Pulang (1)

Saya bangun dari tidur. Sudah masuk kota Palembang. Jam setengah tiga pagi. Tidur di mobil dengan posisi di pojok belakang sungguh tak nyaman. Teman sebaris saya, seorang atlet bola yang naik dari Sarolangun telah turun di Sembawa, kota kecil di tepi jalan lintas Sumatera sebelum Palembang. Dari Sembawa ke Palembang saya bisa meluruskan punggung.

Satu per satu penumpang travel diantar ke alamat masing-masing. Penumpang pertama di Talang Kelapo di dekat Bandara. Lalu dekat pasar Cinde dan pasar 16. Penumpang di samping sopir hendak turun di Kertapati. Saya akan turun di Plaju sehingga saya diantar terlebih dahulu. Mobil membelah sungai Musi lewat jembatan Ampera. Jembatan yang dulu berwarna merah sekarang berwarna magenta ditimpa lampu malam. Indah sekali. Pikiran terbang saat masa-masa menghabiskan kuliah di Palembang.

“Plaju dimano, Bang?” teriak sopir dari kabin depan.
“Silaberanti, Bang. Samping kampus Muhammadiyah.” jawab saya.
Mobil belok kiri melewati bundaran Jakabaring ke arah Plaju. Tak lama, kami sampai di Universitas Muhammadiyah Palembang. Sopir sebenarnya tidak tahu pasti alamat dimana saya turun. Beruntung penumpang terakhir di samping sopir mengenali alamat saya. Mobil memutar lalu masuk jalan Silaberanti. Jalannya rusak. Saya sadari ketika mobil berjalan pelan dan banyak goncangan. Setahu saya, saya harus turun habis SMP 35 dan kantor lurah. Belum sampai kantor lurah, sopir merepet. Tak mau mengantar. Meski hati mendongkol, saya tetap mengucapkan terima kasih sudah diantar sampai Palembang.

Segera saya telpon Yayan, minta dijemput. Untunglah dia sudah bangun. Atau mungkin belum tidur? Pikiran melayang saat beberapa minggu yang lalu saat saya memutuskan untuk pulang kampung. Saya terakhir pulang kampung ke Jawa saat Lebaran yang lalu. Syukurlah maskapai ‘Harimau’ sedang mengadakan promo tiket pesawat dari Palembang ke Jogja. Cukup membayar seharga lima ratus ribu, saya sudah mengantongi tiket pesawat Palembang-Jogja pulang-pergi. Biasanya dengan uang segitu saya hanya bisa memperoleh tiket Jambi-Jakarta.

Tiket pesawat sudah di genggaman. Saatnya mencari tiket ke Palembang. Satu-satunya travel yang melayani jurusan Bangko-Palembang langsung hanyalah Family Raya. Monopoli sekali, tiketnya dua ratus dua puluh lima rupiah dengan waktu perjalanan dari Bangko ke Palembang selama sepuluh jam. Dua jam lebih cepat jika saya pergi ke Palembang lewat Jambi atau Lubuk Linggau. Namun, kenyataannya travel lewat Jambi atau Lubuk Linggau lebih merepotkan. Jika lewat Jambi, saya harus transit semalam di Jambi. Kalau lewat Lubuk Linggau saya harus turun di Lubuk Linggau lalu ganti travel lain ke Palembang. Sama-sama merepotkan. Saya tak punya pilihan lain.

Jumat sore saya dijemput travel di kantor. Saya duduk di kursi belakang. Kiamat. Posisi di belakang tak enak. Kursinya pendek. Susah untuk senderan pula. Bayangan tidak bisa tidur menghantui.

Sampai Sarolangun, kursi kosong di samping saya ditempati orang. Seorang pemuda berbadan kekar. Rupanya dia seorang atlet dayung profesional. PON tahun lalu dia berhasil memperoleh emas kategori dayung untuk provinsi Jambi.

Deru motor Yayan memecah kesunyian malam. Saya segera naik ke jok motor. Rupanya rumahnya sangat dekat dengan tempat saya menunggu. Tidak sampai lima menit. Rumahnya dari luar sangat besar. Bertingkat dan halamannya sangat luas untuk ukuran perkotaan.

Saya disambut Yayan dengan hangat. Rasanya seperti sambutan seorang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Kami ngobrol di ruang keluarga. Ini kali pertama kami kopdar atau bertemu muka setelah sekian lama berteman di dunia maya.

Saya kenal Yayan di blog. Awalnya kenal dia di blog. Dia kawannya Ari. Kebetulan Yayan punya hobi yang sama yaitu jalan-jalan dan mengoleksi kartu pos. Yayan tinggal dengan ayah, ibu, wak (nenek) dan kedua adik laki-lakinya. Ayuk (kakak)nya sudah menikah dan tinggal terpisah. Ayahnya seorang pengusaha kayu dan ibunya punya bisnis kuliner. Yayan sendiri alumnus komputer. Pernah bekerja di bank CIMB dan Mandiri. Namun, kini sudah fokus berwirausaha. Salut. 😀

Tidak terasa lebih dari satu jam kami berbincang. Kami tunggu hingga Subuh. lepas sholat saya pamit tidur. Saya tidur di kamar yang dulu dipakai ayuknya. Sebuah ranjang berukir dan berprado emas khas Palembang. Kamarnya dilengkap dengan cermin dan lemari yang juga berukir dan berprado. Ah..rasanya seperti tidur di dalam istana raja Sriwijaya…

Cahaya matahari merambat masuk lewat sela-sela jendela. Saya bangun siang, jam delapan. Sarapan sudah terhidang di meja. Aaah..pempek. Makan pempek di tempat aslinya membuat saya terharu. 🙂

Saya tidak ada acara kemana-mana hari itu. Siang pesawat saya akan terbang. Saya menghabiskan waktu dengan ngobrol dan menonton tv. Saya juga sempat melihat-lihat koleksi buku dan kartu pos Yayan. Wah..rupanya selain blogger, Yayan juga calon penulis handal. Karya esainya pernah dimuat dalam sebuah buku antologi essai. Selain itu, satu lagi bukunya sudah dimasukkan ke penerbit!

Iklan

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s