Ketika Mimpi Menjadi Nyata

Ada banyak cara untuk bahagia. Salah satunya jika impian kita menjadi kenyataan. Mimpi saya tidaklah besar. Dufan, itulah salah satu mimpi masa kecil saya. Mimpi yang benar-benar menjadi film yang terputar dalam benak ketika tidur. Ketika akhirnya saya berhasil ‘membayar’ mimpi ini, saya justru sudah lupa pernah bermimpi seperti ini.

Saya berdiri di dalam antrian. Mengelap keringat yang bercucuran di atas kening saya. Penantian saya berbuah manis tatkala badut-badut keluar menemui pengunjung. Para petugas tiket sepertinya sedang bersiap-siap menyambut kedatangan pengunjung. Beberapa saat kemudian dengan tinta biru di tangan, saya bisa masuk ke Dufan.


badut; musik ala 60-an

Kawasan Jakarta
Kawasan Jakarta, begitulah disebutnya. Menampilkan sejumlah bangunan kuno di Jakarta. Belum ada wahana permainan disini.

Kawasan Amerika
Petualangan akan segera dimulai. Tepatnya di kawasan benua Indian. Masuk dan tersesat di rumah serupa labirin dari cermin, kehilangan gravitasi di rumah miring lalu menyusuri sungai Amazon hingga terjun di air terjun Niagara-gara.

Kawasan Indonesia
Tornado, begitu wahana ini disebut. Membawa saya terbang tinggi sekaligus memutar-mutar saya bak angin tornado. Berani mencobanya?

Kawasan Eropa
Kicir-kicir, meski tidak seekstrim tornado cukup membuat perut serasa dikocok-kocok. Di dekatnya ada panggung maksima, sayang sedang tidak ada pertunjukan saat itu.

Kawasan Asia
Saya naik mobil senggol dan naik kora-kora. Tidak mencoba bianglala? Ah…itu mainan buat anak kecil, nanti saja. Sampai akhirnya hingga Dufan mau tutup saya belum mencoba bianglala. 😉

Kawasan selanjutnya, kawasan yang paling saya sukai. Merasakan serunya berarung jeram, naik kereta secepat halilintar, jatuh dari ketinggian, terombang-ambing di kursi terbang dan merasakan sensasi petualangan masuk ke dalam perut bumi.

Istana boneka, hm…saya jatuh cinta dengan permainan ini. Santai sejenak dan sejenak mengistirahatkan adrenalin. Mendengar aneka irama musik etnik sekaligus melihat indahnya beraneka ragam dari seluruh penjuru dunia.

 


Saya pikir semua keriaan ini akan segera berakhir. Tuhan sedang berbaik hati kepada saya. Kebetulan akan ada pertunjukan musik secara langsung, ditayangkan di tv nasional pula. Saya sebenarnya tidak terlalu mengidolakan mereka. Namun, apa salahnya melihat sebentar. Saya berharap wajah saya terpapar kamera dan ada yang mengenali wajah saya di layar tv. 😀 Dan menurut kawan saya, dia memang melihat saya beberapa saat karena saya berdiri dekat panggung.

Saat gladi bersih …
 

rundown

syuting sedang berlangsung …

artis juga manusia? Oh no!

Tidak ada pesta yang tak berakhir. Banyak orang yang bilang begitu. Saya benci ungkapan itu. Namun, bukankah saya bisa datang ke pesta lagi?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s