Antonio

Ja, Antonio is my grandfather. Catala is my fathers’s name and Rabasa is my mother. Antonio Catala Rabasa,” saya duduk sambil mendengarkan penjelasan Antonio, kawan baru saya.

Selasa,15 Oktober 2013

Masjid Al Azhar Gelar Shalat Idul Adha Hari Ini
ilustrasi Idul Adha

Lebaran bersahaja. Tidak ada sorak sorai saat penyembelihan hewan kurban. Tidak ada acara bakar-bakar sate atau makan rendang seperti ramai digaungkan para pemakai jejaring sosial. Jua tidak ada acara kumpul bersama keluarga tahun ini. Hening. Biasa saja.

Jam setengah tujuh saya terbangun. Langsung saya menuju kamar mandi dan selesai mandi beberapa menit kemudian. Saya bawa beberapa lembar koran dan sajadah. Dari rumah ke masjid berjarak sekitar tujuh menit. Beberapa warga menuju masjid naik motor. Sementara saya dan sebagian besar warga yang lain berjalan kaki.

Tidak ada tradisi sholat Idul Adha di lapangan terbuka di kota ini. Sholat Id dilakukan di masjid-masjid. Entah bagaimana suasana sholat Id jika lebaran. Kota ini nyaris sunyi ditinggal para penghuninya ke kampung halaman masing-masing. Saya termasuk kurang beruntung. Seandainya saya dapat tiket promo itu.. seandainya.. Saya hapus bayangan anak dan istri saya yang berlebaran di kampung halaman.

Sholat Id dimulai tepat jam setengah delapan. Dalam khotbahnya khatib mengingatkan pentingnya rasa ikhlas. Seperti ikhlasnya saya tahun ini tidak bisa berkumpul bersama keluarga di kampung.

Lepas sholat Id saya sarapan di rumah. Bikin indomie Mie Sedaap lalu tidur. Jam sebelas bangun lalu ke kantor. Saat melewati masjid tempat sholat Id tadi pagi, tampak warga beramai-ramai bergotong royong memotong hewan kurban.

Kantor lengang. Saya memecahkan rekor tidak kemana-mana! Libur panjang empat hari saya isi dengan online dan ngadem di kantor. Berbagai kota sempat masuk daftar rencana untuk menghabiskan masa liburan. Bandar Lampung, Muara Bungo, Jambi, dan Jangkat. Seperti antitesis, saya tidak jadi liburan ke luar kota. Pengeluaran di awal bulan ini sudah cukup banyak. Saya harus berhemat. Menunda perjalanan dan liburan di rumah saja adalah pilihan bijak, meski ‘menyakitkan’ 🙂

Tidak terasa empat hari hampir berlalu. Saya masih duduk di depan layar komputer sampai malam hari. Esok saya akan kembali beraktivitas seperti biasa : ngantor. Jelang pulang ke kosan, ponsel saya berbunyi. Ada sms dari Yeka, kawan saya dari komunitas traveling CouchSurfing di Kerinci.  

Assalamu’alaikum bang Isna, apa kabar? Abang tinggal di Bangko? Abang terima surfer nggak? Makasih Bang?

CouchSurfing (CS) adalah komunitas traveling online. Setiap anggota bisa menginap gratis di seluruh anggota CS yang tersebar di seluruh dunia. Surfer adalah sebutan untuk anggota CS yang menginap di rumah member yang lain. Sedangkan tuan rumah biasanya disebut host.

Segera saya balas sms Yeka. Saya sedang free sehingga siapapun bisa nebeng di rumah saya. Lantas Yeka menelepon saya. Calon surfer saya namanya Toni, seorang Spanyol yang sedang berkeliling Indonesia. Saya sempat bercakap sebentar dengan Toni. Nada suaranya terdengar agak slengean. Dialek bahasa Inggrisnya agak asing di telinga saya. 

Rabu, 16 Oktober 2013
Hari pertama masuk kerja setelah libur panjang empat hari. Jam empat sore Toni mengirim pesan singkat kalau dia sudah berangkat dari Kerinci naik travel. Asumsi saya dia akan sampai Bangko jam 8 atau 9 malam.

