Kepo : Artis Masuk Bangko

Sudah seminggu ini saya tiba-tiba menjadi orang yang kepo. Apa itu kepo? Ah… tanya aja deh pada rumpuik nan bagoyang mbah Google 😀 . Penyebabnya tak lain karena Bangko, kota kecil di tepi jalan lintas Sumatera yang jarang masuk berita mendadak ramai didatangi artis. Salah satunya Prisia Nasution!

https://i2.wp.com/data.tribunnews.com/foto/bank/images/Prisia-Wulandari-Nasution2.jpg
Prisia (Pia) Nasution, foto dipinjam dari sini.

Dari Thomas dan Ayu kawan saya yang pecinta alam, kabarnya bakalan ada syuting film bioskop di Bangko. Tidak tanggung-tanggung, sineas sekelas Riri Riza dan Mira Lesmana yang bikin filmnya. Mereka akan mengangkat kisah Butet Manurung yang menjadi guru bagi komunitas terasing suku Anak Dalam di pedalaman rimba Taman Nasional Bukit Dua Belas. Dan Prisia Nasution atau Pia akan menjadi pemeran utama di film tersebut. Apakah dia yang akan jadi Butet apa bukan hm, nggak tahu lah ya 😀 . Tonton aja entar kalo udah jadi hehe.

Kabar kabur syuting ini menjadi kian jelas saat Ayu mendapat kabar dari Pengendum, salah satu warga Anak Dalam kalau rombongan kru film serta Pia sudah tiba di Bangko sore ini. Mereka menginap di hotel P. Tidak jauh dari kantor tempat saya kerja.

Maka, saya segera “diculik” Ayu dan Thomas buat menemani mereka ke hotel. Tiba di depan hotel suasana tampak lengang. Beberapa saat kemudian keluar dari dalam hotel seorang lelaki berkulit gelap dan rambut agak gondrong naik motor. Ayu segera memanggil orang itu. Rupanya dia bang Pengendum.

Bang Pengendum baru saja mengantar Pia ke masuk ke hotel. Baru kali ini saya melihat suku Anak Dalam secara langsung. Rupanya tidak semuanya hidup primitif di hutan. Buktinya ada yang sudah mengenal kehidupan modern seperti Pengendum ini. Dia aja ngobrol sama kami sambil mainian hp. Belum lama kami ngobrol datang seorang laki-laki lagi, kali ini penampilannya rapi jali tapi tutur katanya lemah gemulai, ups. 😀 Sebut saja namanya mas Yudha. Dia salah satu kru film yang bertugas di bagian kostum. Mas Yudha sedang kebingungan mencari sendal gunung untuk Pia. Melihat Ayu memakai sendal yang dimaksud, dia minta ijin Ayu untuk pinjam sendal Ayu untuk keperluan syuting. Biarpun begitu, syuting di Bangko baru akan dimulai minggu depan.

http://hermanbarry.files.wordpress.com/2013/01/fotoslide1.jpg
Suku Anak Dalam, foto dipinjam dari sini.

Sebenarnya kami ingin foto-foto bareng Pia. Sayang kata mas Yudha si Pia lagi bobo’ cantik 🙂 Katanya capek karena segera setelah launching film Jokowi, Pia langsung terbang ke Jambi. Di lobi hotel hanya ada beberapa kru film. Sebelum pulang, Thomas nitip buku ke mas Yudha buat ditandatangani Pia. 

Keesokan harinya Ayu datang sendirian ke hotel buat nganter sendal sambil ngambil bukunya Thomas. Sementara saya sibuk kerja. Thomas juga nggak bisa nemanin Ayu karena ada kesibukan. Kata Ayu awalnya dia nggak berani buat ngobrol satu meja sama Pia. Soalnya Pia lagi asyik main kartu dengan anak-anak Rimba. Ayu baru berani minta foto saat Pia mau masuk kamar. Itupun harus mas Yudha yang bilang ke Pia hahaha 😀

Saya cukup kaget sewaktu disms Ayu kalo sang artis ini ngobrol sama anak-anak Rimba sambil merokok. Entah untuk menjiwai peran atau memang bagian dari gaya hidupnya. Saya nggak mau berburuk sangka. Tapi…bukan cuma Ayu aja yang ilfeel, saya juga. Buat saya nilai keanggunan perempuan turun kalo ada perempuan merokok. Maaf ya, ini hanya opini saya  loh. Hm..ingat kan dulu ada kasus heboh karena tersebarnya foto artis cewek lagi merokok?

