Pulang (3)

lika liku banyu Batanghari Sembilan
mengalir bemuaro ke sungi Musi jugo
eloklah ku ngaes si rupo cindo menawan
muat kakak siang tekenang malam tejago

Lirik lagu Ya Saman saya putar beberapa kali di ponsel. Lagu yang dibawakan Armada di penutupan SEA Games di Palembang ini tiba-tiba menjadi pengingat rindu kepada kota Palembang. Dan akhirnya saya diberi kesempatan kembali lagi mengunjungi Palembang.

Pesawat saya bersiap untuk mendarat. Dari atas nampak sungai Musi, pulau Kemaro dan gagahnya jembatan Ampera di atas sungai Musi. Sepuluh menit di udara, ban pesawat berlambang harimau mendarat mulus di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Turun dari pesawat saya menunggu di terminal keberangkatan. Beberapa saat menunggu Yayan kawan saya datang naik motor. Segera saya naik. Saya ingin singgah sebentar di kampus saya di Palembang dulu. Sekaligus ngobrol dengan ibu kos jaman kuliah dulu. Ibu kos saya masih seperti yang dulu. Seperti ibu sendiri, ramah dan penyayang kepada anak-anaknya. Beberapa cerita masa lalu terputar lewat obrolan siang itu. Kami bahkan sempat makan siang di rumah ibu.

Agak sore kami baru pulang ke rumah Yayan di Plaju. Rumah Yayan sudah dipasang tenda. Bukan Yayan yang akan menikah, melainkan tetangganya 😀 Malamnya saya diajak Yayan keliling Palembang. Tujuan pertama yaitu tepian sungai Musi. Suasana lain saya nikmati dari daerah Ulu saat menikmati pemandangan jembatan Ampera.

Selanjutnya kami ke BKB, bukan untuk melihat Ampera, tetapi untuk ngobrol di warung terapung. Berupa sebuah perahu tambang yang disulap menjadi tempat nongkrong. Menu yang dijual cukup sederhana, pempek, gorengan dan minuman. Seharusnya makan di warung terapung bisa menghadirkan suasana romantis, sayang yang ada yaitu dramatis. Goncangan dari riak sungai cukup membuat pusing kepala. Oya, rupanya restoran terapung Warung Legenda sudah gulung tikar. Kabarnya salah manajemen.

Dari warung apung kami menuju martabak HAR yang tersohor itu. Saya dulu sempat salah sangka bahwa Yayan adalah keturunan pak HAR yang punya usaha martabak hehe. Konon mantan wakil presiden pernah makan martabak disini. Rasa martabaknya menurut saya standar kalau tidak mau dikatakan agak hambar.

Dari martabak perut saya masih minta diisi hehe. Kembali saya jalan ke daerah 7 Ulu. Sayangnya warung pempek langganan Yayan tutup, segera kami beranjak ke 16 Ulu. Namanua pempek Flamboyan. Hm…rasanya tidak kalah dengan pempek Candy. Harganyapun lebih ramah di kantong. Di tempat ini kami ‘buka-bukaan’. Kami ngobrol lamaa. Ah…rasanya seperti memecahkan gunungan es yang sudah lama mengendap di kepala masing-masing.

3
foto oleh Yayan

Paginya hujan mengguyur Palembang sejak subuh. Di rumah Yayan sedang ada hajatan. Saya sempat melihat dari dalam rumah prosesi pernikahan adat Palembang. Pengantinnya memakai baju aesan gede, pakaian yang mirip dengan kemben di Jawa. Tentu saja kami makan spesial hari itu, nasi minyak. 😀 Agak siang datang Rio, kawan CS Palembang yang dulu pernah ketemu di Jambi. Sudah lama saya tidak bertemu Rio. Rupanya Rio sedang merencanakan trip ke Pakistan. Wow.

Tak terasa hari sudah sore. Esok pagi saya harus kembali beraktivitas di kantor. Yayan dan Rio mengantar saya menuju loket travel. Sampai jumpa lagi kawan. Kan kuingat selalu kenangan manis beberapa hari di Palembang. Terimakasih Yayan.  

Kenang-kenangan dari om Yayan…

 

Iklan

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s