

Sekitar beberapa tahun yang lalu saya berkunjung ke kompleks Candi Muaro Jambi bersama seorang teman. Dari total 13 (tiga belas) candi yang yang tersebar seluas areal 12 km persegi atau dua ratus enam puluh hektar, baru tiga buah candi yang sempat saya lihat yaitu Candi Tinggi 1 dan 2 serta Candi Gumpung. Nama ketigabelas candi yang telah dipugar yaitu Candi Koto Mahligai, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2, Candi Kedaton, Candi Gumpung, Candi Tinggi 1, Candi Tinggi 2, Candi Kembar Batu, Candi Teluk 1, Candi Teluk 2, Candi Astano, Candi Sialang dan Candi Cina. Masih ada belasan bahkan mungkin puluhan candi yang menunggu nasibnya : untuk diselamatkan atau dilupakan.

Kali ini, ditemani Yayan yang datang jauh-jauh dari Palembang, saya bertekad melihat lebih banyak lagi candi di Muaro Jambi ini. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit dari rumah bang Lukman di Kasang, kami tiba di Muaro Jambi.

Kami hendak menuju ke kompleks candi. Namun, karena tersasar saya justru menjumpai makam kelingking Raden Mattaher, salah satu pahlawan daerah Jambi yang gugur ditembak Belanda. Benar sekali,Ā  pada sebuah pusara yang terabaikan, dimakamkan salah satu bagian tubuh beliau. Makam yang lazim diketahui awam adalah yang berlokasi di Kampung Baru Legok, di tepi Danau Sipin Kota Jambi.

DSC02093
makam kelingking Raden Mattaher

Awalnya kami ingin melihat pusat informasi candi sekaligus museum yang terletak dekat kolam Telago Rajo. Namun, seorang oknum tanpa mengenakan pakaian dinas mendatangi kami dengan agak kurang ramah. Hanya beberapa menit di dalam museum, Yayan dan saya memutuskan untuk keluar.

Candi pertama yang kami jumpai adalah candi Tinggi 1, yang lokasinya tidak jauh dari kolam Telago Rajo. Kolam buatan ini diduga dibangun untuk sumber resapan guna mencegah banjir pasang sungai Batanghari sekaligus perlambang dunia Buddha.

DSC02098
DSC02103

kolam Telago Rajo dan Candi Tinggi 1

Tidak jauh dari Candi Tinggi 1 adalah Candi Tinggi 2 yang merupakan candi utama di sini. Ohya, tempat ini merupakan salah satu tempat yang ingin dikunjungi Yayan pada tahun ini. šŸ™‚

DSC02109 DSC02114 DSC02120
Yayan dan Candi Tinggi 2

Matahari semakin naik. Kami memutuskan beristirahat di bawah naungan pohon sambil minum minuman dingin. Tidak seperti tahun-tahun lampau, sudah banyak pedagang dan penjual jasa sewa sepeda untuk berkeliling candi Muaro Jambi. Tarifnya sangat murah. Hanya Rp 10.000,- perorang selama sehari.

DSC02125

Tujuan kami yang terakhir adalah Candi Gumpung. Candi yang berbentuk balok dengan sebuah ruangan buntu yang dulu pernah ditemukan prasasti emas. Dari prasasti itulah terkuak bahwa candi Muaro Jambi berlaras Buddha.

DSC02128
DSC02134

Kabut asap tebal yang menyelimuti Kota Jambi selama beberapa minggu terakhir dan sinar matahari terik membuat kami memutuskan untuk bergegas pulang. Menjelang Dhuhur kami meninggalkan kompleks candi.

Dalam perjalanan pulang, kami melihat sebuah candi dan menyempatkan singgah. Rupanya inilah Candi Kedaton, kompleks candi terluas dalam kompleks candi Muaro Jambi. Untuk menuju Candi Kedaton, kami harus menyeberangi sebuah jembatan kayu di atas sungai. Tampak beberapa pekerja sedang memugar candi.

DSC02137
DSC02147 DSC02148

 

Ā Ā  Ā 

 

 

Ā 
Pintu masuk, bagian luar, dan isi dalam candi Kedaton

Candi Kedaton mempunyai sebuah ruangan yang bisa dimasuki. Mirip dengan candi Gumpung. Karena terbatas waktu, masih banyak sisi lain candi Muaro Jambi yang belum saya lihat. Dari 13 candi, baru 5 candi yang berhasil saya lihat. Suatu saat nanti, saya pasti akan kembali, mungkin bersama kamu, atau kamu… šŸ™‚

DSC02149

DSC02139

Lihat juga : Tulisan Yayan tentang Candi Muaro Jambi

26 Comments Add yours

  1. sebenarnya saya sudah sering jalan2 ke candi MuaroJambi. tapi, hanya sekedar lihat2 doank dag tau sejarahnya, rupanya candi Muaro Jambi ne ternyata berlaras Budha. terimakasih mass nambah juga sedikit pengalaman saya………. hehehe

    1. Avant Garde berkata:

      sama2 kak ali…. makasih udah singgah šŸ™‚

  2. Gara berkata:

    Hmm… menarik untuk dikunjungi. Dari bentuknya yang minimalis dan terkesan terpotong, saya mendapat kesan kalau di candi ini dulunya ada bagian atas yang dibangun dari susunan kayu atau benda yang mudah terbakar, karena sepenglihatan saya sejauh ini, candi Budha terkesan lebih spektakuler, bahkan merupakan gugusan-gugusan candi paling mengagumkan yang ada di Indonesia.