 
Pia dan Ayu 😀 

Hari Syuting

Jam setengah  tujuh pagi. Saya masih bergulung di dalam selimut. Padahal alarm di ponsel saya sudah berkali-kali berdering. 

Sebuah ketukan dan panggilan di luar membangunkan saya. Thomas rupanya. Dia menyuruh saya siap-siap soalnya pagi ini syuting film sedang berlangsung di jembatan layang depan pasar. Hah..itu kan selemparan kolor dari kantor saya!

Nyawa saya belum “balik” sepenuhnya. Tanpa ba bi bu, bahkan tanpa cuci muka segera saya nebeng Thomas ke pasar naik motor. Saya hanya bawa kamera. Siapa tahu nanti sempat foto-foto sama Pia 😉 Hahaha.

Sampai jembatan layang, kru film sudah stand by, masang kamera dan mungkin mengambil beberapa gambar dari atas jembatan. Sementara saya dan Thomas mengambil posisi di kedai nasi gemuk (nasi uduk) di bawah kaki jembatan. Ketika saya lihat di deretan kru, mata saya menangkap sosok wajah yang selama ini hanya bisa saya lihat di tv. Yups..ada Riri Riza dan Mira Lesmana!  

Sambil sarapan nasi gemuk, kami ngeliatin aja mereka di jembatan layang. Di sisi lain, beberapa polisi tampak merazia pengendara motor mengatur lalu lintas. Asal tau aja ya, di Bangko naik motor pakai satu helm dianggap lumrah 😀


razia polisi

Dari jembatan, para kru yang jumlahnya belasan pindah ke deretan toko di samping tempat kami makan. Tau-tau datang Pia dan anak-anak Rimba di meja dekat kami makan. Dia masih menenteng sebatang rokok. Kaget campur seneng dong saya 😀 Pia sudah dimake up kusam, pakai baju gombrong, celana trekking dan sandal gunung. Rupanya mereka salah tempat. Buru-buru mereka pindah ke kedai es campur tempat syuting yang sebenarnya. Haduh..saat lewat mata ini cuma bisa melototin memandang Pia, tanpa sempat meminta foto bareng Pia. Lupa! Padahal Pia tadi dekat banget dengan saya. *speechless*ndeso*

Nggak lama, lewat rombongan kru film di depan saya. Begitu Mira Lesmana dan Riri lewat, nggak tau gimana spontan aja saya berdiri, menyapa mereka dan bersalaman. Sempat saya ucapkan ke Mira kalau saya fans Laskar Pelangi hehehe. Mbak Mira tersenyum sambil mengucapkan terimakasih. Tapi Riri hanya bengong aja haha.

Segera saya bungkus nasi gemuk saya untuk dimakan di kantor. Acara syuting di pasar pagi itu menyita perhatian para pengunjung dan pedagang pasar. Semuanya mendekati lokasi karena penasaran melihat proses syuting dari dekat.

Saya hanya sempat melihat pengambilan dua adegan pagi itu. Yaitu saat Pia lagi ngobrol dengan kawannya di kedai es campur. Sementara di luar tampak para figuran yang berperan sebagai pengunjung pasar dan warga berjalan di depan kedai. Sebuah motor Honda lama dipakai untuk menunjang setting film yaitu pada tahun 1999-2000an. Adegan yang nampak sepele itu aja banyak banget diulang-ulangnya.


motor jadul

Hanya beberapa saat saya di lokasi. Sebentar lagi saya harus masuk kantor. Padahal saya belum mandi dan siap-siap!


lokasi syuting


Riri lagi ngasih pengarahan ke Pia

Iklan

5 comments

  1. Hwaaaah 😀
    Sejak liat dia di Sang Penari, aku langsung suka sama Pia. Padahal nih orang dulunya ‘cuma’ host acara remaja yang alay pula hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s