Sokola Rimba (Film)

Pasangan produser – sutradara Mira Lesmana – Riri Riza hadir dengan film terbaru mereka, Sokola Rimba. Film bertema pendidikan alternatif yang diangkat dari buku karya Butet Manurung ketika mengajar suku Anak Dalam / Orang Rimba di pedalaman Jambi


 Sokola Rimba

Bus yang saya tumpangi dari Ambarawa berhenti di bundaran Tugu Muda, Semarang. Saya bergegas turun diikuti adik-adik saya. Dua adik dan seorang adik ipar. Film Sokola Rimba tiga puluh menit lagi akan tayang. Kami bergegas menyeberang dan naik angkot jurusan Simpang Lima. Kami turun di depan mall Ciputra dan bergegas masuk. Rencana ipar saya Inug juga akan ikut bergabung. Dia baru saja menyelesaikan kerjaannya di hotel Ciputra. Inug baru datang ketika pintu bioskop sudah dibuka.

Film dibuka dengan Butet (Prisia Nasution) yang mengendarai motor trail membelah jalan di perkebunan. Ditinggalkannya motor di tepi hutan, ditutupi dengan cabang-cabang pohon. Butet lalu berjalan kaki masuk ke dalam hutan sambil menggendong ransel dan sebuah papan tulis kecil. Mungkin karena kecapekan, Butet pingsan. Begitu siuman dia sudah ada dalam lingkungan Orang Rimba / Suku Anak Dalam. 

Butet adalah seorang pengajar di sebuah LSM bernama Wanaraya. Wanaraya fokus terhadap pendidikan kepada Orang Rimba di pedalaman Taman Nasional Bukit Duabelas. Ketika sedang asyik mengajar di Makekal Hilir, Bungo (Nyungsang Bungo) seorang anak Rimba dari Makekal Hulu diam-diam mengamati cara Butet mengajar. Bersama dengan dua orang muridnya yaitu Nengkabau dan Beindah, Butet akhirnya pergi ke Makekal Hulu. Perjuangan mereka tidak mudah. Butet bahkan nyaris ditembak oleh para pembalak liar karena mengira Butet memata-matai mereka. Perlu waktu beberapa hari menuju kesana. Butet sempat ditentang masuk ke komunitas Rimba disana sebelum akhirnya diterima oleh Temenggung (kepala suku). Bungo sangat antusias belajar bersama Butet. Dia sempat mengajar beberapa hari. Karena Orang Rimba Makekal Hulu takut kualat, Butet akhirnya harus menerima kenyataan tidak bisa berlama-lama mengajar di tempat itu. Dia tidak sempat berpamitan kepada Bungo.

 
Bungo, diperankan oleh Orang Rimba asli

Tidak patah arang, Butet mengajar Orang Rimba di tepi hutan. Dia menumpang pada bu Pariyan, seorang warga transmigran. Disitulah Butet kembali bertemu dengan Bungo. Konflik juga terjadi antara Butet dengan pimpinan Wanaraya (Rukman Rosadi). Butet dihadapkan antara idealisme untuk memajukan Orang Rimba dengan keinginan Wanaraya yang mengganggap Orang Rimba sebagai mesin atm yang mampu menarik pundi-pundi dari para donatur. Disini tekad Butet diuji.

Sebuah tragedi akhirnya memaksa Bungo kembali ke hutan. Perpisahan dengan Bungo menorehkan duka di hati Butet. Dia memutuskan kembali ke Jakarta. Sebagai sebuah film untuk segala lapisan usia, film ini memberikan ending yang dimaui semua orang , happy ending.

Tak banyak film Indonesia yang mengangkat tema pendidikan. Mau tak mau saya seperti harus membandingkan Sokola Rimba dengan Denias karya Ari Sihasale atau Laskar Pelangi. Sedikit banyak Bungo seperti Lintang dalam Laskar Pelangi. Meski berbeda latar, spirit yang dibawa tetap sama. Spirit untuk mendidik orang lain dan bangun dari ketertinggalan. Spirit yang sama ketika saya membaca bukunya. Meski tidak bisa dibohongi bahwa film ini hanya mengangkat sebagian cerita dari berbagai fragmen pengalaman Butet Manurung selama mengajar yang terserak dari cerita aslinya di buku.

Latar belakang Butet sebagai alumnus antropologi turut memberikan penonton sedikit gambaran tentang budaya Orang Rimba. Seperti penghormatan Orang Rimba terhadap pohon madu (dijelaskan dengan animasi yang sangat menarik), kebiasaan berpindah jika ada sanak keluarga yang meninggal serta berbagai kebijakan untuk menghormati alam. Diketahui bahwa Butet setia mendampingi Riri dan Mira selama pembuatan film ini.

Akting Prisia Nasution sebagai Butet Manurung patut diacungi jempol. Tampak sekali dia sangat mahir berbahasa Rimba. Meski kadang logat bicaranya cenderung lemah lembut tidak seperti orang Batak kebanyakan. Sebagian besar dialog dalam film ini menggunakan bahasa Rimba. Anak-anak Rimba juga tampil cukup natural. Kepolosan mereka, keceriaan mereka dan warna kulit mereka diekspose dengan baik oleh Riri. Tawa canda Beindah dan Nengkabau seperti potret anak-anak kebanyakan, suka bermain dan tertawa. Keindahan rimba juga ditampilkan secara maksimal. Meski kerusakan hutan juga tidak ditutup-tutupi. Satu-satunya kekurangan dalam film ini mungkin adalah pengambilan gambar di dalam ruangan menggunakan single camera sehingga agak capek di mata.

Tak hanya keindahan rimba. Film ini cukup menyorot pembalakan hutan dan perampasan hak-hak orang Rimba dari tanah mereka sendiri. Dalam salah satu adegan, diperlihatkan bagaimana rombongan Orang Rimba harus berpindah-pindah karena terdesak. Hutan tempat mereka tinggal dirampas oleh perusahaan sawit. Selain itu film ini seperti menampar pemerintah yang kurang memperhatikan masyarakat adat seperti Orang Rimba. 

Iklan

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s