Ramadhanku

Awalnya saya pengen ngasih judul tulisan saya ‘kisah Ramadhanku : Keluargaku Harapanku’ Hehehe ini serius lo ๐Ÿ˜€ Daripada panjang dan terkesan lebay saya ganti aja jadi Ramadhanku. Oya, tulisan ini nyontek terinspirasi dari tulisan mas Ariย tentang kisah Ramadhannya di Aceh.

Dihitung-hitung, sejak pertama kali merantau keluar kampung halaman sejak tahun 2006, saya sudah delapan kali merayakan puasa dengan berganti-ganti kota tiap tahun ๐Ÿ˜€ Ini tahun pertama saya puasa di Bangko, kota kecil di sebelah barat Jambi. Hidup sendiri karena istri dan anak saya di kampung, hiks. Untuk buka dan sahur saya beli makanan di pasar Beduk (pasar wadai) yang letaknya persis di depan kantor.

Tahun 2006 adalah tahun bersejarah buat saya. Selepas lulus sma saya lanjut kuliah di Palembang. Tinggal di Palembang, merantau ke luar pulau, ย jauh dari orang tua di Jawa sebenarnya bukan pilihan saya. Awalnya saya pengen kuliah di Jogja aja yang deket rumah. Apa daya tangan tak sampai. Di Palembang saya ketemu dengan teman-teman dari seluruh Nusantara. Teman sekosan total ada delapan orang. Ada yang dari Medan, Sumedang, Jakarta dan beberapa kota di Jawa. Biarpun minggu-minggu awal di Palembang saya sering merenung, kangen ortu di kampung, adanya temen-temen yang rame di kosan bikin saya gak terlalu kesepian. ๐Ÿ˜‰ Ibu kos kami orang Bantul. Jadi makanannya masih bisa diterima lidah saya.

Puasa tahun 2007ย saya sudah selesai kuliah dan kembali ke Jawa. Karena saya cuma mengambil kuliah singkat (diploma) sehingga lulus kuliah langsung kerja. Habis kuliah ada program magang. Saya ambil magang di Salatiga. Saat puasa, tiap sahur dan buka dengan masakan ibu itu rasanyaย memorable banget.

Tahun 2008 saya pindah tugas ke Tanjung Balai Karimun, kota kecil berjarak satu jam dari pulau Batam. Kembali saya menjadi anak kosan. Teman-teman kosan saya lumyan asyik. Kami sering beli buka dan sahur bareng, karena males masak hehe.

Berikutnya dua tahun berturut-turut saya mengawali puasa di Tanjung Batu, satu jam perjalanan laut dari Tanjung Balai Karimun. Ada tradisi unik masyarakat Tanjung Batu selama puasa yaitu lampu colok. Lampu colok adalah gapura dari bambu yang diberi lampu minyak. Dinyalakan mulai malam ke-21 sampai akhir Ramadhan.ย 

DSCN9271
lampu colokย 

Tahun 2011 saya pindah lagi ke Jakarta. Tahun berikutnya ‘kembali’ ke Sumatera. Yaitu ke kota Sungai Penuh di Jambi. Ini kali pertama puasa bareng istri ๐Ÿ™‚ Syukurlah mulai sekarang ada yang masakin hehe. Tapi kadang kami jajan juga di luar kalo lagi males masak. Ini ceritaku, gimana ceritamu?

Iklan

7 comments

  1. menikmati bulan ramadan ternyata gak di satu tempat ya. dan untungnya sekarang udah ama istri. pasti makin seru

  2. bener juga. ga nyangka saya juga terakhir kali melaksanakan ramadhan full di rumah di tahun 2006. habis itu melanglangbuana dan alhamdulillah masih di Jawa. saya selalu percaya kalau rencana Tuhan pasti lebih baik dari rencana yang kita buat ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s