Museum Palagan Ambarawa

Agak naif memang alasan saya pengen punya rumah di Ambarawa : museum. Ya, sebagai pecinta sejarah saya suka dengan Ambarawa karena kota kecil ini mempunyai dua museum. Yang paling terkenal adalah museum kereta api yang menyimpan puluhan lokomotif kereta kuno. Selanjutnya ada museum Palagan Ambarawa yang menceritakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Ambarawa.

Dulu saya punya cita-cita pengen tinggal di Malang atau Bandung. Keduanya sama-sama daerah yang banyak peninggalan bersejarahnya. Sama-sama berhawa dingin karena dikelilingi pegunungan. Setelah kerja di Sungai Penuh yang berada di tepi danau Kerinci, kriteria kota idaman saya bertambah satu lagi : kota di pegunungan, banyak bangunan bersejarah dan di tepi danau. Beruntung Ambarawa keadaannya mirip-mirip Sungai Penuh. Akhirnya saya mantap sewa rumah disana.

Waktu pulang ke Ambarawa pas Lebaran kemaren, museum kereta api masih direnovasi. Padahal udah dua tahun sepertinya. Waktu saya dan pacar menikah di Ambarawa bulan November 2011 aja museum ini udah ditutup dan baru bulan depan rencananya akan dibuka kembali. Wah, lama banget ya.. Tapi saya masih bisa memandang aneka lokomotif tua dari luar pagar museum 😉

Rumah  saya di bilangan (kalo di Ambarawa namanya ‘lingkungan’) Tambakboyo. Hanya sepuluh menit dari pusat kota. Berhubung museum kereta api masih tutup, saya dan adek-adek main ke museum Palagan Ambarawa. Dari rumah bisa dicapai selama sepuluh menit saja :-).   

Museum Palagan dibangun untuk mengenang perang antara rakyat Ambarawa dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) melawan tentara Sekutu. Di kemudian hari peperangan ini dikenal sebagai pertempuran Palagan Ambarawa. Ceritanya beberapa bulan setelah proklamasi yaitu pada tanggal 20 Oktober 1945 datang tentara Sekutu di Semarang untuk mengambil tawanan tentara Belanda di penjara Ambarawa dan Magelang. Rupanya tentara Sekutu mempersenjatai tawanan Belanda dan membuat kakacauan di Magelang. Tentara Sekutu dikejar oleh Letkol M Sarbini sampai Jambu. Sampai Ambarawa tentara Sekutu bertemu pasukan TKR pimpinan Letkol Isdiman. Letkol Isdiman gugur dalam peperangan. Isdiman digantikan oleh Kol. Sudirman. Pada tanggal 23 November  meletus pertempuran di sekitar gereja Jago dan kerkhof Ambarawa.

Palagan Ambarawa yang sesungguhnya baru dimulai tanggal 12 Desember di Ambarawa. Pertempuran berlangsung sengit selama empat hari. Akhirnya tanggal 15 Desember 1945 kota Ambarawa berhasil dikuasai TKR sehingga Sekutu dibuat mundur ke Semarang.

Untuk mengenang kemenangan Sudirman ini, dibuat monumen Palagan Ambarawa dan dibuat patung Sudirman di lapangan Sudirman di pusat kota Ambarawa. Tanggal 15 Desember sendiri diperingati sebagai hari ulang tahun TNI Angkatan Darat atau hari Juang Kartika.

Museum ini terdiri dari Museum Isdiman dan Monumen Palagan Ambarawa. Tiket masuknya Rp 5.000,- untuk anak maupun dewasa. Setelah membeli tiket kami segera menuju ke Museum Isdiman.


lobi tempat penjualan tiket


Angga, Intan dan Hanum

Museum Isdiman diresmikan oleh presiden Soeharto pada tahun 1974. Menempati sebuah rumah kecil di dekat pintu masuk. Di dalamnya terdapat koleksi pakaian tentara Jepang, Sekutu dan Indonesia, koleksi senjata, foto-foto pejuang diantaranya Letkol. Sarbini, Letkol Isdiman, Kol. Sudirman, Jend. Gatot Subroto, May. Suharto serta lukisan jalannya Palagan Ambarawa. Jangan harap Anda mengerti jalannya peperangan Palagan Ambarawa. Lukisan mural sepanjang sekitar sepuluh meter di dinding kurang bisa dimengerti karena tanpa  teks apapun. Silakan menebak-nebak saja atau gugling sendiri di internet. 🙂 Situasi di dalam cukup panas karena tidak ada pendingin ruangan. Lampu juga kurang terang jadi kesannya agak serem 😦 Saya jadi ingat pertama kali dan kali kedua saya ke museum ini. Suasana panas dan gelap itu tidak berubah.


lobi museum

senjata berat

samurai Jepang 

Hanya membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit saja untuk berkeliling museum Isdiman. Kami beranjak ke halaman museum. Di depan kami terbentang halaman luas. Di tengah-tengahya bertengger bangunan besar bertuliskan Monumen Palagan Ambarawa. Relief perjuangan digambarkan di kaki monumen. Di atasnya berdiri gagah tiga patung pejuang dimana dua diantaranya menyandang senapan dan yang satunya mengibarkan bambu runcing berhias sang Merah Putih. Mereka diapit oleh patung Letkol. Sudirman dan Jend. Gatot Subroto. Di puncak monumen berdiri gagah Garuda dengan sayap terbentang. Kelak, Sudirman akan menjadi jenderal besar pertama di Indonesia.


self portrait :p 

Di sekeliling monumen diletakkan berbagai alat transportasi yang berhubungan dengan peristiwa palagan. Seperti kereta api kuno, truk dodge buatan Amerika, panser, tank dan pesawat tempur cocor merah.  Kecuali pesawat tempur, jangan terlalu berharap benda-benda ini akan ‘bercerita’. Deskripsi yang dipajang di dekat alat-alat transportasi ini tak lebih dari sekedar merk kendaraan, tahun pembuatan dan asal negara. 

kereta api kuno : 
   
lubang tempat membakar kayu bakar untuk bahan bakar kereta

lantai lokomotif; lapuk dimakan usia 


pesawat cocor merah (Mustang P 51) yang jatuh di Rawa Pening 

Di balik beberapa kekurangannya, museum ini jelas lebih bagus dan lebih nyaman dibanding tahun lalu. Sekarang ini pohon-pohon di halaman museum lebih banyak sehingga lebih rindang. Wahana bermain anak di sekitar museum juga lebih bervariatif. Seperti rumah pohon, ayunan, jungkat-jungkit dll. Ada satu wahana yang tidak dioperasikan yaitu flying fox. Adik-adik seneng banget main kesana kemari di rumah pohon. Terus berlari statis di mainan berputar yang mirip rumah hamster. 😀 Oya,kemaren waktu kami kesini, museum ini cukup ramai didatangi warga. 

kaki raksasa 
  jembatan menuju rumah pohon

yang pake jaket biru adik ipar saya 

main rumah hamster 😀 awas terbalik-balik 

(semua foto diambil memakai hp Sony Ericsson G900i) ::jadul 😀

Museum Isdiman & Monumen Palagan Ambarawa
Jl. Mgr. Sugiyopranoto – Ambarawa
Buka setiap hari : 08.00 – 16.00  
HTM : Rp 5.000,-
Parkir : Rp 1.000,- 

Iklan

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s