Nasionalisme ala Abunjani

Sudah beberapa kali ke kota Jambi ini kali kedua saya berkunjung ke masjid Al Falah. Masjid yang berdiri di bekas istana kesultanan Melayu Jambi ini sebenarnya ‘hanya’ memiliki 232 tiang. Terdiri dari 40 tiang utama dan 192 tiang tambahan yang bercabang menjadi lima tiang kecil. Jadi perhitungan matematikanya 40 + (192 x 5) = 1000 tiang.


dinding dan mihrab masjid

Keunikan masjid yang lain adalah masjid ini nyaris tidak mempunyai dinding. Dinding hanya ada di bagian mihrab tempat imam memimpin sholat. Selain itu masjid ini dikelilingi kolam ikan sekaligus sebagai bagian dari sistem pendingin ruangan.


kolam di sekeliling masjid; lampu gantung

Tidak berapa, belum habis saya keliling masjid datang Fadli. Dia kawan bang Lukman dari Kuningan yang lagi ada tugas di Jambi. Menyusul berikutnya Ayu dan mbak Fenni. 

Trip pertama kami yaitu ke museum perjuangan Jambi. Saya kesana jalan kaki sekitar 100 meter sedang Ayu dan mbak Fenni naik motor. Sayang museum belum buka. Candi Solok Sipin menjadi tujuan kami selanjutnya. Kembali saya dan Fadli berjalan kaki sekitar sepuluh menit. Candi ini berupa pondasi batu bata yang diperkirakan peninggalan kerajaan Melayu Kuno di Jambi. Pemugaran tidak bisa dilakukan karena lahan candi sudah diduduki warga 😦

https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/537986_3757396952839_353476022_n.jpg

Sesuai kesepakatan awal, selanjutnya kami menuju rumah kolonel Abunjani, seorang pahlawan Jambi. Rumahnya berada di kawasan Telanaipura. Saya dan Fadli naik angkot warna biru sedang Ayu dan mbak Fenni menyusul di belakang naik motor.

Sekilas Kolonel Abunjani
Kolonel Abunjani lahir di Batang Asai, kabupaten Sarolangun-Bangko (sekarang dipecah menjadi kabupaten Sarolangun dan Merangin) pada tanggal 24 Oktober 1918. Ayahnya adalah seorang demang atau setingkat camat yang mempunyai kedudukan terpandang.


Kolonel Abunjani, foto dari sini

Karena kedudukan ayahnya, Abunjani kecil berkesempatan untuk mencicipi bangku sekolah Belanda. Setelah lulus pendidikan dasar di kota Jambi, Abunjani pindah ke Bandung untuk melanjutkan sekolah menengah disana. Setelah lulus sekolah setingkat SMA tahun 1934, Abunjani merantau ke Singapura masuk ke akademi militer selama setahun. Sekolah militernya diteruskan di sebuah akademi militer bentukan Jepang di Pagaralam, Sumsel. Abunjani kemudian lulus dengan pangkat Letnan Dua.

Karir militer Abunjani dimulai pasca kemerdekaan. Pada 22 Agustus 1945 Abunjani merintis terbentuknya  Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang merupakan bagian dari BKR (Badan Keamanan Rakyat). BKR nantinya menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selanjutnya Abunjani diangkat sebagai komandan BKR daerah Jambi dengan jabatan Kolonel. Hingga tahun 1949, jabatan Kolonel Abunjani adalah komandan Kodam Garuda Putih Jambi. Karena ada restrukturisasi organisasi, pangkatnya diturunkan menjdi Letnan Kolonel dengan jabatan Wakil Gubernur Militer Jambi. Setahun kemudian Abunjani mundur dari jabatannya.

Alasan Abunjani mengundurkan diri adalah ingin beralih profesi menjadi seorang pengusaha. Meski menurut hemat saya ini merupakan bentuk kekecewaan terhadap kebijakan di lingkungan beliau bekerja bekerja.

