Kuliner Runaway : Pulang Kerinci

 Perhatian : jangan dibaca sambil berpuasa 😀 !

Saya nulis ini sambil nahan lapar loh. Soalnya saya juga puasa hehehe. Oke..saya mau cerita liburan minggu kemaren. 😉

Minggu kemaren tepatnya hari Jumat-Sabtu saya “pulang kampung” ke Sungai Penuh. Sudah sebulan terakhir saya tidak menengok kota ini. Banyak teman-teman yang belum tau Sungai Penuh dimana. Jika dilihat di peta provinsi Jambi, kota ini terletak di sebelah barat dikelilingi kabupaten Kerinci (daerah induk sebelum pemekaran) dengan warna kemerahan. Jaraknya sepuluh jam dari kota Jambi. Udaranya sejuk karena di lembah Kerinci yang dikelilingi pegunungan Bukit Barisan.

Hari Jumat sore setelah jam pulang kantor saya langsung ke Pasar Bawah. Dengan menenteng sebuah tas kecil berisi satu stel pakaian, saya bersiap-siap menunggu angkutan yang akan menuju Sungai Penuh. Biasanya berupa mobil L 300 atau apv.

Menit per menit saya lalui dengan sabar. Hingga azan maghrib berkumandang dan langit berubah gelap mobil yang saya tunggu tak kunjung tiba. Nggak terasa udah satu jam lebih saya menunggu. Dengkul ini seperti meronta kecapekan. Belum hilang rasa capek saya, tiba-tiba lewat sebuah bus besar dengan teriakan “Kerinci! Kerinci!” dari sang kenek bus. Saya hampiri bus tersebut yang menepi di tepi jalan.

Bus tersebut rupanya bus beneran, bukan bus jadi-jadian. Setelah bertanya saya segera naik dan duduk di deretan kursi bagian tengah yang kosong. Family Raya, nama bus tersebut yang bermarkas di Bangko. Melayani jurusan ke berbagai kota di Sumatera dan Jawa.

Namun, saya sempat ragu mau naik karena tidak ada bus besar ke Sungai Penuh. Asal tahu aja, jalan ke Sungai Penuh sempit, mendaki, kelok-kelok dan sebagian jalan rusak dan berlubang. Setahu saya hanya mobil semacam apv, minibus yang mengambil rute ke Kerinci.

Bus ini rupanya berangkat dari Jakarta. Saya berada dalam pusaran perantau Kerinci yang tinggal di Jakarta. Duh, serasa pulang kampung beneran 🙂 Ibu-ibu di sebelah saya mengeluh sudah bertahun-tahun di Jakarta belum sekalipun pulang kampung ke Kerinci. Dari logatnya, ibu ini sudah akhrab sekali dengan bahasa gaul Jakarta. Hilang sudah logat Kerinci saat kami ngobrol.

Saya dikutip ongkos naik sebesar Rp 70.000,-. Sama seperti ongkos pakai minibus. Namun, saya memperoleh kenyamanan lebih jika naik bus dibandingkan naik. Karena banyak kursi kosong, saya bisa tiduran di dua buah kursi sekaligus. Tidak terlalu nyaman memang. Kurang sesuai dengan postur tubuh saya yang panjang 🙂 Apalagi ac di dalam bus tidak bisa dimatikan. Saya menggigil karena suhunya terlalu dingin! 

Biarpun jalanan sempit, bus ini melenggang tanpa ampun. Jalanan yang rusak diterjang saja. Perasaan saya ngeri-ngeri sedap soalnya di sebelah kiri jalan merupakan jurang dalam. Tapi, enaknya naik bus jalanan yang rusak tidak begitu terasa.

singgah di Muara Imat, blank spot antara Bangko-Kerinci

Bus singgah di sebuah rumah makan di Muara Imat, sebuah blank spot sekaligus desa pertama di Kerinci. Sinyal hp biasanya hilang di desa di tepi taman Nasional Kerinci Seblat ini. Tidak kali ini, bahkan sinyal gprs tiba-tiba menghiasi layar hp saya. 

Saya males untuk makan karena ngirit sudah makan malam di Bangko. Hampir semua penumpang turun. Sebagian menikmati makan malam. Saya hanya ke kamar mandi sebentar lalu nongkrong bersama penumpang yang lain menunggu bus kembali berangkat.

Singkat kata, saya sampai di Sungai Penuh, ibukota Kerinci tepat tengah malam. Lima setengah jam perjalanan atau satu setengah jam lebih lama kalau naik minibus. Saya dijemput bang Jamie, kawan saya di agen Family Raya di Tanah Kampung.

Tidak ada yang berbeda dengan suasana rumah bang Jamie. Saya masih disambut dengan hangat. Bedanya kali ini, Sergey dan Karina kawan dari Rusia yang dulu nebeng di rumah bang Jamie sudah pergi. Mereka ikut lomba paralayang di Payakumbuh. Selanjutnya mereka berpisah arah. Sergey kembali ke Rusia dan Karina melanjutkan perjalanan ke Jawa. Oya, dari penuturan bang Jamie, Karina tertarik mempelajari Islam, wow!

brosur alat-alat outdoor; kayoa,kayo dalam bahasa Kerinci berarti Anda (sopan)

Pagi hari selepas beres-beres bang Jamie mengantar saya ke tokonya. Dia mau jalan bareng teman-temannya ke danau Gunung Tujuh. Saya nggak ada rencana pasti mau kemana. Susah kalo nggak punya motor di Kerinci. Tempat wisatanya tidak semua bisa dijangkau dengan angkot. 

