Serabi Imut Ambarawa

Bicara tentang kuliner memang tiada habisnya. Kali ini saya mau cerita tentang oleh-oleh khas Ambarawa yaitu serabi. Di daerah lain kadang disebut serabi (Solo), surabi (Bandung) atau sarabi (Padang).

Di Ambarawa serabi biasa dijajakan di sepanjang jalan Mgr. Sugiyopranoto, tepatnya di daerah Ngampin. Lama-lama serabi Ambarawa lebih populer dengan sebutan serabi Ngampin. Di sepanjang jalan protokol yang menghubungkan kota Semarang dan Yogyakarta inilah berderet ibu-ibu (atau mbak-mbak) yang menjajakan diri serabi dalam warung-warung kecil yang berfungsi sebagai workshop, showroom dan tempat makan sekaligus. Meski ada puluhan warung, menu yang dijual sama yaitu serabi dan samiyer atau lempeng (kerupuk dari ubi).

Cuaca agak mendung saat saya masuk ke sebuah warung serabi di dekat GKJ Ngampin. Saya memesan empat porsi serabi untuk dibawa pulang. Serabi disini dibuat hanya ketika pengunjung datang jadi masih hangat. Cocok untuk suasana hati yang mendung Ambarawa yang cenderung dingin.

Proses memasak serabi masih menggunakan tungku dari tanah liat dan kayu bakar. Ada tiga buah tungku yang dipakai. Kurang dari tiga menit proses memasak, serabi hangat sudah bisa dinikmati. Ada tiga varian rasa serabi Ngampin : original / putih,Β serabi cokelat / gula aren dan serabi hijau / daun pandan. Ukurannya memang lebih imut daripada serabi daerah lain. Namun, guyuran kuah santan dan gula arennya menjadikan serabi Ngampin beda dari serabi daerah lain. Seporsi serabi berisi lima buah serabi dan sebungkus kuah santan dihargai Rp 4.000,- saja. Tidak heran setiap pelancong dari arah Semarang yang pergi menuju Jogja memilih untuk singgah di Ambarawa demi mencari kehangatan dari seporsi serabi Ngampin. Yuk, kalau singgah di Ambarawa jangan lupa mencoba serabi Ngampin. πŸ˜‰

DSC07693
di antara serabi dan samiyer

DSC07695
memasak serabi

DSC07688
serabi bertutup plastik

Iklan

18 comments

  1. Kerupuk itu namanya samiyer ya? Duuhh itu favorit aku waktu keciiil. Suka bgt sama makanan tradisional kayak gini, susah cari di Jakarta 😦

  2. Dari segi bentuknya, agak beda dengan serabi di Solo ya. Nama boleh sama, tapi ciri khas tetap membeda. Tuh kan saya jadi penasaran kepingin coba. Kalau sarabi khas Padang seperti apa ya bedanya? (Saya bingung sendiri :haha).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s