    Apalagi, saya sempat baca sekilas di blog Mas Yayan kalau ini menggunakan bata merah (yang notabene penggunaannya baru tenar di zaman Majapahit akhir), dan memang di masa itu pembangunan candi dengan batu hanya digunakan di bagian dasar candi saja, berbeda dengan masa-masa sebelumnya ketika seluruh candi dibangun dengan batu andesit. Waks saya kepanjangan lagi nih komentarnya :haha, maafkan ya. Sebenarnya saya iri banget karena Mas sudah berkunjung kemari :huhu. Kayaknya saya liburan main ke tempat Mas atau Ega di Jambi saja kali ya supaya bisa main ke candi ini :hihi.

    1. Avant Garde berkata:

      iyah..menurut penelitian memang gitu Gar..candi2 ini hanya sebagai alas, dan mungkin dindingnya udah sirna dimakan zaman #sok tau :p
      selain karena itu, susah buat nyari batu kali kualitas bagus kayak di jawa …

      hayuk..ditunggu kedatangannya di jambi
      btw candi ini sekitar 6 jam dari bangko
      kasih tau jauh2 hari yak, biar aku sama ega bisa ngosongin jadwal hehehe
      terimakasih banyak buat komen panjangnya, aku suka gar šŸ˜€

      1. Gara berkata:

        Iya Mas, kayu memang daya tahannya tidak mungkin sekuat batu, apalagi kalau dalam perjalanannya dulu banyak kejadian yang melibatkan bakar-membakar :hehe.

        Sip, pasti akan saya kabari, wow jauh juga ya :haha, kayaknya saya juga bakal mengikuti jejak Om Nduut nih :hehe.

        1. Avant Garde berkata:

          yups..hehehe, kalo mau langsung ke candi dr jakarta bisa turun di jambi.. kalo mau ketemu ega kuningan bisa turun di lubuk linggah (3 / 5 jam ke bangko) atau muara bungo (lebih mahal, tapi cuma 1,5 jam ke bangko) hehehe …
          minta pin gara dong (ke beibackpacker@gmail.com) sekalian no WA yah…
          no gara kesimpan di hp lama yg rusak..

          1. Gara berkata:

            Sip Mas, terima kasih buat infonya. Pin dan nomor whatsapp segera meluncur, sekali lagi terima kasih banyak!

            1. Avant Garde berkata:

              welcome..Gara šŸ˜‰

              1. Gara berkata:

                Bagi nomor hape Mas juga dong, bila berkenan :hehe.

                1. Avant Garde berkata:

                  WA 0823 7155 9545 BB lupa haha

                  1. Gara berkata:

                    Sip Mas, terima kasih ya :)).

  3. Febriyan Lukito berkata:

    Baru tahu ada tempat ini. Ahhh. Jd pengen kan?

    1. Avant Garde berkata:

      keren mas… makasih udah mampir šŸ˜‰

  4. Yudi berkata:

    maunya bang isna bikin sensasi dengan nyuruh si om yan naik sepeda mini cewek, pasti keliatan montok deh si om om nya šŸ˜€

    1. omnduut berkata:

      Asal ada garansi aja, mematahkan dan menghancurkan sepeda tidak berarti membeli hehehe

      1. Avant Garde berkata:

        hehehe..kalo patah dikawinkan sama yg punya sepeda :p

  5. Adie Riyanto berkata:

    Kalau aku mau ke sini juga, bakal mbok anterin juga gak? Serius ki :’)))

    1. Avant Garde berkata:

      Insyaalloh..kalau jadwalku pas ya broo

  6. Ya ampuuun indah banget tempatnya.. jadi pengen hunting foto di tempat keren kayak candi muaro jambi ini šŸ™‚

    1. Avant Garde berkata:

      ya mas… suasananya masih relatif asri šŸ˜‰ makasih udah singgah…

  7. omnduut berkata:

    Aaa seneng seneng seneng, bener-bener berhasil menyoret satu wish list nih. Tinggal Bromo dan Lombok (ya siapa tahu bisa dicoret juga tahun ini) šŸ˜€

    Makasih sudah ngajakin ke sini ya Isnaaaaa *cowel*

  8. Rifqy Faiza Rahman berkata:

    Sudah membaca tulisan Om Yayan dan sekarang tulisan ini. Sebenarnya terkesima dengan kompleksnya yang luas, dan bentuk candinya yang unik, beda dari kebanyakan. Cuma memang selalu ada saja ya yang bikin kurang nyaman di setiap tempat purbakala hehe.

    1. Avant Garde berkata:

      ya mas… apalagi masyarakat disini masih perlu dilatih bagaimana menghadapi wisatawan šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s