Perut lapar belum sarapan, saya melangkahkan kaki ke rumah makan Sate Amir. Rumah makan ini cikal bakal sate Padang di Sungai Penuh. Rasanya jangan ditanyakan lagi. Kesetiaan pada resep puluhan tahun membuat sate ini tidak ada bandingannya. Kuah bumbunya pedas dan segar, bumbunya juga meresap kuah ke dalam daging sate. Tambahan bawang goreng membuat setiap gigitan terasa nikmat. Tidak menyesal saya jauh-jauh datang dari Bangko untuk menyesap nikmatnya sate Amir!

Saya agak kecewa setelah pindah ke Bangko tidak ada sate Padang yang enak. Beberapa sate Padang yang pernah saya coba, kalo nggak bumbunya kurang terasa, cuma pedas saja, ya kuahnya kurang nendang. Terakhir beli sate Padang di salah satu warung yang direkomendasikan teman, karena kuahnya berwarna orange pucat saya curiga penjualnya memakai pewarna buatan hehe.

Dari sate Amir saya tidak mau kemana karena memang saya nekat aja pulang ke Sungai Penuh. Seperti turis haus foto, saya siapkan kamera untuk memotret apa saja yang ada di sepanjang jalan sambil berjalan kaki. Langkah saya arahkan ke rumah mas Hendi, kawan fotografer. Saya numpang charge hp di rumah mas Hendi. Terus ke rumah uni Dewi, kawan kantor saya yang rumahnya hanya beberapa menit berjalan. Di Kerinci, hampir sama dengan di Minang, perempuan dewasa dipanggil uni (kakak).

Jika hidup ini adalah sejarah, salah satu babak sejarah saya terukir manis di Sungai Penuh. Beberapa artefak sejarah sengaja saya titipkan di rumah uni waktu saya mau pindahan ke Bangko. Ada kompor dan kasur yang dulu saya pakai bersama istri di Sungai Penuh. Buat suami-istri penuh gairah sentimentil seperti kami, kompor minyak dan kasur itu tentu saja barang berharga hahaha. Kompor saya berikan cuma-cuma ke uni Dewi. Repot bawanya ke Bangko. Sedangkan kasur saya titipkan. Entah kapan saya bisa mengambilnya.

koleksi kompor minyak uni

Cukup lama saya di rumah uni. Bang Derry, suami uni dan Divo anak Uni sedang di rumah. Angin sepoi-sepoi membuat saya tertidur di lantai ruang tamu. Saya terbangun merasakan lantai tempat saya tiduran bergoyang pelan. Saya bergegas ke luar rumah. Tetangga sebelah uni sekonyong-konyong keluar dari rumah, dia mengatakan baru saja ada gempa. Pusatnya di Mentawai katanya sambil online pakai hp.

Dari rumah uni saya kembali ke rumah mas Hendi untuk mengambil hp. Saya telpon Padli untuk menemani makan siang. Padli rumahnya di Hiang, sekitar dua puluh menit dari Sungai Penuh.

Agak lama Padli datang. Di jalan kami bertemu Tetty. Tetty dulu kawan jalan bareng di grup kami sebelum akhirnya dia menikah. Tetty sedang hamil lima bulan. Hanya sebentar kami ngobrol, saya dibonceng Padli ke Semurup. Makan soto!

Semurup berjarak lima belas menit dari Sungai Penuh ke arah Padang. Di tepi jalan tidak jauh dari Pasar Semurup terdapat sebuah rumah makan yang telah menjual soto selama puluhan tahun. Soto Semurup agak mirip soto Padang.

Soto berkuah bening berisi soun, perkedel kentang dan irisan dendeng sapi yang kriuk. Rasanya gurih dan nikmat dimakan panas-panas. Cocok buat yang tidak suka pedas. Biasanya soto dimakan bersama jangek (kerupuk kulit). Tidak ada jangek membuat saya mengambil sebungkus rakik maco, peyek khas Minang yang dibuat dari ikan maco.


soto Semurup dan rakik maco

Pulang dari makan soto, saya singgah ke kantor lama saya. Kamar belakang di rumah dinas yang dulu saya tempati sekarang kosong. Tidak ada apa-apa disitu. Hanya ranjang tanpa kasur, jendela yang tanpa korden dan dinding yang catnya mengelupas. Waktu saya intip ke halaman kecil di samping kamar, tempat istri saya dulu menjemur pakaian, rumput tinggi menyeruak menguasai sebagian besar lahan.

bekas tempat jemuran

Saya memutuskan untuk ‘berangkat’ ke Bangko malam ini. Untung masih ada kursi di travel Kliput langganan saya. Saya pikir sudah tidak ada lagi yang mau saya lihat di Kerinci, untuk kali ini. Mungkin saya akan kembali bulan Oktober. Ada acara sepuluhtahunan yaitu kenduri sko, prosesi pencucian benda pusaka dan pengangkatan pemimpin adat di wilayah adat Pondok Tinggi.

Sebelum hari beranjak sore saya mampir ke minimarket Sabil. Hengki kawan saya nitip minta dibelikan sirup kayu manis kha Kerinci. Saya juga singgah di rumah kawan Poppy. Saya mendapat kaos oleh-oleh dari Poppy yang habis tugas kantor kesana. Terima kasih Poppy 😀 Sampai ketemu lagi…Kerinci…

Iklan

20 comments

  1. ku pernah nyobain sirup kayu manis.. obat kangen..
    sate amirnya nyerah deh kalu pedes.. sotonya enak dengan keripik teri gendut itu ya..
    jadi nostalgia nih kesana?
    dulu naik kerinci bukan dari sini deh ya.. lupa? baru dua kali kesana kog lupa sih?
    payakumbuh tempat sahabatku tuh, ku kesana saat mereka menikah, kampung banget tapi indah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s