Bukit Tiung : Kebun Binatang Mini

Lokasinya sangat strategis di pusat kota Bangko. Terletak di persimpangan jalan protokol Bangko ke arah Kerinci. Namanya taman wisata atau mungkin taman burung Bukit Tiung. Namun kata kang Yadi yang sudah pernah masuk kesana, di dalam taman isinya hanya ayam dan burung. Penasaran, saya mengajak Thomas datang kesana. Tidak masalah jika nanti saya kecewa seperti saat ke Arboretum, yang jelas saya masih belum kapok jalan-jalan keliling Bangko πŸ˜€ .

Datang sekitar jam delapan pagi, kami menjadi pengunjung pertama saat itu. Mbak-mbak penjaga loket baru saja membuka pintu gerbang taman. Saya dan Thomas masing-masing harus membayar tiket masuk seharga Rp 6.000,- dan parkir motor Rp 3.000,- mahaal -_-

Masuk ke dalam susasana masih sangat lengang. Menyusuri jalan setapak yang cukup bersih. Di bawah kami adalah jalan raya Bangko-Kerinci.

Monyet berbulu hitam menjadi atraksi pertama saya. Seekor monyet hitam nyaris merebut kamera saya ketika saya akan memotretnya. Monyet sombong lantas berjingkrak-jingkrak menunjukkan pantatnya ketika saya panggil. Huhh, gemas melihatnya 😦


monyet dan kandang kosong

Dari atas bukit juga nampak pemandangan sungai Batang Merangin dan jembatan gantung yang menuju arah Pasar Bawah. πŸ™‚ Di sisi yang lain tampak jam gento dan Pasar Bawah.


sungai batang Merangin, jam Gento

Puncak bukit Tiung yang tidak terlalu luas juga menjadi rumah buat sekelompk hewan-hewan yang jarang saya jumpai. Tidak hanya burung, binatang buas seperti beruang dan landak juga bisa dilihat disini. Hm..nama kebun binatang mini mungkin lebih pas ditujukan kepada Bukit Tiung.


kura-kura, burung nuri, ayam mahkota

Di salah satu sisi terdapat kandang burung berukuran besar. Sementara di sudut bukit terdapat beruang. Beberapa saat kemudian, datang rombongan anak-anak TK dari Pamenang. Mereka antusias sekali menyaksikan aneka binatang disini.


kandang burung, landak, burung rangkok


beruang dan dua spesies monyet

Selain mengamati tingkah polah aneka satwa, di puncak bukit ini juga terdapat pepohonan yang cukup rindang, taman bermain anak dan lahan yang cukup untuk bersantai. Meskipun, jumlah satwa yang ada disini tergolong masih bisa dihitung. πŸ™‚ Saking sedikitnya, keliling bukit ini lima belas menit sudah kembali ke tempat semula hehehe.


wahana bermain anak πŸ™‚


jembatan layang; pengunjung bisa masuk lewat jembatan ini πŸ™‚


lukisan mural


tugu pahlawan, sayang kondisinya tidak terawat

Dari bukit Tiung, Thomas membawa saya ke Pasar Bawah. Tepatnya ke tepian sungai Batang Mesumai di kawasan Kampung Baru. Air sungai yang apik berwarna cokelat kekuningan sebenarnya merupakan bentuk perusakan lingkungan. Masyarakat sekitar menambang emas secara ilegal! Perahu-perahu ini dipakai untuk mendulang pasir untuk mendapatkan emas. 😦

Β Β 

Terakhir, saya mengajak Thomas ke simpang desa Pulau Rengas. Sebelum sampai Pulau Rengas, saya singgah di simpang desa Kungkai karena melihat ada sebuah monumen disana. Rupanya hanya hanya sebuah tugu AMD (ABRI Masuk Desa)

Dari Bangko ke Pulau Rengas sekitar lima belas menit. Desa ini merupakan pintu masuk menuju daerah Jangkat, daerah berhawa dingin di kaki gunung Masurai.

Tepat di simpang Pulau Rengas dibangun sebuah tugu untuk mengenang perjuangan masyarakat Jangkat mempertahankan kemerdekaan.
Di belakang tugu ini dipahat daftar tujuan wisata di Jangkat dan Muara Siau :

  • Gunung Masurai
  • Gunung Hulu Nilo
  • Danau Pauh
  • Danau Depati Empat
  • Air Terjun Sigerincing
  • Air Panas Graw
  • Batu Larung Desa Tuo
  • Pesanggrahan Desa Tuo
  • Batu Hampar Rantau Jering
  • Rumah Adat Muara Manderas
  • Masjid Kuno Muara Manderas
  • Daerah Basis Gerilya Perjuangan RI Terakhir hingga Penyerahan Kedaulatan Tahun 1949

Ingin sekali bisa main kesana. Semoga saya bisa main ke Jangkat suatu saat nanti, amin πŸ™‚


tugu simpang Pulau Rengas

Balik dari Pulau Rengas, saya singgah di Ujung Tanjung. Disini ada bukit bertuliskan ‘Bukit Keramat Nisan Pecah Tigo”. Rupanya di atas sini memang ada tiga makam kuno. Di antaranya atas nama Pangeran Tumenggung Mangkunegoro 2Β  dan Raden Talip. Hmm.. sekilas seperti nama bangsawan Jawa. Makam Tumenggung Mangkunegoro 2 dililit pohon beringin. Thomas yang saya tanyai tidak mengetahui asal-usul makam ini.


makam Pangeran Tumenggung Mangkunegoro 2Β  dan Raden Talip, batu nisannya bercorak Islam

Masih terngiang-ngiang siapa pemilik makam tersebut, saya beranjak ke kantor dinas pariwisata Merangin yang terletak tepat di bawah makam. Dulunya merupakan kantor residen Bangko, sekarang gedung ini direnovasi total untuk dinparsenibud kabupaten Merangin.

Di halaman kantor dibangun replika prasasti Karang Berahi dan replika batu megalitik Dusun Tuo.


replika prasasti Karang Berahi

Batu megalitik atau sering disebut batu larung Dusun Tuo aslinya ditemukan di Muara Siau pada tahun 1938. Menurut penelitian dipakai sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang pada zaman prasejarah.


replika megalitik Dusun Tuo

Iklan

8 comments

  1. Baca ini bikin pengen blusukan lagiiii. AAAAAAAAA kangen petualangan dan rasa yang terpancar saat blusukan gini.
    Btw itu sungainya warnanya seperti hampir kuning ya? Bukan cokelat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s