Pulang

Sabtu, 3 Agustus 2013
Saya berada di emperan stasiun Senen yang berdebu. Mencoba memejamkan mata meski nyatanya tak bisa juga. Saya bersama puluhan bahkan mungkin ratusan pemudik dari Jakarta menuju berbagai kota di pulau Jawa. Sambil memejamkan mata, terbayang rangkaian perjalanan mudik tahun ini.

Tahun lalu saya pulang kampung bersama istri. Naik travel 10 jam dari Sungai Penuh ke Jambi. Naik pesawat dari Jambi ke Jakarta. Disambung naik bus selama ย 15 jam dari Pulo Gadung ke Brebes rumah budhe. Tak tahan, istri saya muntah-muntah sebelum sampai Brebes. Kami singgah sehari di Brebes sebelum pulang ke Salatiga.

Tahun ini istri saya setelah hamil enam minggu memutuskan tidak ikut saya ke Sumatra. Terpaksa demi keselamatan si jabang bayi saya tinggalkan mereka di kampung. Sampai anak saya lahir, saya belum sempat memeberi suara azan di kedua belah telinganya. ๐Ÿ˜ฆ

Dari Bangko bandara terdekat ada di kota Jambi. Ditempuh selama enam jam perjalanan. Saya tidak langsung menuju bandara. Perlu waktu semalam untuk menyegarkan badan sebelum esok hari naik pesawat. Saya menumpang di rumah Reza di Jambi, kawan dari komunitas CS yang dulu pernah saya temui di rumah bang Lukman.

Kenyataannya saya tidak langsung tidur tiba di Jambi. Saya malah asyik ngobrol sambil makan malam dengan bang Gee, pacarnya tante (sensor), teman saya juga. Pulang dari makan, saya tidak langsung tidur. Saya ngobrol dengan ibunya Reza. Mereka asli Batang Asai, Sarolangun. Agak surprise saya mendengar ibu Reza bercakap-cakap dengan bahasa yang tidak asing saya dengar. Mirip bahasa Kerinci. Saya dan Reza terus ngobrol sampai jam setengah dua. Sehari-hari Reza adalah seorang bartender di hotel berbintang di Jambi. Saya diperlihatkan beberapa botol minuman yang dikoleksi Reza. Udara panas Jambi menemani tidur saya.

Dua jam kemudian saya bangunkan Reza. Kami makan sahur. Di rumah Reza yang sederhana itu saya temukan kehangatan sebuah keluarga. Ibu Reza tidak henti menceritakan kisah hidup keluarga Reza. Dan saya terkesan dengan kejujuran dan keramahan wanita yang berusia lanjut ini. Reza tinggal berdua dengan ibunya. Semua abangnya telah berkeluarga dan tidak tinggal di rumah Reza.

Saya di antar Reza ke bandara. Satu jam lima belas menit saya di udara. Dari Cengkareng saya naik Damri jurusan Gambir. Di dalam bus saya tertidur. Tiba-tiba hati ini meleleh, membayangkan saya akan bertemu Nia, anak saya untuk pertama kalinya.

Tiba di stasiun Senen, hari masih siang. Jam tiga. Matahari masih membakar bumi. Sementara kereta saya akan berangkat ke Semarang jam sepuluh malam. Coba kalau tiket pesawat Jakarta ke Jawa tidak naik tiga kali lipat, saya akan naik pesawat. Tapi kalau naik kereta, saya bisa berhemat. Sebagian uang bisa saya sisihkan untuk uang lebaran saudara-saudara di kampung.

….

Saya sampai bosan menunggu jam sepuluh malam. Tiduran, baca koran bekas, nonton orang, smsan semua sudah saya lakukan. Jam sembilan saya dan ratusan penumpang kereta ekonomi Tawang Jaya diijinkan masuk peron. Saya sempat ditahan satpam masuk peron karena petugas tiket salah mencetak tiket saya. Pada tiket saya tertera tanda bahwa saya berumur sepuluh tahun.

Tepat jam sepuluh kereta meninggalkan Senen. Seperti biasa saya tidak bisa tidur nyenyak di dalam kereta. Alih-alih tidur, mata saya memerah karena kecapekan dan tidak bisa tidur di bawah cahaya lampu kereta yang menyala sangat terang. Saya pasrah. Biasanya saya akan tidur lewat jam tiga atau jam empat.

Seberkas sinar dari balik jendela membangunkan saya. Beberapa menit lagi saya sampai di Semarang. Jam enam saya turun di stasiun Poncol. Dengan dijemput adik ipar, saya dibonceng naik motor. Tidak langsung pulang, saya dibawa ke Ambarawa, rumah baru saya baru ke Salatiga.

