Cancel Bikin Sebel

cancel_flight.600x600Ilustrasi minjam dari sini. 

Guh, wis tekan ngendi?” tanya ibu mertua lewat telpon sambil kemrungsung.
Lagi jupuk mobil neng nggone mbak ***, mbak!” jawab om saya sambil menyebut nama saudara yang lain. 

Bukan cuma saya dan istri yang senewen campur gemes, kali ini ibu mertua saya ikut gregetan. Penyebabnya tak lain karena sudah jam 10 dan om (adik ibu mertua) tak kunjung datang menjemput kami ke bandara. Sementara jadwal take off saya jam 13 dari Semarang ke Jakarta, lalu transit menuju Jambi. Saya dan istri berencana untuk pulang ke Bangko, setelah sebelumnya mengambil cuti selama seminggu dan ijin sehari di Ambarawa. Di dalam hati, saya masih berandai-andai jika sebelumnya ibu mertua mau naik bus umum saja dari Ambarawa ke Semarang yang cuma sejam itu. Tapi biarlah, kali ini saya tidak sampai hati menolak ibu mertua yang menyuruh saya memakai mobil adiknya.

Jam 11 mobil om datang. Rupanya dia harus mengambil mobil dulu ke rumah saudara yang lain. Tidak berlama-lama, kami langsung tancap gas. Untuk mempersingkat waktu, kami ke Semarang lewat tol Bawen. Pemandangan perbukitan dan pegunungan di sepanjang tol Bawen-Semarang tak mampu mengusir rasa cemas saya. Jelas saja, saya takut tiket terusan sisingaan air Semarang-Jakarta-Jambi saya hangus.

Waktu di mobil saya iseng membuka email. Astaga, rupanya penerbangan saya dari Jakarta ke Jambi yang awalnya jam 16 dicancel dan diganti jam 19.25. Efek dominonya, saya akan sampai Jambi sekitar jam 20.25 dimana travel terakhir dari Jambi ke Bangko berangkat jam 20.00. Saya coba telpon travel lain yang berangkat ke Muara Bungo (kota terdekat dengan Bangko) mobil yang berangkat jam 21.00 sudah full booked. Saya coba tanya travel ke Padang atau Pesisir malah berangkatnya lebih sore -_-

Plan A : Semarang-Jakarta 13.00-14.00 Jakarta-Jambi jam 16.00-17.00 Jambi-Bangko 20.00-01.00 dini hari
harus diubah menjadi
Semarang-Jakarta 13.00-14.00 Jakarta-Jambi jam 19.25-20.25 menginap dulu di semalam di Jambi, besoknya baru ke Bangko jam 8 (mobil paling pagi).

Konsekuensi lainnya :

  1. harus naik taksi dari bandara ke rumah teman saya di Jambi; sementara di Jambi orang biasa naik angkot dari dan ke bandara, sementara angkot terakhir sekitar jam 7 malam. Yang membuat saya parno dengan taksi di Jambi adalah mereka tidak mau pakai argo! Ah…coba saja pesawatnya tidak di-cancel -_- #lagi2 merutuk
  2. sudah potong gaji karena ijin sehari, tambah lagi potong gaji karena terlambat masuk kantor -_-

Jam 12 kurang kami tiba di Bandara Ahmad Yani. Setelah berpamitan saya putuskan untuk langsung check in dan pergi ke ruang tunggu. Istri menggendong Nia, sementara saya rempong membawa ransel dan printhilan lainnya seperti tas tangan dan oleh-oleh.

Jam 13 kami boarding. Penerbangan ke Jakarta alhamdulillah lancar. Sampai di Terminal 3 Jakarta sekitar jam 14. Artinya kami punya waktu 5 jam lebih di bandara -_-  

Habis makan di bakmi  GM, saya ajak Nia buat main di area bermain Terminal #. Duh, rame banget dengan turis-turis Malaysia yang membawa anaknya. Dan anak-anak itu lasak-lasak berlarian di area bermain 😮 Beberapa kali Nia hampir terjatuh karena bersenggolan dengan mereka. Saya sampai capek dan ngantuk berat sebelum akhirnya berpindah ke terminal 1B naik shuttle.

DSC07710
entah sudah berapa kali memotret tempat ini….

Singkat cerita, kami kena delay lagi. “Untung” hanya setengah jam. Jam 8 malam kami naik pesawat dan sampai Jambi jam 9. Di Jambi saya sudah ditunggui pak Faizal, sopir taksi langganan kak Ayu; teman di komunitas CS Jambi. Thanks God, di Jambi sudah ada taksi argo, namanya Cempaka Taksi. Dari bandara ke rumah om Gee di kawasan Transito saya merogoh kocek Rp 58.000,- Seharusnya kalau mau lebih cepat bisa minta sopir lewat Kotabaru. Namun, malam itu malah saya asyik ngobrol dengan pak Faizal yang kebetulan juga orang Palembang.

DSC07712
akhirnya menyentuh bumi Jambi

Malamnya, saya ajak istri makan nasi minyak, makanan khas Jambi berupa nasi kuning khas India yang biasa dimakan dengan kuah kambing :9. Om Gee nggak ikut karena sudah makan. Yaudin, saya pinjam motornya buat makan nasi minyak di kawasan Makalam. Saya pernah menulis review nasi minyak di sini. Kenyang makan nasi minyak, kami pulang ke rumah om Gee; seorang teman yang rumahnya biasa kami jadikan “tempat ngemper” jika ke Jambi hahaha.

DSC07714
nasi minyak

Pagi hari jam 8 kurang mobil travel menjemput. Singkat kata lagi  setelah enam jam perjalanan yang membosankan saya akhirnya tiba di Bangko. Saya minta diturunkan di kantor sementara istri dan Nia turun di rumah.

Kembali ke hutan, kembali bekerja dan kembali ke kenyataan… 

DSC07728
travel ala Sumatera

Iklan

14 comments

  1. Yah, sesingaan memang biasa banget seperti itu Mas, tapi kalau saya mungkin cuma bis pasrah soalnya kalau mau naik maskapai yang lain, mahal buanget :huhu.
    Mas, salam buat Ega Okli Mas :hihi, dia di KPP Bangko juga, sahabat karib saya pas masih kuliah dulu :hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s