Menghalau Risau di Rasau

Sudah lama saya tidak ngetrip alias jalan-jalan menikmati akhir pekan. Selama ini saya hanya berteman dengan komputer dan internet saat hari Sabtu dan Minggu. Saya rindu blusukan ke kampung-kampung, lihat sawah, lihat batu-batu prasejarah seperti di Kerinci. Blog saya tercinta ini perlahan-lahan tumbuh jamur, bulukan dan akhirnya lumutan.

Coba kalau di kota Bangke Bangko ini kendaraan umumnya memadai, pasti tiap minggu saya bisa kabur kemana gitu. Gimana nggak keki kalau kemana-mana harus naik ojek. Capede -_- Travel atau bus antar kota sebagai kendaraan umum hanya melayani perjalanan jarak jauh. No angkot! Pengen gitu demo ke pemkab biar angkot diperbanyak. Kata Thomas kawan saya dulu di Bangko ada angkot. Namun, karena sepi dan warga lebih suka naik motor, angkot akhirnya menghilang dari jalanan.

Mulai minggu ini saya ‘punya’ motor. Nggak baru sih 😀 Tidak sabar rasanya jalan-jalan lagi, foto-foto, nulis di blog. Ah..sudah tidak sabar rasanya menunggu akhir pekan. Hari Sabtu ini saya pergi ke Pamenang. Ada apa saja disana. Ini laporan perjalanan saya 🙂

Saya bangun jam sembilan pagi *mode kebo : ON. Setelah bersiap-siap segala macam jam sepuluh saya berangkat. Oya, saya beri nama motor saya si Hitam. Pamenang merupakan nama kota kecamatan di kabupaten Merangin. Letaknya di tepi jalan lintas tengah Sumatera. Dari Bangko sekitar satu jam perjalanan ke arah kota Jambi.


gapura berbentuk topi Aceh (kupiah meuketop)


masjid Sungai Misang yang belum selesai dibangun
direncanakan akan menjadi masjid terbesar di Merangin


gapura batas kota Bangko 

Jalan lintas tengah Sumatera relatif mulus. Di kiri dan kanan membentang lahan kosong atau rumah penduduk yang berdiri jarang-jarang. Sesekali terdapat perkebunan sawit yang sebagian besar dimiliki warga transmigran dari pulau Jawa. Sebelum sampai Pamenang terdapat situs Karang Berahi tempat ditemukannya prasasti peninggalan kerajaan Sriwajaya.

 

Sekitar satu jam saya sampai Pamenang. Saya berhenti di jembatan sungai Rasau sebelum pasar Pamenang. Sungai ini merupakan anak sungai Merangin. Jembatan ini merupakan jembatan buatan Belanda. Bentuknya unik berwujud seperti busur panah. Bukti kecintaan bangsa Belanda kepada nilai estestika suatu bangunan. Kondisi tiang penyangga badan jembatan sudah hampir rapuh. Di samping jembatan dibangun jembatan baru yang lebih lebar.

Jembatan Rasau lama



sungai Rasau


jembatan baru 

Jembatan Rasau lama ini masih dipakai oleh pengguna motor. Sedangkan mobil dan angkutan yang berbobot lebih berat lainnya harus lewat di jembatan baru. Nasib jembatan Rasau ini memang tidak seberuntung kakaknya jembatan Beatrix di Sarolangun. 

Tujuan saya selanjutnya adalah gapura batas kabupaten Merangin dan Sarolangun. Baru sebentar duduk di jok si Hitam, “panggilan alam” sudah menunggu. Tadi malam memang saya makan cabe -_- Dilema antara melanjutkan perjalanan atau balik ke pom bensin sebelum Pamenang. Saya putuskan untuk lanjut sambil mencari masjid terdekat.


bukan di Jawa, tapi di pemukiman warga Jawa 

Saya sempat singgah di mushola yang saya ingat di desa Rejosari. Namun, rupanya toiletnya dikunci dari luar. Sh*t! Saya lajukan si Hitam sampai memasuki kabupaten Sarolangun.

 
batas kabupaten Merangin-Sarolangun 


Di kanan jalan saya lihat sebuah masjid beratap limas. Syukurlah ada toiletnya dan ada airnya. Legaa… 😀 Terimakasih masjid Jami’atuttaqwa. Lokasi masjid ini di desa Bangun Jayo kecamatan Bathin VIII. Saatnya kembali ke Bangko 🙂


Kubang Ujo?

Iklan

6 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s