Sungai Seling dan Dam Semayo

Hari Sabtu kemarin saya ke Pamenang. Hari Minggu ini saya kembali menggeber si Hitam. Tujuan kali ini adalah ke perbatasan kabupaten Merangin dan Bungo di desa Koto Rayo, kecamatan Tabir yang berbatasan dengan kecamatan Pelepat kabupaten Bungo. Tidak ada yang terlalu diharapkan hari ini. Kecuali mengusir penat, melihat suasana perkebunan sawit, ladang dan perkampungan penduduk di kiri kanan jalan lintas tengah Sumatera. Tidak banyak yang bisa dibanggakan di Merangin. Potensi wisata di kabupaten ini masih lelap dalam tidur panjangnya. Di Jambi, orang lebih kenal Kerinci dengan gunung tertinggi di Sumatera, atau ke candi Muaro Jambi.

Jalan dari Bangko ke arah Bungo mulus dan relatif lurus meski hanya cukup untuk dilewati dua buah bus secara berlawanan. Keluar dari kota Bangko, saya melewati rumah Thomas kawan saya yang sudah pulang kampung ke Jawa. Selanjutnya saya melewati dam Betuk, dam yang katanya paling indah di Merangin.

Empat puluh menit perjalanan, saya sampai di tapal batas kedua kabupaten. Nama yang terpampang di gapura kabupaten Bungo masih menggunakan kata Bute/Bungo-Tebo, daerah induk kabupaten Bungo sebelum dimekarkan. Rupa gapura ini tak terlalu istimewa dan telah dilupakan zaman.

 
tertutup ilalang
 
terbengkalai 

Saya putar haluan dan kembali ke arah Bangko. Ada tiga tempat yang ingin saya singgahi sebelum sampai Bangko. Dam Sembilang Seling, dam Semayo dan perkampungan kuno Rantau Panjang

 

Dari arah Bungo, dam Sembilang Seling terletak di kanan jalan lintas Sumatera. Setelah pasar Rantau Panjang dan sebelum simpang dam Semayo. Dari tepi jalan, papan penunjuk ke arah dam Sembilang dan desa Seling bisa terbaca dengan jelas. Jarak masuknya delapan kilometer ke dalam. Lumayan jauh. Bensin si Hitam tinggal sedikit. Saya mantapkan hati demi mengobati rasa penasaran.

Jalan masuk cukup baik, meski ada rusak di beberapa ruas. Di kiri dan kanan jalan membentang kebun karet yang lebat. Tidak ada tanda-tanda perkampungan. Beberapa saat kemudian baru nampak rumah-rumah, meski tidak rapat. Masuk kilometer lima nampak sebuah sungai yang saya yakini bernama sungai Seling, asal kata desa Seling.

sungai Seling 

Sama seperti sungai-sungai umumnya di Merangin, warnanya coklat susu, keruh. Penambangan emas liar telah mengubah cara hidup masyarakat dari petani menjadi penambang. Saya duduk di tepian sungai, lalu beranjak menikmati panorama sawah hijau. Sungguh, masih indah sawah-sawah di Kerinci atau Sungai Penuh. Bahkan saya pernah menemukan sawah yang mirip sawah di Ubud di Sungai Penuh. 

 

Saya lanjutkan perjalanan. Dari penuturan seorang ibu yang saya temui, dam Sembilang masih cukup jauh. Saya susuri jalan setapak dari semen di tepian sungai. Ada seruas jalan yang putus dihantam longsor. Saya belokkan motor melintasi jalan berlumpur.
 

Hambatan belum selesai. Ada dua buah jembatan gantung tanpa pengaman yang memadai harus saya lewati. Jika kurang hati-hati saya bisa tercebur ke dalam sungai yang saya pikir relatif dalam.
 

Lepas dari jembatan, ujian masih menanti. Di depan saya membentang jalan berlumpur tepat di tepi sungai. Saya lihat pengguna motor di depan saya cukup kesulitan mengendalikan motornya. Takut kenapa-kenapa saya balik badan. Dam Sembilang tidak kemana-mana. Jika ada kesempatan nanti saya akan mencoba lagi.

Saya tak kecewa karena saya tak mengharap apa-apa dari perjalanan ini. Saya bawa si Hitam keluar dari desa Seling kembali ke jalan raya. Saya belok kiri ke arah dam Semayo. Dari papan petunjuk di tepi jalan, jarak menuju ke dam sekitar 1 km. Bensin si Hitam hampir habis. Saya singgah ke warung bensin terdekat.

Dalam perjalanan menuju dam Semayo saya sempat melihat sebuah warung makan martabak India. Setelah bertanya kepada tiga orang berbeda rupanya dam Semayo telah terlewat. Dari jalan ke arah Pasar Rantau Panjang, dam ini terletak di kiri jalan sebelum mushola Nurul Yaqin kelurahan Pasar Rantau Panjang. Jalan masuknya sekitar dua ratus meter.

Dam Semayo tidak seindah dam Betuk. Permukaan dam sudah banyak ditumbuhi teratai, rumput liar dan banyak terdapat endapan yang membentuk delta. Airnya keruh berwarna kehijauan. Hanya sebentar saya disini lalu beranjak pergi.      

Perut saya keroncongan minta diisi. Saya telah melewatkan satu jam dari waktu biasanya saya makan siang. Saya lajukan si Hitam ke warung martabak yang saya lewati sebelum ke dam tadi. Saya pesan martabak dan jus ketimun. Kuah martabaknya maknyus. Jus ketimunnya rasa manisnya pas. Sayang wujud martabaknya agak aneh. Isinya bukan daun bawang tapi kentang rebus. Rasa yang agak kurang lazim tertutupi dengan ukurannya yang cukup besar. Untuk sepiring martabak dan jus ketimun saya merogoh kocek Rp 20.000,-

    

Hari masih siang. Matahari masih menyengat dengan garang. Saya simpan perkampungan Rantau Panjang untuk trip selanjutnya.

Iklan

9 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s