Sejenak di Museum Merangin

Masih penasaran dengan sebuah museum sederhana di Pasar Bawah yang batal saya kunjungi beberapa minggu yang lalu. Waktu Sergey dan Karina main ke Bangko dalam perjalanan dari Jambi ke Sungai Penuh.

Siang tadi berbekal motor pinjaman dari Hengky, saya ke museum Merangin saat jam makan siang. Hanya sepuluh menit saya sudah sampai di halaman museum.

Museum ini menyatu dengan gedung kantor dinas pariwisata kabupaten Merangin. Tepatnya di samping rumah makan kereta api Koim. Kalau dari arah Pasar Bawah, maka kantor ini terletak habis Bank Jambi.

Dari luar tidak tampak ada sesuatu yang menunjukkan kalau gedung ini adalah museum. Hanya saja di halaman terdapat replika prasasti Karang Berahi dan batu megalitik Dusun Tuo.

Segera setelah memarkirkan motor, saya masuk ke dalam. Terdengar suara orang bercakap-cakap dari ruangan di dalam. Saya minta ijin untuk melihat museum sebelum berkeliling.


lobi museum; sederhana

Di ruangan pertama yang serupa lobi itu dipajang lambang kabupaten Merangin, peta pariwisata yang sudah tidak update, foto benda-benda cagar budaya dan penjelasan tentang museum ini sendiri.


lambang daerah dan peninggalan keramik

Merangin, demikian nama kabupaten tempat saya bertugas sekarang. Sebuah daerah di barat Jambi yang mendapat namanya dari sungai Batang Merangin, salah satu anak sungai Batanghari. Sebelum reformasi, kabupaten ini bergabung dengan Sarolangun membentuk kabupaten Sarolangun-Bangko.

Museum Pemerintah Daerah Merangin Ujung Tanjung Batang Mesumai. Demikian nama lengkap museum ini. Dinamai seperti ini menurut lokasi berdirinya museum ini. Di depan museum memang terdapat sebuah tanah yang menjorok ke arah sungai. Terletak di pertemuan sungai Batang Merangin dan sungai Batang Mesumai.


denah ruangan museum, denah ruangan etnografi

Museum ini mempunyai tiga ruangan. Ruangan pertama yaitu lobi. Kedua adalah ruangan inti yaitu ruang biologi dan etnografi. Ruangan ketiga yaitu ruang khasanah sedang tidak dibuka.

Ruangan Etnografi dan Biologi
Gelap, panas dan tanpa pendingin ruangan. Inilah ruangan utama museum Merangin. Dalam sebuah ruangan berukuran sekitar 10 x 10 meter dipamerkan benda-benda bernuansa etnis di dalam lemari-lemari kaca di dekat dinding. Di tengah-tengah ruangan dipamerkan aneka satwa yang sering ditemui di Merangin. 

Benda-benda etnis yang dipamerkan meliputi alat pertanian, alat pertukangan, alat memasak, alat musik, alat menangkap ikan dan berbagai perlengakapan dalam upacara adat. Semuanya masih sangat tradisional.


ketuk (kentongan), kompang (rebana) yang diletakkan bersama alat untuk menangkap ikan 🙂


mata serampang (trisula), dipakai untuk menangkap ikan

Alat-alat di bawah ini masing-masing dipakai untuk menampi beras, membuat api untuk membuat senjata tajam dan untuk mengangkut kayu dengan cara digendong.

 

Di salah satu sudut saya menjumpai wadah mirip jangki di Kerinci, yaitu wadah yang berbentuk kerucut dari rotan dengan alas lebih sempit dari bagian atasnya. Biasanya dipakai untuk mengangkut hasil pertanian dari ladang ke rumah.

 
aneka wadah dari rotan, bambu dan pandan dan … jangki 🙂

Ada juga peralatan upacara tempo dulu seperti tikar pandan, labu untuk minum, tempat sirih dan wadah untuk menyimpan ari-ari bayi yang dinamakan balon tembuni. 🙂

Koleksi Biologi
Di tengahtengah ruangan terdapat koleksi hewan-hewan yang telah diawetkan. Lucunya, hewan-hewan yang berkulit keras dan tidak berbulu seperti reptil, trenggiling sekujur badannya dilapisi dengan cat serupa pelitur. Mungkin cat dipakai karena minimnya biaya pengawetan. Hewan-hewan ini mirip mainan atau mebel rumah tangga daripada hewan.

Beberapa hewan yang jarang ditemui bisa dilihat seperti ayam hutan, buaya, ular sanca, biawak, macan dahan, siamang, dan juga ada musang. Ayam hutan dan musang tampak kusam terkena debu setiap hari. Geli saya melihat mata musang diganti kelereng 😉

Ketika saya pamit pulang mau balik ke kantor, baru saya sadari selain museum ini gelap dan panas juga plafonnya sudah rusak. Rembesan air hujan meninggalkan bercak pada plafon. Dengan udara Bangko yang panas dan rembesan air hujan saya tidak yakin barang-barang koleksi di museum ini akan awet dari cuaca.

Sebenarnya saya ingin meminta daftar benda cagar budaya ke dinas pariwisata. Namun, mereka mengaku tidak punya. Padahal dulu waktu kesini dan bertemu mbak-mbak yang ramah, dia bilang punya daftar itu. Entah siapa yang benar. Sebagai gantinya saya hanya diberi brosur ini. Isi brosur ini tidak lebih dari apa yang ada di internet, Pak! 


brosur wisata Merangin, oleh-oleh dari museum

Iklan

7 comments

    • terimakasih sudah singgah ..
      sayangnya museum di indonesia masih sekedar gudang pajangan benda kuno, baru sejumlah kecil aja yg udah bagus 🙂

  1. kotanya ada museumnya aja sudah bagus. di tempatku boro-boro ada museum, minta brosur wisata ke dinas pariwisata n olahraga aja ga punya

    • hadeh, mereka sibuk merokok n ngobrol sesama mereka

      btw,saya tersanjung dipanggil “na” .. itu panggilan dari temen dekat n sahabat, kalo temen kantor biasanya manggil “is”

      lebaran mudik k manjung mbak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s