Sampai rumah Nia sedang tidur. Ah..saya sedang tidak bermimpi. Saya bertemu anak saya. Dia cantik. Hidungnya mirip mamanya. Dahinya mirip saya. Saya cium pipinya dan Nia masih saja tidur nyenyak. Ah..rasa ini tidak bisa dijelaskan dengan kata apapun. Bahagia, bangga, serta sedih tidak bisa melihat detik-detik kelahirannya.

Nia tinggal di rumah kakek neneknya (orang tua saya) sampai umur satu lapan (35 hari). Setelah itu baru nanti dia boleh diajak keluar jalan-jalan. Atau dibawa pulang ke Ambarawa. Jadi seorang ayah, saya harus tau apa arti tangisan Nia. Kadang dia pipis, pup, laper, atau kedinginan. Setiap pagi atau maghrib saya gendong dia.

Pulang kampung juga berarti makan makanan favorit. Beli nasi goreng di Sruwen, mie ayam Makin Mantap dan bakso Pak Rin. Semuanya favorit. Ayah saya bahkan sudah beli nasi goreng langganan itu sejak masih bujang. ๐Ÿ™‚ Selain itu, nasi kucing atau kalau di kampung saya disebut angkringan juga favorit saya. Di Bangko kan susah dijumpai wedang jahe dan nasi kucing seperti ini T.T

ketel di angkringan

Tradisi Lebaran di rumah kami tidak jauh beda dengan keluarga lain. Sholat Ied, ziarah ke makam saudara yang sudah meninggal dan membuat opor ayam. Khusus tahun ini entah mengapa saya melewatkan momen ziarah itu. Tahun ini ibu saya tidak membuat opor ayam, melainkan bakso. Supaya banyak yang tertarik makan. Alasannya, “Sudah banyak keluarga lain yang membuat opor,” kata ibu saya. Hanya ibu mertua yang masih setia dengan menu opor ayam. Di kampung kami tidak ada tradisi membuat ketupat. Ketupat hanya dibuat saat hari ketujuh lebaran. Biasa disebut dengan Bodo Kupat (lebaran ketupat).

Habis sholat Ied saya, adek-adek dan sepupu keliling kampung buat halal bi halal. Di keluarga kami tidak ada ritual sungkeman. Saat halal bi halal keliling kampung, cukup satu orang yang sungkem mewakili rombongan. Yang lain tinggal datang,salaman,makan kue, salaman, dan pulang. Sorenya, kami halal bi halal ke kampung sebelah. Tuan rumah selalu menawari tamunya untuk makan berat. Ajakan ini bisa diterima atau boleh ditolak, tentu dengan halus.

ย Hari ketiga lebaran, saya ikut bantu-bantu bapak ibu mertua pindahan dari Ambarawa ke Salatiga. Total ada dua mobil pick up dan satu truk.

ย Yang unik di kampung saya saat lebaran adalah pementasan angguk, sebuah kesenian tradisional yang berciri khas Islami. Tari semi kontemporer yang bernuansa magis. Kadang disebut rodat atau kuntulan. Saya sebagai warga kampung yang baik hati saya ikutan tampil. Nanti saya ceritakan di postingan berikutnya. Maaf lahir batin, kawan ๐Ÿ™‚

Iklan

12 comments

  1. sekarang anakmu umur berapa? kenapa ga diajak aja semua ke jambi? LDM itu ga asik lah..
    kalu mo beli tiket pesawat biar ga jantungan, jauhjauh hari aja.. ini ku pulang kampung ke semarang udah ada tiket pesawat buat lebaran taon depan.. harganya bisa 1/4 harga tiket taon depan loh..

  2. inget pulang kampung kmrn lucu2 gemesin… naik bus seharga pesawat jakarta-jambi (malah lebih). tapi mau gimana lagi namanya juga “momen”. takbiran di jalan, jam 4 pagi sampe rumah dijemput bapak di mulut gang. jadi anak tunggal krn embak mudik. ๐Ÿ˜€ …

  3. Kompleeet ๐Ÿ™‚ ini pasti ditulis diantara rasa kangen ๐Ÿ˜€
    satu lapan (35 hari) aku baru denger istilah ini. Hitung-hitungannya gimana wak?

    • hehehe…yups…. terlalu banyak ya hehehe… I am back ๐Ÿ˜€

      jadi kan seminggu dalam kalender jawa itu ada 5 hari (legi, pahing, pon, wage, kliwon), nah satu bulannya orang jawa (disebut satu lapan) itu ada tujuh minggu, jadi 5 x 7 = 35 hari…. ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s