Kisah Sriwijaya di Karang Berahi

“… yang melakukan pemberontakan, bertemu tanding melawan tandrun luah (raja sungai), matilah dia oleh tandrun luah, dibunuhlah si pemberontak itu. Jangan terjadi lagi pemberontakan si Kayet. Itu sudah tenang (padam). Haturkan baktimu kepadaku. Itu sudah (menjadikan) tenang. (Hai) kamu semua para dewa yang berkuasa dan hadir (disini), yang menjaga kedatuan Sriwijaya …”

Saya terpaku menatap baris demi baris terjemahan prasasti Karang Berahi yang dipajang di samping batu prasasti. Tidak peduli dengan tata bahasa jaman dulu yang aneh, saya lanjutkan membaca sampai akhir. Sedangkan Thomas kawan saya mengamati batu prasasti dengan seksama. Disitu disebutkan ancaman hukuman bagi siapa saja yang berbuat jahat seperti membuat onar, membuat orang sakit dan gila dengan racun, atau memaksakan kehendak kepada orang lain. Namun, untuk setiap orang yang takhluk dan setia akan diberikan berkat, kesehatan, kesejahteraan dan bebas dari bencana untuk seluruh negeri.

eqw

Karang Berahi adalah nama sebuah desa di kecamatan Pamenang, Merangin. Terletak di tepi jalan lintas Sumatera. Desa ini satu-satunya desa di Jambi tempat ditemukannya prasasti yang menceritakan kerajaan Sriwijaya. Kabarnya prasasti ini ditemukan tahun 1727 di makam desa Tanjung Agung, sebelum namanya diubah menjadi desa Batu Bersurat. Penelitian intensif baru dilaksanakan jauh sesudahnya yaitu pada tahun 1904. Prasasti ini beraksara Sanskerta dan berbahasa Melayu Kuno. Menurut penelitian dibuat sekitar tahun 686 M pada masa pemerintahan raja Dapunta Hyang.

Tidak sulit menuju situs Karang Berahi. Dari jalan lintas terdapat papan petunjuk yang cukup jelas. Kami lempeng saja mengikuti jalan hingga akhirnya sampai di persimpangan dimana dibawahnya mengalir sungai Batang Merangin. Rupanya kami harus memutar dan belok kanan di lorong kecil tidak jauh dari masjid Al Muttaqin. Perut saya tidak bisa diajak kompromi, rasa mulas membuat saya harus singgah dulu mencari kamar kecil di masjid.

Dari jalan setapak kami harus melewati jembatan gantung di atas sungai Batang Merangin. Saya turun dari motor. Jembatan beralas kayu ini bergoyang seiring langkah berjalan saya. Tidak ada pegangan melainkan badan jembatan yang berupa tiang-tiang dari besi tua. Sedikit menguji adrenalin saya. Sambil berjalan, saya membayangkan bagaimana dulu kapal dari Sriwijaya melintasi sungai ini untuk menakhlukkan Jambi bagian barat yang awalnya dikuasai kerajaan Melayu. Menurut tembo rombongan dari Sriwijaya hanya bertahan sampai Merangin dan gagal memasuki Kerinci karena kalah perang setelah sebelumnya harus berjuang melawan ganasnya binatang buas di hutan Kerinci. Tidak heran sampai sekarang orang Kerinci sangat bangga daerah mereka tidak pernah takhluk kepada Sriwijaya, hingga akhirnya kerajaan ini hancur diserang kerajaan Cola dari India.

Di ujung jembatan kami ikuti papan petunjuk dengan nama “Batu Bertulis”. Sekali lagi kami dibuat nyasar. Rupanya jalan yang benar adalah belok kiri, bukan lurus dari jembatan. šŸ˜¦

Situs ini cukup terawat meski di kepung rumah-rumah warga. Dilengkapi dengan terjemahan bebas isi prasasti dalam bahasa Indonesia, hasil karya sejumlah mahasiswa yang KKN di desa ini.

Dari atas batu ini berbentuk lonjong. Dari samping berbentuk mirip lumpang. Dulu pertama kali ditemukan di tepi sungai Batang Merangin. Abrasi bantaran sungai Batang Merangin memicu inisiatif warga untuk memindahkannya ke tempat yang sekarang.

