Bangko dan Birun

 


tikungan tajam 😀

[LATEPOST] Suatu ketika saya mempunyai ide motoran dari Bangko menuju Birun sendirian. Birun adalah desa terakhir di kabupaten Merangin di sepanjang jalan Bangko-Kerinci sebelum masuk desa Muara Hemat (sering disebut Muaro Imat) yang masuk wilayah kabupaten Kerinci. Antara desa Birun (Merangin) dan Muaro Imat (Kerinci) dipisahkan oleh batas alam yaitu sungai Batang Merangin. Jarak dari Bangko ke Birun 76 km menurut patok petunjuk jarak. Medan ke Birun terkenal menanjak dan penuh liku-liku seperti hidupku. Inilah yang saya temui sepanjang 76 km tersebut :-).

Dari Bangko, jalan menuju Birun terletak di simpang depan BNI di jalan lintas Sumatera. Sering disebut sebagai simpang Kerinci. Melewati sungai Batang Mesumai, Pasar Bawah (kelurahan Pasar Bangko) lalu Pasar Atas. Jalan cenderung menanjak dengan banyak tikungan.

Masuk kecamatan Bangko Barat pemukiman mulai jarang ditemui, digantikan dengan lahan dan semak. Daerah selanjutnya yakni kecamatan Renah Pembarap. Di daerah ini ada hutan adat Guguk yang memperoleh penghargaan Kalpataru tahun lalu dari presiden. Di desa Markeh, saya ambil jalan ke kiri ke desa Air Batu. Di desa ini di sepanjang sungai Batang Merangin banyak ditemukan aneka fosil flora dan fauna berumur jutaan tahun lalu. Saat ini tempat ini sudah didaftarkan menjadi Geopark Merangin ke UNESCO. 


lihat fosilnya, jangan calegnya -_-

Saat ini sejumlah warga desa Air Batu bersedia menjadi pemandu wisata bagi pengunjung yang berminat melihat fosil-fosil itu. Maklum saja, untuk melihat fosil itu dibutuhkan nyali dan kantong. Satu-satunya cara untuk melihat fosil secara menyeluruh adalah dengan berarung jeram di sepanjang sungai Batang Merangin yang berarus deras. Start biasanya dimulai dari desa Air Batu dan berakhir di dusun Teluk Wang desa Biuku Tanjung.


jembatan gantung desa Air Batu

 
sungai Batang Merangin

 
menaruh cucian di atas display -_-

Tiba di Sungai Manau, kecamatan selanjutnya, saya melihat aktivitas penambangan emas liar yang -suda rahasia umum- dilindungi oleh oknum tertentu. Tak hanya merusak lingkungan, aktivitas ini merubah pola sosial masyarakat Sungai Manau dari petani menjadi petambang ilegal.

 

Pangkalan Jambu merupakan kecamatan terakhir di Merangin dimana desa Birun masuk ke dalamnya. Sebagian besar wajah desa di tepi jalan ke arah Kerinci telah berubah menjadi desa tambang emas ilegal, sama seperti di Sungai Manau. Hampir tidak ada lahan yang tersisa kecuali ditambang.


lumbung padi berumur puluhan tahun

Setelah melewati desa Perentak, pemukiman sudah mulai menghilang dari pandangan. Digantikan dengan hutan tropis. Sebagian besar wilayah kecamatan Pangkalan Jambu berupa hutan lindung yang masuk ke dalam Taman Nasional Kerinci Seblat.

 

Jalan yang berliku, jurang dan sungai Batang Merangin di sebelah kiri dan tebing yang ditumbuhi semak lebat di sebelah kanan. Seruas jalan yang hanya cukup dilewati dua mobil. Kadang sebuah mobil harus mengalah jika melewati bagian jalan yang rusak. Beberapa bagian tebing rawan longsor. Dari sini sampai Muaro Imat tidak ada bengkel atau penjual minyak bensin. Pastikan kendaraan dalam keadaan laik jalan dan BBM cukup.

 

Ada dua air terjun mini yang terlihat sebelum Muaro Imat yaitu air terjun Sungai Celau dan air terjun Penetai. Lokasinya tepat di tepi jalan.

 

Akhirnya happy ending nih sampailah saya di jembatan Penetai. Pemisah desa Birun di Merangin dengan desa Muaro Imat di Kerinci. Dibawah jembatan mengalir sungai Penetai yang merupakan anak sungai Batang Merangin.

 

Lihat Juga :

1. Catatan perjalanan menuju batas Merangin/Bungo
2. Catatan perjalanan menuju batas Merangin/Sarolangun
3. Catatan perjalanan menuju batas Merangin/Kerinci

Iklan

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s