Pulang kantor saya pinjam kasur lipat punya kawan yang hobi naik gunung. Saya tidak punya kasur di rumah. Sehari-hari saya tidur beralas selimut tebal yang saya beli waktu di Sungai Penuh dan sebuah tikar lipat kenang-kenangan dari kawan kantor lama. Tidak mungkin Toni saya suruh tidur di lantai. Sedikit saya beres-beres rumah. Menyapu, merapikan barang-barang di rumah dan menyiapkan kamar untuk Toni. Ada dua kamar di rumah sewa saya yang sederhana. Satu kamar saya pakai untuk tidur dan sholat. Kamar yang lain cuma dipakai untuk menyimpan buku dan baju.

Bakda isya’ saya kembali ke kantor. Sebelumnya saya beli onde-onde untuk cemilan di kantor. Sengaja saya menunda makan malam sampai Toni datang. Dalam beberapa menit onde-onde satu kardus tinggal tersisa separuh. 

Sampai jam 9 Toni belum ada kabar. Saya sms tidak dibalas. Saya tanyakan kabar Toni kepada Yeka. Bosan internetan dan mulai ngantuk, saya tiduran di kantor. 

Jam 10 ada sms masuk dari Toni. Dia sedang berhenti makan di suatu tempat yang tidak diketahuinya. Sebelumnya mobil yang ditumpanginya juga berhenti untuk makan lebih dari satu jam. Saya pikir, mobil travel yang ditumpangi Toni berhenti di Sungai Penuh dan sekarang berhenti di Muaro Imat. Dua kota yang sering dijadikan tempat berhenti travel-travel dari Kerinci ke Bangko. Akhirnya Toni menanyakan bagaimana jika dia langsung ke kota Jambi tanpa singgah di Bangko. Dia takut ‘menjadi masalah’ (merepotkan) saya. Saya katakan padanya, saya sangat senang dia mau singgah di Bangko. Namun, keputusan saya serahkan padanya. Dia tidak membalas lagi.

Merasa Toni belum pasti singgah di Bangko, saya putuskan pulang ke rumah. Sebelumnya saya minta dia turun di jembatan penyeberangan dekat kantor saya. Jika nanti Toni jadi singgah ke Bangko, saya tinggal jemput dia di jembatan penyeberangan. Jam dua belas kurang saya terlelap.

Kamis, 17 Oktober 2013
Ponsel saya berbunyi nyaring. Sepertinya ada yang menelepon saya. Mata saya masih terasa berat. Nama Toni di layar ponsel saya. Saya terima panggilan di ponsel, “Hi Isna, I’ve just arrive to Jembatan Layang” suara yang saya kenali sebagai suara Toni.

Saya lirik jam di ponsel menunjukkan waktu 00.20. Belum ada satu jam saya tertidur. Saya segera bangun dan berjalan kaki menuju jembatan layang. Jaraknya sepuluh menit dari rumah.

Di seberang jalan dekat jembatan layang saya lihat seorang laki-laki berambut kriwil menyandang tas ransel besar. Dia melambai-lambaikan tangan. Itu mungkin Toni. Segera saya hampiri. Raut mukanya mengingatkan saya pada mantan legenda bola Argentina, Maradona :-D. 

Toni membawa ransel besar dan sebuah tas kecil. Saya bantu membawa tas kresek putih yang rupanya ransum untuk makan malam yang sengaja dimasak oleh nenek Yeka di Kerinci. Cara berjalan Toni agak pincang. Kakinya terkilir saat turun dari pendakian gunung Kerinci tempo hari.Sambil berjalan menyusuri jalan menuju kosan kami saling berbincang seperti kawan akhrab yang sudah lama tidak bersua. Udara malam Bangko yang dingin dan berangin terasa lebih hangat.

Sebelum memutuskan untuk keliling Asia, Toni adalah seorang peneliti di sebuah lembaga penelitian di Spanyol. Semacam LIPI jika di Indonesia. Fokus pekerjaannya adalah penelitian genetika manusia. Tidak heran karena pendidikannya adalah Doktor di bidang genetika. Kelesuan ekonomi di Spanyol -yang katanya lebih parah dari American shutdown- mendorong Toni untuk keluar dari negaranya dan melanglang buana.