Rumah Abunjani
Nama besar Abunjani dijadikan nama jalan di kota Jambi dan beberapa kota lain. Di Bangko, namanya dijadikan nama rumah sakit umum karena beliau memang lahir di Batang Asai yang dulu merupakan bagian kabupaten Sarolangun-Bangko.

Saya baca di blog bang Lukman, rupanya rumah Kolonel Abundjani masih bisa dilihat hingga sekarang. Rumah itu sekarang dihuni oleh anak-anak sang kolonel. Letaknya sangat dekat dengan pusat pemerintahan provinsi Jambi. hanya beberapa langkah dari kantor pajak baru Jambi. Persis di belakang kantor pusat Bank Jambi.

Rumah itu sangat besar. Dari jauh tampak dikelilingi oleh pepohonan tinggi dan semak yang tidak terawat. Membuat kami agak segan untuk masuk. Terlebih sepertinya tidak ada siapa-siapa di dalam rumah. Kami lalu berjalan ke samping kiri rumah. Ada seorang nenek di dalam rumah. Kepadanya kami meminta ijin untuk masuk. Rupanya kami sedang tidak beruntung. Sang nenek tidak memperbolehkan kami masuk karena katanya pemilik rumah sedang tidak di tempat. Namun, kami diijinkan untuk berkeliling rumah.

Foto

Meski kecewa, kami bisa memaklumi perkataan sang nenek. Dari jendela berteralis yang berhias penari piring, kami bisa melihat isi dalamnya. Tampak di ruang tamu masih tergolek perlengkapan mebel kuno. Di sebuah bufet saya lihat foto Abunjani. Di dinding ada hiasan berupa lukisan berwujud relief deretan perempuan mengenakan pakaian daerah.

FotoFoto 

Di rumah  ini Abunjani menumpahkan hasrat seni dan kecintaannya pada Indonesia. Dibuatnya sebuah rumah megah dengan kolam renang berbentuk angka 8, terdiri dari 17 kamar dan dihiasi 45 relief lukisan. Semuanya merepresentasikan angka keramat kemerdekaan Indonesia. Kebetulan anak Abunjani juga berjumlah delapan orang.

Setelah pensiun dari militer, Abunjani serius terjun di dunia bisnis. Beliau menjadi pemasok mobil mewah di wilayah Asia Tenggara. Sebuah mobil sedan kuno merk Plymouth menjadi buktinya. Sedan mewah itu dulu di Indonesia hanya dimiliki oleh tiga orang saja. Menurut cerita bang Lukman dari salah satu anak Abunjani, rumah ini dibangun antara tahun 1962-1964 dengan mendatangkan pekerja bangunan terbaik dari Jawa. Rumah ini juga dilengkapi dengan ruangan bawah tanah, landasan helikopter di atap rumah. Bukti kejayaan bisnis Abunjani.

Setelah keliling rumah, saya mengajak yang lain menuruni tangga di depan rumah. Terdapat taman yang kurang terawat. Di ujung tangga saya menemukan rumah kecil yang di dalamnya terdapat semacam tangga ke bawah. Mungkin dulunya dipakai sebagai jalan ke ruangan bawah tanah. Kondisinya juga tidak terawat penuh sampah.

FotoFoto
tangga di depan rumah; tangga ke ruangan bawah tanah?

Karena banyak nyamuk, kami kembali ke teras rumah. Saat kami sedang duduk, keluar dari garasi sebuah mobil plat merah. Seorang ibu dari dalam mobil menyapa kami. Rupanya ibu ini salah satu keturunan Abunjani. Kepada kami ibu ini mengatakan jika ingin berkunjung ke rumah bisa membuat janji terlebih dahulu. Dia lalu berlalu dengan mobilnya karena katanya mau ada urusan keluar. Kami maklum.

Sangat disayangkan rumah penuh nilai sejarah dan seni ini luput dari perhatian pemerintah. Kabarnya pernah ada perusahaan swasta yang berminat dengan rumah ini untuk dijadikan tempat usaha. Sayang sekali jika rumah ini akhirnya dibongkar demi nafsu komersil.

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s