Dunia Selebar Daun Kelor?


foto dari sini. 

Jumat, 11 Oktober 2011
Jam setengah tujuh malam. Saya masih di kantor. Duduk berkutat di depan monitor memandangi tulisan-tulisan blog, baca-baca berita Jokowi sambil berhaha hihi nyepam di grup KPI bareng mbak Dini dan oma Tin. Teman-teman kantor saya sudah menjalankan ritual mingguan ketika Jumat sore, pulang ke kampung halaman.

Sampai hampir lupa waktunya sholat. Masih basah air wudhu di muka, saya dipanggil bang Pius. Kawan kantor saya buat ikut dia ke Saimen, katanya hari ini ulang tahunnya dan dia mengundang saya makan disana. Horeee… 😀 

Habis Magriban saya menyusul ke Saimen. Cuma lima menit jalan kaki dari kantor. Saimen adalah nama kafe dan resto di Bangko. Pusatnya ada di Jambi dan buka cabang di beberapa kota di Sumatera. Nama tokonya diambil dari nama pemiliknya yaitu Siemens Simon. Jualan utamanya yaitu roti-roti ala Breadtalk dan J-Co gitu, tapi dengan harga yang lebih ramah kantong dan rasanya tidak mengecewakan. Favorit saya adalah roti isi jagung dan keju. Donat saus selai buah ala J-Co juga enak, meski kadang nggak selembut punya J-Co juga sih.

Selain roti, di Saimen juga ada nasi goreng dan ayam goreng model KFC gitu. Ayamnya cukup renyah tapi rasanya agak jomplang kalo dibandingkan CFC, kelas dibawahnya KFC. Buat saya masih lebih enak KFC ya dibanding CFC. 🙂

 
mie kangkung

Ada lagi mie ayam dan mie kangkung. Mie kangkung pake mie kuning, kangkung, bakso disiram kuah kental. Mie ayam disini pake jamur tiram. Sedaap…tapi di Saimen selain roti semuanya mahal. Jadi seringnya saya ke Saimen cuma buat beli rotinya doang sih. Nilai lebihnya, di Saimen ada WiFinya dan sepertinya satu-satunya tempat makan di Bangko yang sudah ada WiFi hihihihi.

Oke, kembali ke topik. Jadi di Saimen sudah ada bang Pius, istrinya, bang Ucok dan Imam. Malam itu saya pesan mie kangkung, kentang goreng dan cappuchino. Obrolan-obrolan kecilpun mengalir. Biarpun sekantor, saya jarang ngobrol lama sama mereka. Saya di bagian PBB sementara bang Pius dan Imam di front desk. Kalau bang Ucok di pantry. 

Rupanya bang Pius ini kakak tingkat saya ketika kuliah di Palembang dulu. Hanya beda angkatan. Dia lulus tahun 2005 saya lulusan 2007. Faktanya lagi, dia dulu satu kosan juga sama saya. Saya teringat cerita keluarga bu Sumi, perempuan asal Bantul yang jadi induk semang saya di Palembang.

Dulu tahun 2004 ada tujuh orang Medan di kosan ibu. Saya lihat nama-namanya di dinding rumah lengkap dengan marganya. Dua orang perempuan dan lima laki-laki. Boru Lumbanraja, boru Sitanggang, Pakpahan, Siringoringo, Sianturi, Mendrofa (Nias), dan satu lagi saya lupa. Salah satu diantara mereka ada nama bang Pius.

Memori-memori di Palembang dan di kosan kembali memenuhi kepala. Memori masa perjuangan. Betapa ibu kosan saya itu baik dan sangat ramah. Kami tiap hari makan di rumah ibu kos. Saking baiknya ibu mau mengeroki punggung saya jika saya meriang. Sampai-sampai waktu saya selesai kuliah, ibu saya nggak bisa menahan air mata. Lalu kenangan tentang susahnya air di Palembang. Setiap dua minggu sekali kami patungan beli air satu tangki. Harganya seratus ribu satu tangki.

Sering mengalami momen “eh, aku dulu disitu juga?” 🙂

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s