Sampai rumah Toni tidak langsung istirahat. Disempatkannya untuk ngobrol dengan saya. Saya sebenarnya sudah mengantuk. Namun, tak enak menolak obrolan teman saya ini. Sekotak onde-onde dingin menemani obrolan kami.

Pertama saya tanya nama lengkapnya. Namanya Antonio. Seperti nama-nama khas orang Spanyol dan America Latin yng sering kita lihat di tv. “Ja, Antonio is my grandfather. Catala is my fathers’s name and Rabasa is my mother. Antonio Catala Rabasa,” saya duduk sambil mendengarkan penjelasan Antonio, kawan baru saya. Toni mengeluarkan tablet dari ranselnya dan ditunjukkan kepada saya foto-foto keluarganya. Saya amati rangkaian foto keluarga Catala yang menikmati makan malam. Mereka adalah penganut Katholik yang taat. Saya lihat ada makanan yang bentuknya mirip dengan kambing guling di Indonesia.

Toni anak pertama dari lima bersaudara. Tinggal di Valencia. Umurnya 32 tahun dan belum menikah. Dia sempat berpacaran dan putus karena pacarnya tidak mendukung rencananya untuk berkeliling dunia. Toni agak terkejut waktu saya beritahu saya sudah menikah dan punya anak. 🙂

Kelesuan ekonomi di Spanyol mendorongnya untuk bepergian keliling dunia. Dari Spanyol dia terbang ke Hongkong lalu akhirnya menyusuri Asia Tenggara dengan jalur darat. Sebelum tiba di Bangko dia singgah di Kerinci selama beberapa hari untuk naik gunung Kerinci. Dari Bangko dia akan naik bus ke Jakarta. Dia sudah membeli tiket tujuan Darwin, Australia. Sejuta harapan dia sematkan di negeri Kanguru. Dia berencana mencari peluang kerja di negara itu.

Tidak terasa sudah jam tiga pagi. Sebelumnya kami berdiskusi tentang banyak hal. Tari Flamenco, musik Spanyol, Valencia, sepakbola, perpajakan, Miss World dan kaum radikal dan pandangan hidup. Sebelum tidur saya berikan kartu pos kepada Toni dan dia berjanji untuk mengirimkan kartu pos setiba dia di Spanyol. Entah kapan itu.

Jam setengah enam pagi lagu Karo Maba Kampil membangunkan saya. Bergegas saya mandi dan bersiap-siap. Toni masih tidur di kamar sebelah. Saya ketuk pintunya dan tak berapa lama dia bangun. Toni tidak mandi. Dengan mata masih merah dia hanya cuci muka dan gosok gigi lalu berkemas-kemas. Kami berjalan menyusuri jalan di kompleks rumah. Beberapa anak kecil menyahut “Hello, Mister! kepada Toni.

Mungkin masih suasana Lebaran Haji, warung soto langganan saya dekat kantor tutup. Soto Medan sebelah kantor masih tutup. Yang buka hanya kedai sate Padang dan kafe Saimen. Toni belum menentukan pilihan. Saya tinggal Toni di depan kantor untuk absen pagi dan menyimpan tas di kantor.

Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan pagi di Saimen. Saya beli pizza dan Toni pesan nasi goreng. Uniknya, Toni membayar untuk pizza dan saya mentraktir nasi goreng Toni. Takut merepotkan dan menjadi masalah katanya. Kehadiran Toni menjadi perhatian pegawai kafe. Sayang saya tidak bisa berlama-lama menemani Toni karena harus masuk kantor jam setengah delapan. Sampai jumpa Toni, semoga selamat dan sampai berjumpa lagi…

 

Iklan

4 comments

  1. toni kaya maradona.. apakabar dia sekarang? biasanya ada yang suka nyasar kemanamana dan suka dikasih tahu perjalannya sampe mana.. dulu pernah ada dari kroasia inep di rumah, tapi ketemunya di pangandaran.. keren ya kalian punya grup surf..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s