ToBa Dreams : Tertawa dan Menangis ala Batak

Alih-alih hanyut dalam euforia Avengers, saya mencoba menonton film lokal saja, ToBa Dreams. Ada sedikit keraguan melongok nama sutradara dan rumah produksi film ini. Namun, kemantapan timbul tatkala melihat nama aktor-aktornya, serta Viky Sianipar sebagai penata musik -yang juga pernah menelurkan proyek lagu-lagu Batak bertajuk ToBa Dreams-. Film ini diangkat dari novel berjudul sama, mengambil lokasi di Balige, sebuah kota kecil penuh impresi mendalam di tepi Danau Toba yang saya kunjungi beberapa tahun lalu. Tulisan tentang Balige pernah saya tulis disini.

Di luar ekspektasi saya, ToBa Dreams benar-benar tahu bagaimana membuat penonton  untuk tertawa, menangis, dan menyanyi bersama. Sekilas mirip film India dimana semua lagu yang dinyanyikan diberi teks terjemahan. Film dengan latar budaya dan roh Toba ini menghadirkan banyak kritik dan persoalan hidup yang dekat dengan keseharian. Awalnya saya merasa ada banyak pesan yang terasa sesak di kepala, tetapi kemudian memang itulah petuah-petuah kehidupan. Seperti melihat bagaimana seorang ayah memberikan nasihat kehidupan untuk anaknya. Adegan-adegan kocak timbul silih berganti dengan air mata. Acungan jempol untuk kolaborasi aktor, sutradara dan pemandangan indah Danau Toba. Impresi luar biasaToBa Dreams rasanya tak kunjung hilang hingga saya melangkahkan kaki keluar dari gedung bioskop. Kalau ada yang menawari saya untuk menonton lagi tentu saya tidak akan menolak. 😀 

Konflik langsung disulut sejak awal film ketika Sersan Tebe (Mathias Muchus) pensiun dari dinas ketentaraan di Jakarta dan memutuskan pulang kampung ke Toba dengan membawa seluruh anak dan istrinya (Tri Yudiman). Dari ketiga anaknya Ronggur (Vino G. Bastian), Semurung (Haykal Kamil) dan Taruli (Vinnesa  Inez), hanya Ronggur yang terang-terangan menolak keinginan bapaknya yang otoriter. Meski, mau tak mau dia tetap ikut pulang ke Toba.

Di kampung, Ronggur sekeluarga tinggal di rumah ompung boru / nenek (Jajang C. Noer) dan berteman akhrab dengan Togar (Boris Bokir). Hati Ronggur sebenarnya telah terpaut pada Andini (Marsha Timothy), gadis Jawa muslim dari kalangan berada. Perseteruan demi perseteruan antara Ronggur dengan ayahnya membuat Ronggur kabur ke Jakarta demi melanjutkan kisah cintanya pada Andini.

Untuk menyambung hidup, Ronggur menumpang di rumah kawannya (Ramon Y. Tungka) dan bekerja sebagai sopir taksi. Suatu ketika, tak sengaja Ronggur membawa kelompok pengedar narkotika dalam taksinya. Hingga akhirnya dia terjerumus sebagai anggota pengedar narkotika. Setelah menjelma menjadi manusia bergelimang harta, sekaligus bergelimang dosa, untuk sementara Ronggur ‘keluar’ dari dunia yang memberikannya harta.


Ronggur dan komplotan narkotika

Dengan membohongi orang tua Andini, Ronggur berhasil menikahi Andini di gereja sesuai keyakinan Ronggur. Mereka dikaruniai seorang putera yang lucu (Fadhel Reyhan). Cerita tak putus disini, karena konflik ayah-anak Sersan Tebe dan Ronggur justru makin memanas karena Sersan Tebe tidak percaya dengan sumber kekayaan anaknya, sementara Ronggur sendiri dipanggil kembali demi sebuah misi di komplotannya, atau anak dan istrinya akan dilenyapkan. Tenang saja, biar kalian penasaran, saya tidak akan membuka spoiler lebih banyak lagi. Jujur saja, ending film ini sangat tidak terduga. Silakan tonton di bioskop ya, sebelum turun layar 🙂


pernikahan Ronggur dan Andini

Terimakasih ToBa Dreams. Alunan lagu-lagu Batak dan gambar-gambar indah di seputar Danau Toba membawa saya kembali ke Balige beberapa tahun yang lalu. Saya pikir inilah film terbaik tahun ini, tak rugi saya merogoh rupiah agak banyak untuk menonton film ini di hari Minggu. Meski saya pikir ‘agak banyak’ pesan moral yang ditampilkan : ironi budaya dan kebiasaan masyarakat Batak, isu lingkungan di Danau Toba, pendidikan, hubungan ayah dan anak serta penyalahgunaan narkotika. Tak heran, durasi membengkak hingga dua setengah jam.

Dari segi akting tak ada yang buruk. Vino G. Bastian sepertinya sudah ‘hafal’ bagaimana caranya memainkan karakter urakan dan pemberontak. Peran gadis Jawa yang kalem cocok sekali dibawakan Marsha Timothy, yang dipasangkan bersama suaminya di kehidupan nyata di film ini. Sersan Tebe, seorang ayah otoriter, namun rapuh dan tak mau memeluk anaknya dibawakan dengan pas oleh Mathias Muchus.  Tak bisa dilupakan aksi ompung boru dan Togar yang piawai mengocok perut hingga pertengahan film. Namun, akting pendeta oleh Haykal Kamil menurut saya masih kurang, terutama dialek Bataknya.

Bagus bukan berarti sempurna. Placement product dan yayasan Soposurung yang tampil di banyak scene cukup membuat saya mafhum bahwa Benni, sutradara agaknya didikte dengan kuat oleh TB Silalahi, sang penulis novel.Plot yang terlalu banyak dengan cast yang banyak pula membuat beberapa cerita tidak fokus.

Quote : seorang ayah yang baik bukanlah yang berhasil memenangkan pertempuran, tetapi yang berhasil menjaga keutuhan keluarganya.

Tips menonton ToBa Dreams : ajaklah teman untuk tertawa bersama dan siapkan sekotak tisu.

Iklan

4 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s