Angguk; Kesenian Kampung Kami

Berkacamata hitam bukan karena buta. Memakai selempang bukan Miss World. Berbaju rapi dan dasi bukan pegawai kantoran. Mengenakan sepatu kets dan kaos kaki bola bukan juga pemain bola. 

Itu sedikit gambaran yang bisa ditangkap indera dari kostum pemain rodat atau sering disebut angguk. Angguk adalah kesenian tradisional di kampung kami. Sebuah desa di kaki gunung Merbabu, Jawa Tengah. Kampung yang masih mengutamakan kekeluargaan dan menjunjung tinggi kesenian tradisional.

Di seantero Boyolali sendiri ada belasan kelompok kesenian angguk. Tersebar di beberapa kecamatan. Salah satunya di kampung saya. Grup angguk di kampung saya bernama Rukun Santoso. Diambil dari nama kelompok Karang Taruna.


kostum pemain rodat; saat tampil di rumah (ortu) saya 🙂

Seperti kesenian tradisional pada umumnya, rodat tumbuh dan berkembang di kampung. Kemunculannya hanya saat tertentu : lebaran ketupat, bersih desa, hari kemerdekaan atau saat diminta tampil mengisi hajatan warga desa.

Tidak ada yang tau pasti kapan angguk mulai ada di kampung kami. Yang jelas, angguk mulai ada sejak zaman perjuangan. Penarinya semua laki-laki. Dulu semua pemain berusia remaja hingga dewasa. Sekarang anak-anak usia SD sudah diwajibkan ikut menari angguk di kampung saya. Saya sendiri sudah diminta ikut menari sejak kelas 6 SD. Saat itu saya dan teman-teman yang lain masih terlalu kecil untuk memakai seragam angguk. Jadinya, kami memakai baju dan sepatu sendiri.

Pertama kali tampil tentu saja rasanya malu kalau ada teman sekelas yang nonton 😀 Awal-awal tampil, saya takut sekali jika sampai kerasukan. Kata pimpinan grup, kami dianjurkan untuk tidak melamun saat menari. Bisa juga dengan makan permen karet. Saya patuhi anjuran dengan makan permen karet selama tampil. Dari malu, akhirnya saya bangga bisa memperkenalkan budaya daerah sendiri. Grup kami pernah diundang ke Solo saat tingalan jumenengan raja Kasunanan Solo.

Kostum angguk meniru pakaian para jenderal Belanda. Memakai selempang keemasan, tanda pangkat ala jenderal kompeni, sepatu kets, kaus kaki berwarna mencolok, dilengkapi dasi hitam, kaca mata hitam dan kipas. Sangat modern sekaligus terlihat jenaka.

Musik pengiring angguk cukup sederhana. Berupa sebuah beduk kecil dan tiga buah rebana. Musik yang dihasilkan bernada ritmis. Seorang penyanyi bertindak sebagai pemimpin lagu. Bunyi dung dung dan cring cring berpadu dengan melodi yang disenandungkan penyanyi. Lagu-lagu yang dibawakan berbahasa Indonesia dan sebagian berbahasa Arab. Lirik lagunya berisi ajakan kebaikan atau puji-pujian kepada Muhammad saw. Wajar saja, tarian ini awalnya dibawakan untuk syiar agama.

  
penyanyi, penabuh beduk dan rebana

Berbeda dari kesenian Jawa lainnya seperti kuda lumping yang gerakannya terkesan lemah gemulai, angguk justru sangat dinamis. Konsep gerakannya imitasi dari gerakan prajurit kompeni Belanda saat berlatih perang. Langkah kaki seirama bunyi beduk. Beberapa gerakan terlihat patah-patah seperti robot, atau mirip break-dance. 😀 Ayunan kipas terkesan seperti ayunan pedang.

 Sebagai sebuah kesenian tradisional, kostum dan lagu tidak cukup menjadi penarik. Para penonton akan menunggu berbagai aksi kekebalan tubuh yang diperagakan crew angguk. Misalnya, mengupas kelapa dengan gigi, makan bara api yang menyala, makan pecahan kaca, dan sebagainya.

 
barong unta dan liong 😀 

Tidak jarang ada pemain yang kerasukan makhluk halus atau kerasukan. Pemain yang kerasukan matanya melotot atau malah terpejam, menari sesuka hati dan kadang berlari mengejar penonton. Namun, banyak penonton yang menunggu saat ada pemain yang kerasukan. Biasanya pemain yang kerasukan akan minta sesaji yang aneh-aneh. Misalnya nasi tumpeng, bunga tujuh rupa, kemenyan atau bara api. Setelah permintaannya terpenuhi, biasanya pemain akan pingsan dan siuman kembali seperti sedia kala. Jika tidak, seorang pawang akan turun tangan, membaca mantra dan meminta supaya makhluk halus tersebut pergi dari tubuh pemain.

 
pemain yang sedang kerasukan 

Saya pernah sekali kerasukan. Rasanya? Hm..nggak ingat. Yang jelas, awalnya kepala agak pusing. Terus sepertinya tiba-tiba seperti ada yang menubruk saya. Habis itu saya tak ingat lagi apa yang terjadi. Saat bangun, badan terasa capek sekali. Kata orang di dekat saya. Saya baru saja kerasukan. Katanya juga minta sebatang rokok! Hah?! Padahal saya bukanlah perokok aktif. Boro-boro merokok. Kena hembusan asap rokok saja saya bisa batuk-batuk. Saya kaget mendengar ucapan kawan saya. Anehnya, saya tidak merasa batuk-batuk atau sesak nafas habis tampil malam itu. 🙂

Angguk, dengan kostum, lagu dan penampilan yang agak sama atau berbeda bisa dijumpai di daerah lain. Kadang disebut kuntulan. Di Wonosobo, tarian mirip angguk dibawakan oleh perempuan dan disebut dolalak.

Iklan

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s