Sejenak di Karang Berahi, saya melihat papan nama bertuliskan Dam Tamalam. Melihat jaraknya tidak begitu jauh membuat saya penasaran ingin melihatnya.

Rupanya jarak menuju dam tidak sedekat yang saya bayangkan. Kira-kira empat ratus meter berjalan menyusuri tepian saluran irigasi baru kami sampai di Dam Tamalam. Sebelumnya kami melintasi kawasan persawahan. Sawah pertama yang saya lihat sejak pindah ke Bangko.

Dam atau danau ini tidak terlalu istimewa. Airnya tidak terlalu dalam. Pun airnya tidak terlalu jernih. Hanya saja permukaan air yang tenang menimbulkan bayangan serupa cermin raksasa bagi pepohonan di atasnya.

Di salah satu sudut dam terdapat papan sejarah danau Tamalam. Meski setelah dibaca rupanya yang dimaksud lebih tepatnya adalah ‘sejarah penamaan danau Tamalam”. Tamalam dalam bahasa Melayu Pamenang berarti bermalam. Jaman dulu, masyarakat desa sering menggunakan tepian danau sebagai tempat bermalam jika bepergian ke tempat lain.

Hanya sebentar kami duduk-duduk di gazibo di tepi danau, melintas seorang ibu pencari kayu bakar. Dari ibu ini kami diberi tahu bahwa danau tamalam ada dua. Kami segera menuju ke arah danau kedua. Danau ini ternyata lebih kecil dari danau pertama. Pun tidak lebih bagus pemandangannya. Hanya ada sepasang remaja duduk-duduk di tepi danau yang keruh. Kami perhatikan seorang pencari ikan mencari ikan disaluran irigasi hanya dengan alat snorkel sederhana.
Tidak lama di danau kedua, kami segera menuju tempat selanjutnya. Rencana awal mau ke Sarolangun. Terlalu jauh, Thomas singgah di rumah kawannya di kompleks perumahan pegawai sebuah perusahaan kelapa sawit di desa Jelatang. Tidak terlalu jauh dari jalan lintas Sumatera. Saya pikir hanya sebentar saja Thomas di tempat ini. Namun, rupanya tiga jam lebih saya bengong hingga bosaaan.

Hari sudah sore ketika kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Masuk ke kota Bangko. Thomas mengajak saya ke Arboretum Rio Alif atau akhrab disapa warga dengan sebutan ‘kolam buayo’. Kabarnya dulu disini dipelihara banyak buaya.

Tiket masuknya sangat mahal. Rp 7.000,- per orang belum ditambah parkir Rp 3.000,-. Sampai di tempat parkir dari beberapa lapak penjual makanan ringan, banyak lapak pedagang yang kosong daripada yang terisi.

Kami melewati jalan setapak yang sudah diperkeras. Tujuan pertama kami adalah air terjun. Apa yang saya lihat hanya bisa membuat saya geleng-geleng kepala. Rupanya hanya sebuah cerukan kecil dengan air yang keruh setinggi sekitar dua meter. -_-

Saya teruskan perjalanan. Di kiri dan kanan jalan banyak sekali pepohonan berbagai jenis. Sebagian diberi label nama. Ada juga buah-buahan hutan yang bentuknya seperti duku berwarna hijau. Tidak terlalu menarik perhatian saya yang kurang suka tanaman. Suasana senja yang hampir gelap, gigitan nyamuk membuat saya ingin cepat-cepat keluar dari hutan ini.Ā 

Langkah saya berhenti melihat papan petunjuk menuju arah kandang buaya. Lagi-lagi saya dibuat kecewa. Di kandang yang lebih mirip lautan sampah ini saya hanya melihat seekor anak buaya. Menurut cerita Thomas, buaya disini sudah mati beberapa tahun yang lalu. Oohh…

Harapan terakhir saya adalah kandang rusa tutul di dekat pintu keluar. Setidaknya disini masih ada satu keluarga rusa yang berjumlah empat ekor. Di hutan di seberang arboretum yang notabene di luar kompleks justru saya lihat gerombolan simpai atau monyet ekor panjang.

Saya ingin cepat-cepat pulang. Capek deh!

Iklan

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s