Jalan-jalan ke Bogor

Kereta ekonomi Jakarta-Bogor baru saja berhenti. Saya sabar menunggu giliran bersama para penumpang yang berebut turun dari. Ah, akhirnya sampai juga saya di Kota Hujan. Syukurlah cuaca cerah dan semoga tidak hujan.


Indra di stasiun Bogor

Keluar dari stasiun Bogor yang kuno tapi indah, saya buka peta. Indra kawan saya minta difoto di depan stasiun. Saya pikir menuju kebun raya dari stasiun cukup dekat. Akhirnya kami putuskan berjalan kaki.

angkot bogor

Taman Topi menjadi persinggahan pertama kami. Di taman ini banyak bangunan berbentuk piring terbang atau disebut topi oleh warga Bogor. Salah satu bangunan dipakai sebagai pusat informasi wisata Bogor. Kesana kami minta brosur, peta dan bertanya-tanya.


Plaza Kapten Muslihat (Taman Topi)

Dari taman Topi kami lanjut berjalan kaki ke arah kebun raya Bogor. Peta yang saya bawa rupanya kurang akurat. Jarak dari stasiun ke kebun raya rupanya cukup jauh. Namun, kami melewati berbagai bangunan tua saksi sejarah peradaban kolonial di kota hujan ini, termasuk salah satunya Istana Bogor. Sehingga tidak terlalu menghiraukan rasa capek ini.


Hotel Salak The Heritage, dibangun tahun 1856

Balaikota Bogor, dulunya bernama Sociteit

Istana Bogor dibangun sebagai istana peristirahatan pada tahun 1745 pada masa gubernur jenderal Baron Gustaf Willem van Imhof dengan nama Buitenzorg Paleis yang bermakna ‘istana bebas masalah’. Arsitekturnya meniru bangunan istana Blenheim di Oxford di Inggris. Bentuk bangunan yang ada sekarang merupakan hasil renovasi pada tahun 1834. Pada masa pemerintahan Daendels didatangkan enam pasang rusa tutul ke istana. Sekarang rusa-rusa itu telah beranak pinak menjadi enam ratus ekor!

Karena istana tidak dibuka untuk umum, kami hanya bisa melihat-lihat dari luar pagar. Rusa-rusa istana tampak jinak, salah satu rusa berlari mendekati kami.

 Setelah berjalan lebih dari satu kilometer, kami sampai di pintu utama. Tiket masuknya Rp 9.500,- per orang. Kami juga diberi brosur dan peta karena kebun ini luasnya mencapai delapan puluh hektar.


pintu masuk utama


tata tertib pengunjung

Kebun Raya Bogor (KRB) berdiri di lahan bekas hutan buatan peninggalan kerajaan Pajajaran pada abad kelima belas. KRB diresmikan pada tahun 1817 oleh gubernur jenderal  van der Capellen.

Tidak jauh dari pintu masuk terdapat monumen yang dibangun untuk mengenang istri Thomas Stamford Raffles yang bernama Olivia Raffles. Olivia meninggal pada tahun 1814 di Bogor karena malaria lalu dimakamkan di pemakaman Kebon Jahe Kober (sekarang museum taman prasasti).


Monumen Lady Raffles

Dari Museum Zoologi, kami bergerak ke taman bunga bangkai. Bibitnya diambil langsung dari Muara Imat, Kerinci. Sayang si bunga raksasa ini sedang tidak mekar. Tanaman-tanaman di kebun raya dikelompokkan menurut jenis dan sukunya. Setelah melewati kelompok tanaman rotan, kami menuju taman Teijsman. Berupa taman bunga yang sangat indah. Dibangun menurut nama salah satu pendiri kebun raya.


pohon bunga bangkai; taman Teijsman 

Taman ini tersambung dengan taman Reindwart. Juga merupakan salah satu pendiri kebun raya. Disini dibangun monumen Reindwart. Dari tempat ini tampak pemandangan bangunan utama Istana Bogor. Dibatasi sebuah danau buatan dengan kebun raya.

Di depan istana tampak sebuah patung manusia berdiri di atas sebuah tangan, dikenal dengan nama patung Tangan Tuhan.

Memutari danau di depan istana, kami tiba di patung lembu nandi dan sebuah prasasti. Ditemukan di Ciapus sebelum akhirnya dipindahkan ke dalam kompleks kebun raya.


pohon raksasa

Selanjutnya kami melihat taman bambu, pandan dan taman kaktus. Suasana taman kaktus sengaja dibuat menyerupai taman di negara Meksiko. Saya sempat tertawa melihat nama Indra di salah satu ruas batang kaktus.


taman pandan, Indra dan taman kaktus

Di dekat taman kaktus terdapat taman tanaman air. Terdapat beberapa kolam.

Selain itu di dalam KRB terdapat koleksi anggrek, paku-pakuan, bambu, tanaman buah dan lain-lain. Total mencapai hampir seribu tanaman. Beberapa tanaman telah berusia ratusan tahun. Sebagian tanaman juga mengandung racun.


pohon tua dan pohon beracun

Dari atas jembatan gantung, tampak jelas bahwa air sungai Ciliwung dari Bogor ini masih tampak jernih airnya.

Bersantai di tengah rimbunnya pepohonan, menghirup segarnya udara pegunungan, mengapa tidak ke Bogor saja ?



bunga teratai raksasa

Kebun Raya Bogor
Buka : setiap hari, jam 8.00 – 17.00
Tiket : Rp 9.500,-
Mobil : Rp 15.000,-
Motor : Rp 3.000,-
Taman Anggrek : Rp 1000,-

Iklan

14 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s