Matra Mantra : Roh Budaya Nusantara

Mantra sering diartikan sebagai ucapan, doa-doa yang dilantunkan untuk memohon sesuatu. Mantra yang biasanya berupa benda tidak nyata yang keluar dari mulut divisualisasikan dalam bentuk seni rupa, gerak dan lagu pekan lalu di Jambi. Disini mantra menjadi benda yang tak hanya bisa didengar. Namun, bisa dilihat, diraba bahkan dinikmati sebagai sebuah pertunjukan seni.

Kekuatan Mantera dalam Perspektif Kebudayaan Indonesia, demikian tema itu dipilih. Tema ini diambil sebagai benang merah rangkaian kegiatan yang bertajuk Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia. Sebuah kegiatan tahunan yang mempertemukan pegiat seni dan budaya dari seluruh Nusantara. Tahun ini acara ini berlokasi di Taman Budaya Jambi sebagai tuan rumahnya. Membuat saya dan kawan-kawan yang haus pertunjukan seni rela menempuh enam jam perjalanan dari Bangko ke Jambi.

Sebuah karya seni instalasi dari bambu menjadi titik perhatian pertama yang mengundang rasa penasaran setiap pengunjung Mirip penjor, hanya saja terbuat dari bambu. Masuk ke dalam suasana telah riuh oleh pengunjung. Saya memilih untuk melihat-lihat pameran seni instalasi terlebih dahulu. Sayang hampir semua tidak diberi keterangan.


menjaga benih dalam rahim hingga turun tanah

Selanjutnya saya bergeser ke sebelah kanan, di bawah tenda. Tepat diletakkannya lukisan dari kanvas sepanjang seratus meter yang dibuat oleh puluhan pelukis dari berbagai daerah secara massal selama dua jam. Dalam waktu yang singkat, tidak heran jika lukisan yang dibuat tampak tidak terlalu rapi dan terkesan dibuat secara tergesa-gesa.


Sambil menunggu pertunjukan seni budaya yang baru dimulai satu jam lagi, saya dan kawan-kawan memilih untuk melihat pameran lukisan terlebih dulu di gedung serbaguna. Tema yang diangkat masih berkaitan dengan mantra yaitu matra mantra.

Setiap perwakilan daerah menampilkan kekayaan daerahnya masing-masing. Ada yang berupa lukisan realisme, dekoratif, ekspresionsisme hingga abstrak. Beberapa daerah mencoba untuk keluar dari tema mantra. Mencoba lebih melukis sesuatu yang terjadi dalam hidup sehari-hari atau menyuarakan kritik sosial masyarakat.

Di dekat pintu keluar, saya melihat video seni tradisi di Kerinci. Saya duduk termangu. Sekian lama tinggal di Jambi khususnya di Kerinci, baru sekali ini saya melihat tarian dan prosesi adat Kerinci secara penuh.

Keluar dari gedung pameran, saya masih terngiang-ngiang dengan video barusan. Tidak usah dijelaskan lagi. Kerinci buat saya hard to reach very hard to forget.

Kami lalu duduk di deretan kursi yang disediakan di depan panggung utama. Jadwal siang ini adalah pertunjukan kesenian dari berbagai komunitas budaya yang ada di kota Jambi. Hampir setengah jam menunggu pertunjukan belum juga dimulai.

Bunyi genderang dan simbal bertalu-talu. Tiga ekor singa berwujud barongsay menari-nari meliuk-liukkan badannya. Beraksi melompati tiang-tiang dari besi. Tingkahnya yang kadang genit memicu tawa penonton.


barongsay dan fotografer cilik

Penampilan kedua diusung oleh para mahasiswa asal Sulawesi Selatan di Universitas Jambi. Mereka membawakan tarian silat khas Bugis yang disebut kantau. Seorang pesilat pria beradu jurus dengan pesilat wanita. Mereka dikepung oleh deretan gadis memakai baju bodo khas Bugis. Rupanya tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Seakan menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan berada dalam taraf yang setara 🙂


pesilat dengan celana jins 😉

Berikutnya ada penampilan dari keluarga besar warga Tapanuli Selatan di kota Jambi. Seperangkat alat musik mirip beduk berjumlah sembilan buah diusung ke atas panggung. Namanya Gordang Sambilan.

Alat musik ini dipukul oleh lima orang pemain. Sebagai instrumen melodinya dipakai sebuah seruling. Mereka memainkan dua buah lagu daerah Mandailing dan dua buah tarian yang bernama tor-tor raja-raja dan tor-tor naposo nauli bulung.

Tor-tor raja-raja diperankankan oleh lima sesepuh paguyuban. Di belakang mereka ada lima orang penari. Total ada sepuluh penari. Saya pernah menari tor-tor di kampus. Dibandingkan dengan tor-tor Tapanuli Utara yang berirama dinamis, tor tor Tapanuli Selatan lebih pelan, syahdu dan khidmat.

Tor-tor selanjutnya adalah naposo nauli bulung. Biasa ditarikan dalam pernikahan adat Mandailing. Sepasang penari berpakaian pengantin Mandailing menari di tengah-tengah. Di sekelilingnya ada pemuda-pemudi yang juga menari berpasang-pasangan. Hati saya berdesir dan tiba-tina terharu bahagia. Pikiran saya melayang jauh, teringat memori jaman masih aktif di Ikatan Mahasiswa Muslim Sumatera Utara di kampus dulu 🙂


tor-tor raja-raja dan tor-tor naposo nauli bulung

Penampilan sore itu ditutup dengan kesenian marawis dari kecamatan Pelayangan kota Jambi. Musik gambus bernuansa Arab ini dulu hanya bisa saya saksikan di layar TVRI setiap malamnya.

Malamnya saya datang terlambat. Tiba di lokasi acara, kerumunan sudah menyemut di dekat panggung utama. Untung saya berhasil mendesak masuk dan melihat pertunjukan dengan jarak sangat dekat.

Tim dari taman budaya Sulawesi Utara sedang unjuk gigi. Mereka menampilkan teater dan tari. Pertunjukan sudah berlangsung separuh jalan. Saya kurang menangkap maksud pertunjukan ini. Namun, digunakannya atribut bendera Merah Putih mereka seperti ingin menegaskan kembali hakikat persatuan dan pentingnya toleransi di negeri ini.

Pertunjukan dari provinsi Jambi menjadi penutup. Sang tuan rumah menampilkan teater bertajuk jungbajo. Jungbajo adalah sebagai pembungkus bunga manggar pada pucuk kelapa. Jungbajo sendiri ditafsirkan sebagai simbolisasi bayi dalam rahim ibu. Para penari membawa bunga manggar yang tertutup pelepah. Pada akhir pertunjukan pelepah ini dipecah hingga tampaklah bungga manggar. Seketika para penari ini jatuh ke lantai. Saya tidak terlalu menangkap pesan dibalik aksi ini. Namun, seketika tepuk tangan bergemuruh memenuhi malam kota Jambi.


jungbajo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s